Pakar: Skoliosis terjadi pada masa pertumbuhan

id Terapi schroth,tulang belakang,skoliosis

Pakar: Skoliosis terjadi pada masa pertumbuhan

Pakar ortopedi sekaligus penemu "brace" atau penjepit Gensingen Brace Weiss (GBW) Dr Hans Rudolf Weiss (kiri) saat mempresentasikan terkait skoliosis di Jakarta, Senin (27/1/2020). (ANTARA/Muhammad Zulfikar)

Jakarta (ANTARA) - Pakar ortopedi sekaligus penemu "brace" atau penjepit Gensingen Brace Weiss (GBW) Dr Hans Rudolf Weiss mengatakan skoliosis atau kondisi tulang belakang yang tidak normal terjadi saat masa pertumbuhan anak atau sebelum memasuki masa pubertas.

"Skoliosis itu 90 persen mulainya pada usia 10 hingga 14 tahun," kata dia pada acara peluncuran buku Terapi Schroth di Jakarta, Senin.

Sebenarnya, kata dia, banyak dokter yang menyarankan untuk melakukan operasi apabila skoliosis seseorang melebihi 40 derajat.

Namun, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr Weiss berserta sejumlah jurnal kesehatan, skoliosis tidak menyebabkan keluhan yang serius walaupun tidak diobati kecuali penampilan tubuh.

"Namun pada saat sudah memasuki usia tua akan ada gejala seperti ada rasa sakit dibanding yang tidak ada skoliosis tapi ini bukan sesuatu yang fatal," katanya.

Baca juga: Mengenal skoliosis dan cara menanganinya

Meskipun demikian, yang perlu diperhatikan yaitu skoliosis muncul pada saat seseorang memasuki usia tua. Skoliosis tersebut dapat dipicu oleh pekerjaan dengan minim gerakan.

Sebagai contoh seseorang lebih sering duduk di kursi dengan minim olahraga. Hal itu menyebabkan lama kelamaan menimbulkan skoliosis pada saat memasuki usia tua.

"Ini biasanya lebih bergejala, lebih cepat juga perburukannya," katanya.

Meskipun tidak fatal, ujar dia, kondisi skoliosis tetap saja mengganggu kualitas hidup dan bergejala apabila dibiarkan.

Sementara itu, Alvita Widyastuti, orang tua pasien penderita skoliosis mengatakan anak lelakinya berkebutuhan khusus yaitu tulang belakangnya bengkok atau leter S.

"Kalau derajatnya itu sebetulnya lebih dari 55 hingga 60 derajat," ujar dia.

Sebelumnya, putranya itu telah melakukan pengobatan di beberapa rumah sakit nasional dan disarankan untuk operasi. Namun, dengan mempertimbangkan berbagai hal, tindakan operasi tidak dilakukan.

"Saya menemukan spine klinik ini dan melakukan terapi brace," kata dia.

Berdasarkan konsultasi dengan dokter di klinik tersebut, pasien disarankan untuk menggunakan penjepit dengan menyesuaikan titik tulang belakang sehingga lebih nyaman.

Sejak melakukan terapi brace dari Maret hingga September 2019, kondisi tulang belakang putranya mampu sembuh dan saat ini hanya tertinggal sekitar 22 derajat saja.

Baca juga: Dokter sebut orang tua jarang sadari anaknya menderita skoliosis
Baca juga: Upaya pencegahan memburuknya skoliosis hanya dengan korset

 

Pewarta : Muhammad Zulfikar
Editor: Arief Mujayatno
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar