Logo Header Antaranews Kaltara

Lepas dari Medsos, Psikolog: Bangun 'bonding' dengan Anak

Selasa, 31 Maret 2026 20:29 WIB
Image Print
Fanny Sumajouw, Psikolog, saat memberikan pengetahuan tentang hak-hak anak kepada anak-anak di Kalimantan Utara. (ANTARA/HO-Istimewa)

Tanjung Selor (ANTARA) - Untuk melepas atau mengalihkan ketergantungan anak dari media sosial (medsos) dan platform digital berisiko tinggi, psikolog menyarankan para orang tua membangun ikatan emosional dengan anak dan lingkungan keluarga.

“Jadi caranya bagaimana, bangun bonding (ikatan emosional kuat dengan anak), ngobrol dari hati ke hati,” ujar Fanny Sumajouw, Psikolog, di , Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), Selasa.

Hal itu ia sampaikan terkait bagaimana pengalihan ketergantungan anak pada medsos atau platform digital berisiko tinggi setelah resmi diberlakukannya Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital (Permenkomdigi) Nomor 9 Tahun 2026 sebagai aturan pelaksanaan dari Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS).

Walaupun ia menganggap peraturan yang dikeluarkan terlambat, namun ia mengapreasi langkah yang dilakukan oleh pemerintah dengan membatasi medsos dan platform digital pada anak di bawah 16 tahun. Sebab, kata dia, anak-anak yang sudah melekat dengan medsos hingga seharian, dampaknya dengan orang lain maupun keluarga sampai tidak kontak mata dan bahkan ada keterlambatan kemampuan berbicara.

“Sekarang bagaimana caranya orang tua bekerja keras bisa menertibkan anak-anak tidak lagi berinternet seharian penuh,” katanya.

Penertiban di keluarga, sebutnya, misalnya punya anak tiga orang, ada yang masih anak-anak, remaja dan dewasa. Maka tertibkan terlebih dahulu yang dewasa agar tak menggunakan alat atau platform digital dulu saat adiknya belajar. Kemudian, juga bisa dipisahkan dulu kamar saat belajar dan orang tuanya ikut menemani.

“Orang tuanya temani, jangan suruh anak belajar tapi mamanya main atau bapaknya main gadget. Ya kan sama saja bohong,” ucap psikolog senior yang bergabung dalam berbagai organisasi perlindungan perempuan dan anak di Kaltara ini.

Anak itu, sebutnya punya daya tiru, atau plagiator sejati. Jadi tidak mungkin mereka tidak ada yang dicontoh. Anak yang merokok di luar tidak mungkin dia tidak melihat ada ajaran di dalam rumah atau menonton di platform digital melalui gadget maupun televisi digital.

“Kenapa dia bisa meniru, karena ada contoh. Ada role model yang anak lihat atau tonton, terlebih di rumah,” katanya.

Kembali untuk lepas dari persoalan kebiasan menggunakan gadget yang apapun ia cari ada, baik itu permainan dan tontonon melalui internet, maka ia meminta orang tua membangun kedekatan emosional dengan anak atau bonding.

Ia pun menyebutkan pola pendekatan dengan anak yaitu lekat, dekat dan rekat (LDR). “LDR itu bukan long distance realtionship, tapi lekat, dekat, rekat. Bangun kelekatan, bangun kedekatan dan bangun kerekatan,” ujarnya.

Dia mengumpamakan, kedekatan, kelekatan dan kerekatan seperti lem yang kemudian sudah melekat dan sangat rekat, maka ketika mau dilepas, tidak mungkin hanya satu jari yang luka, pasti dua-duanya.

“Jadi ketika orang tua merasa bonding itu kuat, punya kedekatan yang banget-banget dengan anak, ada kelekatan dan kerekatan tadi ketika anak tersakiti, dia pun tersakiti,” ungkapnya.

Karena itu, ia mengajak para orang tua membangun kedekatan emosional dengan anak dan jangan karena alasan bekerja atau sibuk, abai dengan anak. Sebab, pola asuh lah yang juga mempengaruhi perkembangan anak.

Fanny pun menceritakan pengalaman pribadinya 21 tahun yang lalu anaknya lahir dengan mengalami keterlambatan kemampuan berbicara. Bukan karena imbas gadget, karena zaman itu masih belum seperti sekarang.

“Karena kondisi kehamilan saya yang waktu itu mengalami gangguan sehingga begitu dia lahir dia menjadi anak yang speak delay. Perkembangan bicara sampai tujuh tahun,” ungkapnya.

Namun karena penerapan didikan yang pas dan sesuai dengan kebutuhan anak, ia bersyukur anaknya sekarang sedang persiapan untuk ujian skripsi menjadi seorang psikolog klinis, yang ke depannya mungkin menggantikannya.

“Bukan karena saya psikolog, anak saya speak delay menjadi anak yang kok bisa gitu seperti profesi saya. Itu kan dibutuhkan tingkat IQ high average,” katanya.

Dia menegaskan, bukan hanya anak psikolog yang bisa mencetak anaknya menjadi psikolog, siapapun bisa mengharapkan anak-anaknya bisa memiliki cita-cita tinggi dan jadi anak yang punya imej baik karena pendidikan, edukasi, serta pendampingannya secara benar.

“Kita bicara tentang pola asuh itu tidak bicara tentang orang tua terdidik secara pendidikan tinggi. Enggak. Orang tua yang tidak berpendidikan pun ketika dia memahami tentang pola asuh akan jadi,” tegasnya meyakinkan.

Karena, imbuhnya, tidak sedikit kasus anak-anak pejabat, orang berkelas, bertitel doktor dan profesor yang anaknya bisa disebut gagal dalam pendidikan.
Baca juga: Sambut Baik PP TUNAS, Bupati Bulungan Akan Libatkan Komite Sekolah
Baca juga: DPRD dan Pemprov Kaltara Dukung Penerapan Pembatasan Medsos Anak



Pewarta :
Editor: Susylo Asmalyah
COPYRIGHT © ANTARA 2026