Gairah dan Tantangan Pemilu di Ujung Negeri

id Pemilu kaltara

Gairah dan Tantangan Pemilu di Ujung Negeri

Sungai jiram pedalaman kaltara (Dok)

Tanjung Selor (ANTARA) -
Juga berbatasan laut dengan malaysia, pelabuhan sungai nyamuk (Datiz)
Ketimbang daerah lain di Kalimantan bahkan Indonesia, tampaknya kompleksitas persoalan pada berbagai sektor termasuk politik, khususnya menghadapi Pemilu 2019 yang tidak serumit dan menantang di wilayah Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.


Dari jumlah pemerintahan, Nunukan adalah terbesar di Kaltara karena terdiri dari 19 kecamatan dan 240 desa. Ke-19 kecamatan itu, yakni Krayan, Krayan Selatan, Krayan Tengah, Krayan Barat, Krayan Timur, Lumbis, Lumbis Ogong, Sembakung, Sembakung Atulai, Nunukan, Sei Menggaris, Nunukan Selatan, Sebuku, Tulin Onsoi, Sebatik, Sebatik Timur, Sebatik Tengah, Sebatik Utara, Sebatik barat totak luas 14.247,50 Km².

Kabupaten Nunukan adalah "ujung negeri", yakni wilayah paling utara dari Provinsi Kalimantan Utara. Ibu kota kabupaten terletak di kota Nunukan. Kabupaten ini berpenduduk sebanyak 140.842 jiwa (hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010).

Kabupaten ini mempunyai motto "Penekindidebaya" yang artinya "Membangun Daerah" yang berasal dari bahasa Tidung.

Kabupaten Nunukan merupakan wilayah pemekaran dari Kabupaten Bulungan, yang terbentuk berdasarkan pertimbangan luas wilyah, peningkatan pembangunan, dan peningkatan pelayanan kepada masyarakat.

Kabupaten Nunukan merupakan satu di antara lima kabupaten/kota di Propinsi Kalimantan Utara. Kompleksitas tantangan Nunukan karena kondisi georafis cukup luas serta berbatasan langsung baik laut maupun daratan dengan dua daerah Malaysia, yakni Negeri Sabah dan Negeri Serawak.

Berdasarkan geografisnya, Kabupaten Nunukan terletak di wilayah paling Utara Kalimantan yang berbatasan langsung dengan negara tetangga yaitu Malaysia, secara administratif memiliki batas–batas wilayah sebagai berikut sebelah utara dengan Negara Malaysia Timur – Sabah dan sebelah timur dengan Selat Makassar dan Laut Sulawesi.

Selain itu, sebelah selatan dengan Kabupaten Bulungan dan Kabupaten Malinau, dan ebelah barat dengan Negara Malaysia Timur – Serawak.

Antusias Warga Sebatik Selain Kabupaten Malinau, maka Nunukan adalah satu satu wilayah terluas di Kalimantan Utara dengan kondisi alam cukup menantang mulai dari kawasan pesisir khususnya di Nunukan dan Sebatik juga kawasan pedalaman sekitar Lumbis yang termasuk kawasan sulit dijangkau karena memiliki arum jeram sungai yang berbahaya.


Meski memiliki kompleksitas dan banyak tantangan, faktanya gairah masyarakat dalam menyambut pesta demokrasi di ujung negeri itu begitu tinggi jika melihat bagaimana semarak suasana kota mulai dari kawasan pesisir di Nunukan dan Sebatik sampai pedalaman di Sembakung, Sebuku atau Tau Lumbis (kelompok desa Lumbis).

Suasana kota semarak dengan hiasan baliho, poster dan spanduk para calon presiden/wakil serta calon anggota legislatif.

Baliho memenuhi kawasan yang boleh ditempakkan, serta rumah rumah pribadi. Gelora dalam menghadapi pesta lima tahunan 17 April 2019 juga kental terasa jika kita mengajak ngobrol warga mengenai Pemilu 2019.

Beberapa warga yang ditemui begitu antusias menyambut pesta demokrasi itu sebut saja Buchari (25) seorang sopir mobil rental di Desa Belalawan, Sebatik yang mengaku siap memberikan pilihannya bagi calon presiden/wakil dan calon anggota legislatif.

Buchari menyebutkan bahwa antusias warga sangat tinggi meskipun daerah mereka di ujung negeri atau paling dekat dengan Malaysia.

Pulau Sebatik terbelah menjadi dua zona teritorial, yakni bagian utara milik Pemerintah Diraja Malaysia dan bagian Selatan milik Indonesia. Sebatik secara adminsitratif sebelah utara 187,23 km persegi milik Malaysia.

Sedangkan 246,61 km persegi yang dimiliki oleh Indonesia. Sebagian wilayah Sebatik Malaysia jadi areal perkebunan sawit, sedangkan wilayah Indonesia jadi pemukiman warga.

Kedekatan itu, sehingga uang Ringgit dan Rupiah bisa digunakan di Sebatik. Hal itu sehingga Sebatik juga kadang-kadang disebut sebagai "Pulau dua tuan"'.

Hal senada diakui oleh Bu Jiah, penjual nasi kuning yang berlokasi di depan Hotel Queen, Sungai Nyamuk Sebatik bahwa antusias warga sangat tinggi untuk memberikan hak suara.

Alasan dia karena Pemilu kali ini selain memilih presiden/wakilnya juga banyak warga Sebatik yang maju sebagai anggota legislatif.

Laut dan Jeram Menghadapi tantangan wilayah Nunukan akibat kondisi georagfis dari kawasan pesisir yang berombak besar di Kecamatan Sebatik sampai mengurangi jiram di Tau Lumbis tidak menyurutkan semangat dalam menghadapi pesta demokrasi.

Ketua Bawaslu (Badan Pengawas Pemilu) Kabupaten Nunukan Mochamad Yusran mengaku kondisi itu justru kian menantang pihaknya dalam menyukseskan pesta demokrasi itu.

Demi melakukan supervisi sekaligus memetakan masalah riil di lapangan, maka Bawaslu Nunukan mengunjungi daerah paling menantang, yakni mengunjungi Tau Lumbis (kelompok desa-desa di Kecamatan Lumbis) yang harus melintasi arum jeram paling berbahaya di Kalimantan.

Perjalanan menuju Tau Lumnis benar-benar membutuhkan fisik yang prima karena perjalanan ke sana harus melewati jalan darat dari Nunukan ke Sebuku sekitar dua jam.

Kemudian dilanjutkan ke Mensalong melintasi sungai menggunakan kapal berbadan agak besar dengan mesin 40 PK dan kemudian harus diganti dengan perahu kecil menggunakan mesin ketinting selama delapan jam saat melinasi sungai menuju Tau Lumbis.

Tau Lumbis ini adalah desa yang berbatasan langsung dengan Desa Seliliran dan Desa Kabu (Sabah, Malaysia).

Perjalanan melintasi arum jeram menggunakan perahu berkapasitas lima sampai enam orang ini tidak mulus karena ada beberapa titik tidak mungkin dilintasi perahu karena sangat berbahaya sehingga perahu harus ditarik sepanjang dua kilometer.

Perjalanan itu selain berbahaya cukup cukup mahal, yakni sekitar Rp11 juta sekali jalan itu paket membawa penumpang dan barang.

Melihat tantangan itu, menjadi salah satu catatan Bawaslu Nunukan agar perlu sebuah solusi tepat dalam proses pengangkutan kotak suara, khususnya kemungkinan basah terkena air mengingat kotak suara dari kardus.

Salah satu solusi yang ditawarkan Yusran setelah melihat kondisi riil adalah mengangkut kotak suara menggunakan pesawat terbang.

Berdasarkan pengakuan Panus, kepala Desa Lumbis sudah dua kali pesawat perintis Susi Air mendarati lapangan rumpuut di depan desa. Lapangan itu tadinya untuk berbagai aktifitas warga untuk berternak dan bermain sepakbola.

Ketua KPU Nunukan Rahman mengatakan alternatif lain, yakni jika harus melintasi jeram maka kotak suara harus diberi pengamanan dengan dibungkus rapat menggunaan plastik serta membawa beberapa perahu cadangan, sekiranya perahu yang membawa kotak suara bermasalah.

Ternyata pelaksanaan Pemilu 2019 di ujung negeri harus disertai dukungan dan perhatian penuh semua pihak agar gairah warga dalam menyambut pesta demokrasi itu berjalan sesuai harapan dalam menegaknya demokrasi.
Pewarta :
Editor : Iskandar Zulkarnaen
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar