
Catatan Ana Sriekaningsih: Saat Rupiah MelemahMampukah "Jalur Tol" Jakarta-Beijing Jadi Penyelamat?

Tarakan (ANTARA) - Belakangan ini, dompet kita seperti sedang diuji. Kabar mengenai melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS bukan lagi sekadar angka di layar televisi berita, melainkan sudah mulai terasa dampaknya pada harga barang-barang impor dan biaya hidup sehari-hari.
Di tengah situasi yang mencemaskan ini, sebuah kabar optimistis datang dari Shanghai pada 11 Juni 2026.
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, baru saja berjabat tangan erat dengan Gubernur People's Bank of China (PBOC), Pan Gongsheng. Pertemuan tingkat tinggi ini melahirkan kesepakatan besar yang secara sederhana bisa kita sebut sebagai Pembangunan "jalur tol" keuangan baru antara Jakarta dan Beijing.
Namun, pertanyaan mendasar yang menggelitik benak masyarakat awam adalah: di tengah kondisi Rupiah yang sedang melemah, mampukah kerja sama dengan Tiongkok ini menjadi obat kuat yang mengembalikan keperkasaan mata uang Rupiah ?
Mengapa Rupiah Melemah?
Untuk memahami obatnya, kita harus tahu dulu penyakitnya. Saat ini, Rupiah melemah bukan karena perekonomian domestik kita hancur.
Masalah utamanya adalah faktor eksternal, yaitu "ketergantungan akut" pasar global terhadap Dolar AS. Ketika bank sentral Amerika Serikat mempertahankan suku bunga tinggi, magnet Dolar menjadi sangat kuat. Investor global berbondong-bondong menarik uang mereka dari negara berkembang, termasuk Indonesia, dan memindahkannya ke Amerika.
Hukum ekonomi pasar pun berlaku: karena Dolar diburu, harganya naik; karena Rupiah ditinggalkan, nilainya turun.
Selama ini, setiap kali Indonesia berdagang atau membayar utang ke luar negeri, bahkan dengan Tiongkok sekalipun, kita selalu menggunakan Dolar AS sebagai perantara.
Pola inilah yang membuat Rupiah sangat rapuh terhadap dinamika politik dan ekonomi di Washington.
"Jalur Tol" Tanpa Dolar
Di sinilah kesepakatan baru antara BI dan PBOC menjadi krusial. Melalui kesepakatan Local Currency Transaction (LCT) yang kini diperluas hingga mencakup Hong Kong, kedua negara sepakat untuk secara masif memangkas peran Dolar AS dalam transaksi bilateral.
Bayangkan sebuah jalur tol langsung: jika pengusaha Indonesia membeli mesin dari Shanghai, atau turis Tiongkok berbelanja di Bali, mereka tidak perlu lagi menukarkan uangnya ke Dolar AS terlebih dahulu. Transaksi bisa langsung diselesaikan dengan Rupiah dan Renminbi (RMB).
4 Terobosan Konkret yang Disepakati:
LCT Indonesia-Hong Kong: Mempermudah pengusaha menggunakan mata uang lokal di pusat keuangan Asia.
RMB Clearing Bank di Indonesia: Pabrik penyedia likuiditas mata uang Tiongkok langsung di dalam negeri agar transaksi lebih murah.
QRIS Lintas Batas (QR Cross-Border): Turis Tiongkok cukup memindai barcode QRIS di Indonesia dengan aplikasi mereka, uang yang masuk ke pedagang lokal langsung berupa Rupiah. Efisien dan inklusif bagi UMKM.
Bank Mandiri Masuk Sistem CIPS: Integrasi infrastruktur kliring agar transfer dana antar negara menjadi jauh lebih cepat.
Mampukah Kesepakatan Ini Menguatkan Rupiah?
Mari kita bersikap realistis. Apakah besok pagi Rupiah akan langsung melesat tajam setelah perjanjian ini ditandatangani? Jawabannya adalah tidak secara instan.
Hasil dari pertemuan Shanghai ini tidak seperti obat analgesik yang meredakan nyeri dalam hitungan menit, melainkan seperti vitamin dan terapi jangka panjang yang memperkuat imunitas tubuh ekonomi kita.
Namun, dampak psikologis dan strukturalnya terhadap penguatan Rupiah sangat nyata.
Pertama, mengurangi tekanan permintaan Dolar. Tiongkok adalah mitra dagang terbesar Indonesia. Jika sebagian besar transaksi perdagangan dengan Tiongkok beralih menggunakan Rupiah-RMB, maka kebutuhan pengusaha domestik terhadap Dolar AS akan menurun drastis.
Ketika pemburu Dolar berkurang, tekanan terhadap Rupiah otomatis mereda.
Kedua, meningkatkan kepercayaan investor.
Adanya komitmen Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA), semacam dana talangan darurat antar-bank sentral, memberikan sinyal kuat ke pasar global bahwa Indonesia memiliki "bengkel pelindung" yang siap menyuntikkan likuiditas jika terjadi guncangan hebat.
Rasa aman ini akan menahan investor asing agar tidak panik dan tidak menarik modalnya keluar dari pasar keuangan domestik.
Ketiga, berkah dari QR Lintas Batas. Sektor pariwisata akan mendapat angin segar. Kemudahan transaksi ritel menggunakan QR lintas batas akan merangsang perputaran ekonomi di tingkat bawah (UMKM) secara langsung menggunakan mata uang lokal, yang pada gilirannya memperbanyak sirkulasi dan kegunaan Rupiah di ekosistem digital regional.
Kesepakatan bilateral ini adalah langkah taktis yang sangat cerdas dari Bank Indonesia untuk melepaskan diri dari jeratan hegemoni Dolar. Langkah ini memberi kita ruang napas dan bantalan yang cukup tebal di tengah ketidakpastian global saat ini.
Akan tetapi, efektivitas skema ini sepenuhnya bergantung pada eksekusi di lapangan. Pemerintah dan dunia usaha harus aktif menyosialisasikan instrumen ini agar para importirm dan eksportir benar-benar berpindah dari Dolar ke mata uang lokal.
Jika infrastruktur baru ini dimanfaatkan secara maksimal, maka pelan tapi pasti, ketergantungan kita terhadap Dolar akan berkurang. Rupiah tidak akan lagi mudah goyah setiap kali ada riak ekonomi di Amerika, dan stabilitas ekonomi yang lebih kokoh serta membumi bukan lagi sekadar impian.
Dr. Ana Sriekaningsih.,S.E.,S.Th.,M.M
Direktur Politeknik Bisnis Kaltara
Anggota Forum Komunikasi Akademisi Penulis Populer Kebijakan Bank Indonesia
Baca juga: Catatan Ana Sriekaningsih: Menjaga Rupiah Tetap Berputar
Baca juga: Catatan Ana Sriekaningsih: Dompet Digital Makin Laris, Bukti Ekonomi Kita Makin Gesit
Pewarta : Redaksi
Editor:
Susylo Asmalyah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
