Praktisi sebut perlu ada pembatasan penggunaan gawai bagi siswa

id penguatan karakter,penggunaan gawai,pembatasan penggunaan gawai,satriwan salim

Praktisi sebut perlu ada pembatasan penggunaan gawai bagi siswa

Koordinator P2G Satriwan Salim (ANTARA/Indriani)

Jakarta (ANTARA) - Praktisi pendidikan dari Perhimpunan untuk Pendidikan dan Guru (P2G), Satriwan Salim mengatakan perlu ada pembatasan penggunaan gawai bagi siswa terutama untuk jenjang SD dan SMP.

“Perlu ada pembatasan penggunaan gawai terutama dalam mengakses internet. Hal itu sudah diterapkan di Jepang dan Korea Selatan, akses internet hanya diberikan melalui komputer di sekolah, sedangkan gawai yang digunakan siswa hanya gawai yang bisa untuk menelepon dan mengirim pesan,” ujar Satriwan di Jakarta, Sabtu.

Dia menambahkan Jepang dan Korea Selatan saat berkunjung ke sekolahnya heran dengan banyaknya siswa yang membawa gawai ke sekolah. Sementara di negara mereka hanya boleh mengakses internet dengan menggunakan komputer sekolah.

Baca juga: Kemendikbud katakan perlu inovasi dalam kampanye penguatan karakter

Baca juga: Kemendikbud : Nilai karakter Pancasila harus ditanamkan sedini mungkin

“Pembatasan penggunaan gawai ini penting bagi anak agar mereka dapat berkembang secara alami,” ujarnya.

Dia menambahkan perlu adanya kolaborasi antara guru, siswa dan orang tua dalam penggunaan gawai untuk mengakses dari internet. Apalagi, pemerintah telah memberikan subsidi bantuan kuota internet.

“Saya baru dapat laporan dari Lampung, siswa belajar di rumah tanpa adanya pengawasan dari orang tua. Akhirnya kuota internet yang diberikan digunakan untuk mengakses media sosial,” tuturnya.

Untuk itu perlu adanya upaya pendampingan dari orang tua terhadap anak. Selain itu, guru juga harus terlibat dalam pengawasan, pembimbingan serta mendampingi anak. “Guru juga hendaknya jangan bosan memberikan muatan karakter kepada siswa,” ucapnya.

Baca juga: Mendikbud : Pandemi memantapkan generasi muda dalam mengisi perubahan

Dalam pembelajaran, lanjut dia, guru tidak hanya mentransfer pengetahuan, tapi juga mentransformasi siswa. Dalam artian mengubah perilaku siswa menjadi lebih baik.

Dalam hal itu, tidak hanya memikirkan aspek kognitif saja, tetapi juga penguatan karakter. Misalnya, guru bahasa Inggris, jangan hanya mengajarkan bagaimana “grammar” pada siswa, tetapi juga bagaimana etika, disiplin dan nasionalisme.

“Jangan sampai penguatan karakter hanya dibebankan pada guru, tapi tri sentra pendidikan itu sangat mempengaruhi karakter anak pada era digital. Tri sentra itu, yakni rumah, guru dan masyarakat,” katanya.

Baca juga: Mahasiswa UMM rancang aplikasi penguatan karakter berbasis keluarga


Pewarta : Indriani
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar