
SPOB Menembus Ombak Sebatik: BBM Satu Harga Melabuhkan Asa

Tanjung Selor (ANTARA) - Teriknya sinar matahari menerpa seluruh kawasan di dermaga Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Jumat (24/7) sekitar pukul 14.00 WITA, terlihat kapal Self-Propelled Oil Barge (SPOB) Cahaya Nunukan Mandiri berukuran panjang sekitar 30 meter dengan nomor badan kapal YDB-6791 bersandar di dermaga tersebut.
Kapal SPOB Cahaya Nunukan Mandiri adalah salah satu kapal pengangkut Bahan Bakar Minyak (BBM) dari Pertamina Patra Niaga yang berlayar dari dermaga Depot Pertamina Fuel Tarakan pada Kamis malam (23/7).
“Kapal ini mengangkut BBM dari Tarakan tadi malam sekitar jam enam habis Maghrib, sampai di Sebatik ini, pagi jam delapan,” kata salah satu kapten kapal SPOB Cahaya Nunukan Mandiri, Armansyah (37).
Dari raut wajah Armansyah masih terlihat lelah. Dia bersama lima rekan kerjanya berada dalam kapal SPOB Cahaya Nunukan Mandiri semalaman berlayar menerjang ombak di Perairan Sebatik saat ini yang ombaknya cukup tinggi hampir 1,25 hingga 2,5 meter.
Dia mengungkapkan ombak yang tinggi membuat goncangan di kapal yang mengangkut BBM jenis Pertalite, Pertamax dan Biosolar tersebut, membuat badan mereka juga terasa goncangan dengan perut rasa mual dan kepala agak pening.
Dalam sebulan kapal SPOB Cahaya Nunukan Mandiri empat kali berlayar untuk mengangkut BBM dari Tarakan ke Pulau Sebatik. Namun kapal ini tidak hanya bawa BBM tujuan Pulau Sebatik yang merupakan kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia, terkadang kapal SPOB Cahaya Nunukan Mandiri membawa BBM ke Nunukan dan Pulau Bunyu untuk kebutuhan energi masyarakat di sana.
Kawasan Pulau Sebatik dan Nunukan merupakan kawasan yang paling sering disinggahi kapal tersebut untuk mengantar BBM.
Armansyah mengungkapkan baru empat bulan berlayar menggunakan kapal SPOB Cahaya Nunukan Mandiri yang membawa BBM, biasanya membawa kapal tunda (tug boat) untuk tanker membawa BBM.
Bapak dari satu anak yang berusia enam bulan, sudah sekitar empat bulan tidak bertemu dengan keluarganya yang tinggal di Sulawesi dan hanya menelpon untuk melepas rindu dengan keluarganya, selama bertugas.
Kapal SPOB merupakan jenis kapal khusus angkut BBM yang memiliki mesin penggerak sendiri untuk berlayar, sehingga tidak perlu menggunakan kapal tunda. Umumnya SPOB digunakan untuk mendistribusikan BBM di daerah pesisir untuk akses pelabuhan terbatas seperti di dermaga PLBN Sebatik.
Selain itu, kapal SPOB memiliki ukuran lebih kecil dari tanker, namun lebih fleksibel untuk akses menuju daerah pesisir dengan perairan yang dangkal. Serta daya angkut yang lebih kecil, untuk SPOB Cahaya Nunukan Mandiri daya angkut maksimal BBM sebanyak 230 ton.
Armansyah mengungkapkan para crew kapal di SPOB Cahaya Nunukan Mandiri memegang kepatuhan pada sistem keamanan dan keselamatan
“Kita tidak boleh merokok dalam kapal dan alat pemadam kebakaran sudah lengkap termasuk selang pemadam tersedia di ruang atas dan ruang bawah di kapal,” katanya.
Selama berlayar, waktu mengemudikan kapal dibagi setiap tiga jam, dimana crew bergantian yang mengemudikan. Keenam crew kapal ada bagiannya masing-masing yakni nahkoda, juru mudi, bagian mesin serta juru masak untuk di kapal.
Saat crew SPOB Cahaya Nunukan Mandiri melakukan bongkar muat BBM di dermaga PLBN Sebatik, mereka melakukan dengan hati-hati tidak boleh ada yang merokok di sekitarnya. Setelah selesai mengisi BBM ke mobil tangki para crew kapal terlihat langsung melakukan pembersihan dari bekas-bekas tetesan BBM yang ada tercecer.
Mereka tetap menggunakan baju coverall, helm pengaman, sepatu dan kacamata keselamatan dalam melakukan kegiatan bongkar muat BBM.
“Saat kapal bersandar untuk melakukan bongkar muat BBM pihak dari luar tidak boleh ada yang masuk ke dalam kapal, kecuali orang dari agen yang mengantar dokumen untuk pengisian BBM,” kata Armansyah.
Dia mengungkapkan selama dalam pelayaran dari Tarakan menuju Sebatik untuk mengurangi rasa jenuh, jika sinyal bagus para crew yang tidak bertugas biasanya main telepon genggam atau sambil memancing dan hasil ikan pancingan untuk dimasak di kapal atau dibawa pulang untuk keluarga.
Selama 16 tahun di kapal angkut BBM
Sedangkan Basri (41) yang merupakan nahkoda di kapal SPOB Cahaya Nunukan Mandiri yang membawa BBM dari Tarakan ke Sebatik, Nunukan dan Pulau Bunyu. Dia sudah 16 tahun bertugas di SPOB tersebut.
Saat kapal SPOB Cahaya Nunukan Mandiri bersandar di dermaga PLBN Sebatik, Basri dengan sigap memasang selang dari ruang pompa di kapal tersebut, dimana sudah ada tiga mobil tangki BBM untuk masing-masing diisi tiga jenis BBM yakni Pertalite, Pertamax dan Biosolar.
Basri dengan menggunakan coverall, helm pengaman, sepatu, kacamata keselamatan dan alat komunikasi terlihat cekatan dan sangat berhati-hati memasang selang saluran dari pompa minyak di kapal ke tangki mobil pengangkut BBM milik PT Seberang Energy Kaltara.
Kemudian Basri menginstruksikan dari alat komunikasi yang dibawanya kepada crew yang menjaga pompa, agar pompa penyalur BBM dibuka untuk mengisi BBM ke tangki mobil.
“Butuh waktu 15 menit untuk mengisi BBM di tangki ini yang memiliki kapasitas 5.000 liter atau lima ton,” kata Basri sambil mengeraskan suara saat berdiri di atas mobil tangki sambil menjaga selang pengisi BBM.
Setelah hampir penuh tangki terisi BBM yang dipesan oleh pihak agen, Basri langsung memberikan instruksi kembali melalui alat komunikasinya kepada crew kapal untuk segera menghentikan pompa saluran BBM ke mobil.
Sebanyak tiga unit tangki sudah terisi BBM yang diorder pihak agen, kemudian selang untuk menyalurkan BBM digulung dengan rapi dan sisa tetesan BBM di kapal langsung dibersihkan, agar tidak terpeleset karena licin kalau ada crew yang lewat jalur tersebut.
Setelah mengisi bongkar muat BBM di Pulau Sebatik, kapal melanjutkan berlayar ke Nunukan dengan waktu tempuh sekitar enam jam. Dia mengatakan untuk bongkar muat BBM di Nunukan memerlukan waktu cukup lama sekitar 4-5 hari.
Dia pertama kali bekerja di kapal mengangkut BBM pada 2010 sebagai juru mudi dengan pemilik yang sama dari SPOB Cahaya Nunukan Mandiri yakni Haji Fitriansyah.
Basri dulu masih menggunakan kapal yang lain merupakan kapal pertama milik Haji Fitriansyah yang merupakan warga Nunukan juga. “Dulu hanya ada satu armada saja, sekarang sudah ada tiga armada kapal,” kata Basri.
“Suka dukanya kerja di laut yah ombaklah, kadang besar dan menjaga safety karena membawa BBM. Alhamdulillah selama 16 tahun tidak ada masalah,” katanya.
Basri mengatakan harus menjalankan prosedur keselamatan sesuai peraturan yang ada dan solid dengan rekan satu tim kerja. Itulah yang membuat Basri betah bekerja di kapal pengangkut BBM sampai ke perbatasan Indonesia-Malaysia.
Dia bangga sudah 16 tahun membawa kapal pengangkut BBM untuk masyarakat di perbatasan Indonesia-Malaysia terutama di Pulau Sebatik, karena dapat memberikan energi untuk roda perekonomian masyarakat di perbatasan.
“Saya senang bisa mengantarkan BBM ke masyarakat perbatasan yang membutuhkan BBM dari Pertamina,” katanya.
Selama berlayar membawa kapal pengangkut BBM ke wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia.
Jika tidak lagi menjalani tugas biasanya memancing, jika dapat ikan hasil tangkapan biasanya dia meminta tolong juru masak di kapal untuk memasak ikan tersebut untuk digoreng dan disantap bersama para crew kapal lainnya dengan menggunakan sambel.
“Masakan lain yang saya suka selama berlayar dengan kapal ini, ayam palekko, biasanya juru masak sediakan dua ekor ayam untuk kita berenam yang ada di kapal ini,” kata Basri. Ayam palekko adalah masakan dari suku Bugis, Sulawesi Selatan, dimana ayam dengan bumbu rasa gurih, asem dan pedas dengan aroma rempah yang tajam.
Jika kapal sudah bersandar di Nunukan, Basri langsung bertemu istri dan ketiga anaknya, masakan yang dia suka saat tiba di rumah adalah ikan merah goreng yang dibuat oleh istrinya.
Biasanya sampai empat hari Basri tidak bertemu istri, karena harus angkut BBM dulu dari Tarakan dan bongkar muat BBM di Sebatik dan Pulau Bunyu.
BBM dalam negeri lebih murah
BBM yang diangkut dari SPOB Cahaya Nunukan Mandiri didistribusikan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) salah satunya ke SPBU di Desa Aji Kuning, Kecamatan Sebatik Tengah.
Desa Aji Kuning secara daratan berbatasan langsung dengan wilayah Tawau, Sabah, Malaysia, sehingga wilayah tersebut banyak beredar produk bahan pokok maupun LPG dan BBM yang berasal dari Malaysia.
Ketua RT 01 Desa Aji Kuning, Amran (40) mengungkapkan bahwa BBM dari Malaysia masih ada yang beredar di sekitar RT 01, karena jarak yang dekat dengan Malaysia. Namun Amran tetap menggunakan BBM jenis Pertalite produksi PT Pertamina yang merupakan produksi dalam negeri.
“Harga BBM kita lebih murah daripada BBM dari Malaysia, pastilah kita cari yang murah,” kata Amran. Dia mengatakan saat ini Pertalite di Desa Aji Kuning harganya Rp10.000,- perliter dan Pertamax harganya Rp17.000,- perliter, sedangkan BBM dari Malaysia harga jauh lebih mahal yakni Rp23.000,- perbotol dengan ukuran 800 mililiter.
Dia mengatakan dulu kendaraan roda dua yang dimilikinya menggunakan BBM asal Malaysia yang dijual eceran dengan harga Rp10.000,- perbotol sekarang jadi Rp23.000,- perbotol, karena harga BBM dari Malaysia mahal makanya dia beralih ke Pertalite dan Pertamax produk Pertamina.
Lelaki yang memiliki perawakan kurus ini, memaklumi dengan kondisi geografis, dimana pengambilan BBM dari Tarakan ke Sebatik yang cukup jauh, hal ini menyebabkan kadang terjadi kekosongan BBM beberapa hari. "Saat ini sih BBM Pertamina mudah didapat, mungkin karena lancar distribusi,” katanya.
Sedangkan Risalman yang juga warga Desa Aji Kuning mengungkapkan BBM saat ini lumayan lancar, tapi kadang-kadang bisa sampai dua minggu kosong BBM Pertamina di Sebatik. Untuk harga BBM jenis Pertalite Rp10.000- perliter dan Pertamax Rp17.000,- perliter.
“Biasa satu liter saya dapat menggunakan Pertamax atau Pertalite untuk empat hari untuk berangkat ke kebun di daerah Tanjung Harapan sekitar setengah jam dari tempat tinggal saya di Aji Kuning,” kata Risalman.
Jika terjadi kekosongan BBM Pertamina di Sebatik, maka terpaksa Risalman menggunakan BBM produk Malaysia, dimana harganya cukup tinggi Rp23.000,- perbotol. Dia mengatakan saat ini nilai Ringgit naik, dulu BBM Malaysia hanya Rp10.000,- perbotol. BBM dari Malaysia dijual di Sebatik secara ilegal dengan cara eceran di botol-botol kaca.
Risalman dan juga masyarakat di Sebatik berharap kuota BBM di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia ini ditambah, biar masyarakat tidak membeli BBM dari Malaysia yang harga tentu saat ini tinggi.
“Kalau pangkalan Pertamina tutup, maka tidak ada BBM beberapa hari, terpaksa untuk kebutuhan sehari-hari kita beli BBM dari sebelah (Malaysia, red) dengan harga yang mahal,” katanya.
Hal senada diungkapkan oleh Sahar (52) warga Bukit Aru Indah, Kecamatan Sebatik Timur mengatakan untuk distribusi BBM di daerahnya lancar, karena mudah didapat. Namun dia mengharapkan kuota BBM di wilayahnya ditambah.
Sahar yang sehari-hari kerja di agen kapal laut untuk distribusi bahan pokok dari Tarakan ke Sebatik biasa menggunakan BBM jenis Pertalite atau Pertamax, dimana untuk satu liter BBM tersebut dapat digunakan sampai tiga hari untuk kendaraan roda duanya.
Dari Tanjung Aru ke pelabuhan di Sungai Pancang dan Sungai Nyamuk dengan waktu tempuh 30 menit. Dia biasa membeli BBM di Agen Premium dan Minyak Solar (APMS) Pertamina dengan harga untuk Pertalite Rp10.000,- perliter dan Pertamax seharga Rp17.000,- perliter.
Adanya APMS Pertamina di Kecamatan Sebatik Timur, karena wilayah tersebut termasuk daerah terpencil atau wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal). Untuk kapasitas penyaluran dan penyimpanan BBM lebih kecil daripada SPBU reguler. APMS Pertamina hadir untuk membantu distribusi energi dan mendukung program BBM Satu Harga bagi warga di perbatasan Indonesia-Malaysia.
Dia mengungkapkan jika terjadi kekosongan BBM dari Pertamina, warga kebanyakan membeli BBM dari Malaysia yang beredar di wilayah Sebatik secara ilegal dan harganya cukup tinggi antara Rp22.000,- sampai Rp25.000,- perbotol.
“Menurut pengamatan kami memang BBM di SPBU dan APMS di Sebatik perlu ditambah oleh pihak Pertamina,” kata Sahar. Kekosongan BBM terjadi kadang sampai satu minggu, hal ini dimaklumi karena faktor cuaca mempengaruhi distribusi BBM dari Tarakan ke Sebatik, dimana sarana satu-satunya saat ini menggunakan transportasi laut dengan kapal SPOB. Jika kondisi laut tenang empat hari sudah ada, tapi kalau besar ombak laut bisa sampai seminggu, katanya.
Kontrol dan Evaluasi
Terkait distribusi BBM Ketua Panitia Urusan Rumah Tangga (PURT) Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Kalimantan Utara, Hasan Basri mengungkapkan bahwa lambannya distribusi BBM, terkait kapal pengangkut BBM karena letak geografis yang cukup luas dan jauh.
BBM dibawa dari kilang Pertamina di Balikpapan ke Tarakan kemudian ke wilayah lain termasuk Sebatik, sehingga pendistribusian kadang mengalami kendala.
“Tetapi ini tidak boleh terjadi terus menerus dan harus ada antisipasi sebelumnya, baik dari pengusaha BBM maupun kementerian terkait dalam hal ini ESDM, agar melakukan kontrol dan evaluasi, agar tidak terjadi keterlambatan distribusi BBM terutama untuk saudara kita di perbatasan,” kata Hasan Basri.
Menurutnya jika hal tersebut terjadi maka BBM dari Malaysia yang akan digunakan oleh warga di perbatasan seperti di Sebatik. Selain itu, masyarakat juga tidak perlu panik karena baik pihak Pertamina dan Kementerian ESDM menyampaikan bahwa sampai akhir tahun 2026 pasokan BBM dan LPG tidak ada masalah.
“Jadi masyarakat tidak perlu panik, karena BBM dan LPG tidak ada kelangkaan, hanya distribusi yang harus dilakukan tata kelola dengan baik,” katanya. Jadi sebelum BBM habis, kapal angkut BBM lain sudah harus datang.
Negara harus memperhatikan ini dengan baik, terutama untuk masyarakat di perbatasan. Hal ini juga untuk mencegah terjadi disintegrasi bangsa. “ Tapi kalau saya melakukan diskusi dengan masyarakat di perbatasan, mereka mengatakan ‘Garuda di Dadaku’ tetap yang terbaik, tetapi perhatian negara harus lebih,” kata Hasan Basri.
Dia juga berkoordinasi dengan pihak Pertamina Patra Niaga yang ada di Tarakan. Menurutnya pihak Pertamina menyampaikan bahwa kuota BBM di Kaltara sudah melebihi dari kuota yang sudah ditetapkan, dengan melebihkan sekitar 10 persen. Jika sudah lebih dari kuota normal, maka seharusnya tidak ada kekurangan BBM.
Menanggapi hal tersebut Sales Branch Manager Kalimantan Timur dan Utara (Kaltimut) V Fuel PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan, Nabilla Inanbarika Hartyana mengatakan untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan saat ini, Pertamina Patra Niaga terus melakukan monitor untuk stok harian dan antrian di SPBU serta memastikan kapal selalu siap sedia.
“Untuk di Sebatik, jika sempat terjadi kekosongan karena kendala di kapal namun dari kami juga sudah berkoordinasi dengan pihak transportir untuk memastikan dokumen-dokumen kapal lengkap dan masih berlaku sejak jauh-jauh hari,” kata Nabilla.
Selain itu untuk mengatasi keterbatasan kuota BBM subsidi, SPBU juga sudah mempersiapkan BBM non subsidi untuk warga Sebatik. Untuk kuota sendiri selalu diusahakan untuk disesuaikan oleh Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH) Migas sesuai dengan kebutuhan di masyarakat.
Terkait distribusi BBM di perbatasan Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan, Edi Mangun mengatakan bahwa pihak Pertamina sudah menambah 10 persen pasokan BBM untuk perbatasan di Kaltara, karena adanya tren kenaikan atas kebutuhan BBM.
“Kita bicara soal kebutuhan normal, sebenarnya secara hitung-hitungan sudah bisa memenuhi, tapi tentunya kita juga tidak menyangkal bahwa ada pihak-pihak yang kemudian menyalahgunakan,” kata Edi.
Adapun pengawasan yang Pertamina lakukan karena BBM Indonesia lebih murah dari BBM produksi Malaysia saat ini, maka sesuai dengan mekanisme terhadap tata niaga, maka untuk membeli BBM menggunakan Kartu Tanda Penduduk (KTP).
“BBM di perbatasan itu penting, karena bukan sekedar untuk menyalakan kompor tetapi hadirnya BBM dan LPG subsidi, dalam rangka menjaga nasionalisme, saudara-saudara kita sebagai bagian dari integrasi warga negara Republik Indonesia,” kata Edi.
Selain itu, sebagai pertahanan nasional, dimana terkait dengan idealisme dan nasionalisme, makanya Pertamina Patra Niaga berupaya penuh untuk kemudian menjaga ketahanan stok di wilayah perbatasan, katanya.
“Kami di perbatasan bukan sekedar menghadirkan BBM atau LPG, tetapi juga menjaga nasionalisme masyarakat di sana,” kata Edi menegaskan lagi.
Hadirnya BBM dan LPG produksi Pertamina dengan harapan distribusi yang lancar di tapal batas ini, memperlihatkan hadirnya negara untuk kedaulatan energi serta sebagai marwah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Baca juga: Pertamina Patra Niaga Kembangkan Budi Daya Kepiting Bakau di Tarakan
Baca juga: Pertamina Patra Niaga Perkuat Koordinasi Pengawasan Penyaluran Biosolar di Tarakan
Baca juga: Pemkot Tarakan Lakukan Nota Kesepahaman dengan PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Tarakan

Pewarta : Redaksi
Editor:
Susylo Asmalyah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
