Jejak sejarah di Masjid Kasimuddin

id masjid tertua

masjid kasimudin (datiz)

Tanjung Selor (Antaranews Kaltara) - Salah satu situs bersejarah yang masih kokoh berdiri di Kalimantan Utara adalah Masjid Sultan Muhammad Kasimuddin.

Masjid ini jadi situs bersejarah penting setelah tiga istana Kesultanan Bulungan dibakar PKI pada 1964 dan hartanya dirampok antek-antek Panglima Suharyo Kecik.
Masjid tertua di Kalimantan Utara dibangun semasa pemerintahan Kesultanan Bulungan, yakni Sultan Muhammad Kasimuddin (1901-1925).

Setelah meninggal, dia dimakamkan di halaman masjid sebelah barat, sedangkan makam di sekitarnya merupakan makam keluarga raja.

Pemugaran Masjid Kasimuddin dilaksanakan oleh Proyek Pelestarian/Pemanfaatan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Kalimantan Timur dari tahun anggaran 1992/1993-1993/1994.

Luas lahan Masjid Kasimuddin 3.560,25 m2, dan luas bangunan 585,64 m2.
Bangunan semi permanen.

Tiang penyangga terdiri dari empat pilar kayu ulin dengan penampang segi empat, tinggi 11,15 m.

Duabelas tiang pembantu dengan penampang segiempat tinggi delapan mengelilingi tiang utama.

Masjid yang masih mempertahankan atap menggunakan "sirap" atau papan ulin tipis itu tidak mempunyai jendela.

Sedangkan pintu masuknya 11 buah yang terletak disekeliling bangunan.

Berdasarkan penuturan saksi sejarah bahwa pembangunan masjid tersebut juga melibatkan warga Bulungan yang bergotong royong membersihkan lahan serta saat pemancangan tiang ulin tersebut.

Para kaum wanita juga antusias membantu membangun masjid meski hanya pada pekerjaan ringan, termasuk menyiapkan makanan.

Masjid yang menjadi situs cagar budaya ini menjadi salah satu obyek wisata relegius dan sejarah
Pewarta :
Editor: Iskandar Zulkarnaen
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar