Luapan Sungai Kayan pada H+1 Lebaran
Selasa, 3 Mei 2022 17:42 WIB
Tingginya curah hujan dalam beberapa hari terakhir menyebabkan Sungai Kayan meluap sehingga hari kedua Lebaran, Selasa (03/05/2022) diwarnai tergenang sejumlah jalan dan pemukiman di Tanjung Selor Kabupaten Bulungam, Ibu Kota Provinsi Kaliman Utara. (ANTARA/iskandar Zulkarnaen)
Tanjung Selor (ANTARA) - Tingginya curah hujan dalam beberapa hari terakhir menyebabkan Sungai Kayan meluap sehingga hari kedua Lebaran, Selasa (03/05/2022) diwarnai tergenang sejumlah jalan dan pemukiman di Tanjung Selor Kabupaten Bulungam, Ibu Kota Provinsi Kaliman Utara.
Dilaporkan di Tanjung Selor, Selasa bahwa meluap sungai terpanjang di Kalimantan Utara itu --640 Kilometer-- menyebabkan beberapa kawasan yang selama ini dikenal sebagai daerah "langganan banjir" kembali tergenang baik jalan umum maupun lokasi pemukiman.
Kawasan yang terendam cukup dalam itu antara lain Jalan Semangka (sekitar belakang Mako/perum perwira Korem), Jalan Imam Bonjol, Jalan Cik Ditiro, dan Jalan Padat Karya Tanjung Palas Hilir.
Begitu juga beberapa titik di Jalan Bupati Budiman, Jalan Datu Bandahara, termasuk di halaman Sekolah SMPN 1 Tanjung Palas.
Kondisi serupa terlihat di jalan samping Masjid Raya Istiqomah Tanjung Selor. Demikian juga jalan di depan masjid, yakni Jalan Kolenel Sutadji terlihat beberapa titik tergenang air.
Tergenang beberapa titik jalan utama dan lokasi pemukiman cukup menghambat aktifitas warga dalam merayakan Lebaran hari kedua.
Meluapnya air Sungai Kayan juga menghambat aktifitas penyeberangan sungai untuk membawa penumpang dan sepeda motor menggunakan perahu penyeberangan atau "tambangan".
Meskipun ada Jembatan Sungai Kayan yang menghubungkan Tanjung Selor dengan Tanjung Palas namun sebagian warga masih memilih menggunakan jasa perahu tambangan karena alasan jarak dan waktu lebih pendek.
"Meskipun jumlah penumpang meningkat tajam hari kedua Lebaran ini namun kita terpaksa membatasi jumlah orang maupun kendaraan yang diangkut, alasan keamanan karena arus sungai deras akibat banjir," kata Udin, salah satu "tukang tambang"
(motoris) perahu penyeberangan.
Selain arus sungai deras, alasan lain tukang tambang harus ekstra hati-hati karena saat banjir banyak sampah dari pedalaman memenuhi sungai, yakni ranting dan batang pohon.
"Sampah-sampah dari pedalaman saat banjir itu, yakni batang kayu (ranting dan batang pohon) bisa membahayakan keselamatan pelayaran saat penyeberangan," katanya.
Selain itu, berdasarkan pengalamannya, gir mesin bisa rusak jika kipas perahu bermotor terhantam batang kayu yang terbawa air banjir itu, "Biaya perbaikan lumayan karena bisa mencapai jutaan rupiah," imbuh Udin.
Baca juga: Sungai Kayan meluap
Baca juga: BMKG ingatkan potensi bencana hidrometeorologi pada 2022, termasuk Kaltara
Baca juga: Sembakung mengapa selalu didera banjir ?
Dilaporkan di Tanjung Selor, Selasa bahwa meluap sungai terpanjang di Kalimantan Utara itu --640 Kilometer-- menyebabkan beberapa kawasan yang selama ini dikenal sebagai daerah "langganan banjir" kembali tergenang baik jalan umum maupun lokasi pemukiman.
Kawasan yang terendam cukup dalam itu antara lain Jalan Semangka (sekitar belakang Mako/perum perwira Korem), Jalan Imam Bonjol, Jalan Cik Ditiro, dan Jalan Padat Karya Tanjung Palas Hilir.
Begitu juga beberapa titik di Jalan Bupati Budiman, Jalan Datu Bandahara, termasuk di halaman Sekolah SMPN 1 Tanjung Palas.
Kondisi serupa terlihat di jalan samping Masjid Raya Istiqomah Tanjung Selor. Demikian juga jalan di depan masjid, yakni Jalan Kolenel Sutadji terlihat beberapa titik tergenang air.
Tergenang beberapa titik jalan utama dan lokasi pemukiman cukup menghambat aktifitas warga dalam merayakan Lebaran hari kedua.
Meluapnya air Sungai Kayan juga menghambat aktifitas penyeberangan sungai untuk membawa penumpang dan sepeda motor menggunakan perahu penyeberangan atau "tambangan".
Meskipun ada Jembatan Sungai Kayan yang menghubungkan Tanjung Selor dengan Tanjung Palas namun sebagian warga masih memilih menggunakan jasa perahu tambangan karena alasan jarak dan waktu lebih pendek.
"Meskipun jumlah penumpang meningkat tajam hari kedua Lebaran ini namun kita terpaksa membatasi jumlah orang maupun kendaraan yang diangkut, alasan keamanan karena arus sungai deras akibat banjir," kata Udin, salah satu "tukang tambang"
(motoris) perahu penyeberangan.
Selain arus sungai deras, alasan lain tukang tambang harus ekstra hati-hati karena saat banjir banyak sampah dari pedalaman memenuhi sungai, yakni ranting dan batang pohon.
"Sampah-sampah dari pedalaman saat banjir itu, yakni batang kayu (ranting dan batang pohon) bisa membahayakan keselamatan pelayaran saat penyeberangan," katanya.
Selain itu, berdasarkan pengalamannya, gir mesin bisa rusak jika kipas perahu bermotor terhantam batang kayu yang terbawa air banjir itu, "Biaya perbaikan lumayan karena bisa mencapai jutaan rupiah," imbuh Udin.
Baca juga: Sungai Kayan meluap
Baca juga: BMKG ingatkan potensi bencana hidrometeorologi pada 2022, termasuk Kaltara
Baca juga: Sembakung mengapa selalu didera banjir ?
Pewarta : Redaksi
Editor : Iskandar Zulkarnaen
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
PT Pertamina EP Sangasanga Field dan Masyarakat Berkolaborasi Cegah Ancaman Banjir
16 June 2025 16:26 WIB
Terpopuler - Lingkungan Hidup
Lihat Juga
M4CR Perkuat Sinergi Pemerintah dan Desa dalam Konsolidasi DMPM di Kaltara
24 December 2025 8:10 WIB
Pemkab Bulungan dan WRI Indonesia Tindaklanjuti Kerjasama Program Lingkungan dan Pertanian Berkelanjutan
24 October 2025 11:28 WIB
Delegasi Sri Lanka ke Kaltara Mempelajari Upaya Rehabilitasi Ekosistem Mangrove
27 August 2025 18:46 WIB