Tanjung Selor (ANTARA) - Tingginya curah hujan dalam beberapa hari terakhir menyebabkan Sungai Kayan meluap sehingga hari kedua Lebaran, Selasa (03/05/2022) diwarnai  tergenang sejumlah jalan dan pemukiman di Tanjung Selor Kabupaten Bulungam, Ibu Kota Provinsi Kaliman Utara.

Dilaporkan di Tanjung Selor, Selasa bahwa  meluap sungai terpanjang di Kalimantan Utara itu --640 Kilometer-- menyebabkan  beberapa kawasan yang selama ini dikenal sebagai daerah "langganan banjir" kembali tergenang baik jalan umum maupun lokasi pemukiman.

Kawasan yang terendam cukup dalam itu antara lain Jalan Semangka (sekitar belakang Mako/perum perwira Korem),  Jalan Imam Bonjol, Jalan Cik Ditiro, dan Jalan Padat Karya Tanjung Palas Hilir.

Begitu juga beberapa titik di Jalan Bupati Budiman, Jalan Datu Bandahara, termasuk di halaman Sekolah SMPN 1 Tanjung Palas.

Kondisi  serupa terlihat di jalan samping Masjid Raya Istiqomah Tanjung Selor. Demikian juga jalan di depan masjid, yakni Jalan Kolenel Sutadji terlihat beberapa titik tergenang air.

Tergenang  beberapa titik jalan utama dan lokasi pemukiman cukup menghambat aktifitas warga dalam merayakan Lebaran  hari kedua.

Meluapnya air Sungai Kayan juga menghambat aktifitas penyeberangan sungai untuk membawa penumpang dan sepeda motor menggunakan perahu penyeberangan atau "tambangan".

Meskipun ada Jembatan Sungai Kayan yang menghubungkan Tanjung Selor dengan Tanjung Palas namun sebagian warga  masih memilih menggunakan jasa perahu tambangan karena alasan jarak dan waktu lebih pendek.

"Meskipun jumlah penumpang meningkat tajam hari kedua Lebaran ini namun kita terpaksa membatasi jumlah orang maupun kendaraan yang diangkut, alasan keamanan karena arus sungai deras akibat banjir," kata Udin, salah satu "tukang tambang"
 (motoris) perahu penyeberangan. 

Selain arus sungai deras, alasan lain tukang tambang harus ekstra hati-hati karena saat banjir banyak sampah dari pedalaman memenuhi sungai, yakni ranting dan batang pohon.

"Sampah-sampah dari pedalaman saat banjir itu, yakni batang kayu (ranting dan batang pohon) bisa membahayakan keselamatan pelayaran saat penyeberangan," katanya.

Selain itu, berdasarkan pengalamannya, gir mesin bisa rusak jika kipas perahu bermotor terhantam batang kayu yang terbawa air banjir itu, "Biaya perbaikan lumayan karena bisa mencapai jutaan rupiah," imbuh Udin.

Baca juga: Sungai Kayan meluap
Baca juga: BMKG ingatkan potensi bencana hidrometeorologi pada 2022, termasuk Kaltara
Baca juga: Sembakung mengapa selalu didera banjir ?

Pewarta : Redaksi
Editor : Iskandar Zulkarnaen
Copyright © ANTARA 2024