Aparat Perpajakan Perlu Peka, Inovatif dan Kreatif

id ,

SINERGITAS : Gubernur Kaltara Dr H Irianto Lambrie didamping Wagub Kaltara H Udin Hianggio membuka Rakoreg PBB dan PPh se-Kalimantan di Kayan Hall Hotel Tarakan Plaza, Selasa (28/11). (dok humas)

Tarakan (Antara News Kaltara) - Selasa (28/11) malam, Gubernur Kaltara Dr H Irianto Lambrie menghadiri dan membuka Rakor Regional Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dan Pajak Penghasilan (PPh) se-Kalimantan Tahun 2017 yang mengangkat tema "Sinergitas Antar Instansi Pemerintah Dalam Meningkatkan Pendapatan Pajak Pusat dan Daerah" di Kayan Hall Hotel Tarakan Plaza.

Dalam pernyataannya, Irianto menuturkan bahwa perlunya kesamaan persepsi serta sinergitas antar instansi dan daerah se Kalimantan dalam rangka peningkatan PBB dan PPh. Juga penting untuk menginventarisir hambatan yang dihadapi pemerintah daerah dalam hal perpajakan itu, dan mencari solusi terkait pemungutan PBB dan PPh. "Ada sejumlah masalah baru dalam hal perpajakan di Indonesia. Dan, apabila menyimak pernyataan Menkeu (Menteri Keuangan) Sri Mulyani bahwa pada 2018, Indonesia memiliki kemungkinan besar mengalami krisis ekonomi. Untuk itu, instansi dan aparatur bidang perpajakan harus peka. Utamanya, dalam urusan pemungutan pajak," kata Irianto.

Adapun permasalahan itu, antara lain soal penggunaan pajak yang dipungut belum transparan dan banyak bermasalah dengan hukum. Sedianya, pihak yang memiliki kewenangan dalam pengambilan kebijakan perpajakan harus dapat mencontoh apa yang dilakukan negara besar seperti Jerman atau Inggris dalam penggunaan pajaknya. Baik itu, untuk penyediaan kesehatan gratis dengan layanan prima, pendidikan gratis hingga kuliah dan lainnya. "Perlu inovasi dan kreativitas sehingga pajak lebih sehat dalam penggunaan maupun pemungutannya, transparan, terukur dan akuntabel," jelas Gubernur.

Diingatkan pula oleh Gubernur, untuk mencapai target peningkatan pemungutan pajak, baik PBB maupun PPh dan pajak lainnya, aparatur maupun institusi perpajakan yang ada harus memahami hasil penelitian Bank Dunia mengenai 4 hal yang harus dilakukan agara sebuah bangsa, daerah maupun orang mencapai keberhasilan. Yakni, kemampuan berkreasi dan berinovasi yang diestimasi menyumbang 40 persen keberhasilan untuk mencapai kemajuan. Lalu, networking dengan sumbangan 30 persen penunjang sebuah kemajuan. Disusul, pemanfaatan teknologi dan sumber daya alam yang masing-masing mempengaruhi kemajuan dengan persentase 20 dan 10 persen. "Jadi, Kalimantan jangan terlalu bangga dengan sumber daya alam yang dimiliki. Jika tak dilengkapi dengan 4 hal tadi, maka Kalimantan akan begini-begini saja. Dari itu, minimal kita harus bisa berinovasi, berkreasi dan membuat jejaring. Ini jaminan, 70 persen keberhasilan dan kemajuan sudah diperoleh," tuturnya.

Editor: Firsta Susan Ferdiany
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar