Dokter: Masyarakat perlu waspada penularan COVID-19 klaster keluarga

id klaster keluarga,UI,COVID-19

Dokter: Masyarakat perlu waspada penularan COVID-19 klaster keluarga

Satgas COVID-19 Bengkulu cegah klaster keluarga. ANTARA/Bisri Mustofa.

Jakarta (ANTARA) - Dokter spesialis paru dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Dr dr Anna Rozaliyani M.Biomed Sp.P mengingatkan bahwa masyarakat perlu mewaspadai penularan COVID-19 yang terjadi pada klaster keluarga.

Menurut Anna, dalam Program Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Universitas Indonesia tentang kesehatan lansia yang dilakukan secara daring dipantau di Jakarta, Minggu, masyarakat menganggap lingkup keluarga adalah yang paling aman dari penularan COVID-19.

Baca juga: Klaster keluarga dominasi penambahan kasus COVID-19 di Kota Batu

Baca juga: Klaster keluarga picu melonjaknya COVID-19 di Banguntapan, Bantul-DIY


Padahal, menurutnya, lingkungan keluarga juga masih memiliki risiko penularan COVID-19 apabila ada anggota keluarga yang masih bekerja atau berkegiatan di luar rumah dan tidak menerapkan protokol kesehatan dengan benar ketika di luar ataupun saat kembali ke rumah.

"Klaster keluarga kemudian muncul pada bulan September. Ketika orang menganggap keluarga adalah tempat yang paling aman, tapi tetap tidak steril dari kemungkinan virus masuk ke rumah karena masih ada anggota keluarga yang tertular kemudian kembali ke rumah," katanya.

Dia mengingatkan setiap anggota keluarga yang berkegiatan di luar rumah untuk selalu menerapkan protokol kesehatan dengan benar agar tidak pulang dengan membawa virus. Terlebih lagi ada kemungkinan anggota keluarga yang terkonfirmasi positif COVID-19, namun tidak menimbulkan gejala, sehingga merasa sehat-sehat saja, namun masih dapat menularkan anggota keluarga lain di rumah.

"Sebaiknya setelah berkegiatan di luar rumah, sampai rumah tidak melakukan apa-apa dulu langsung mandi, membersihkan diri," kata Anna yang juga bertugas sebagai dokter yang menangani pasien COVID-19 di RS Darurat Wisma Atlet.

Dia menyebut kemungkinan anggota keluarga bisa menjadi "super spreader", yaitu pembawa virus dan bisa menularkan ke banyak anggota keluarga lainnya tanpa dia tahu dirinya sedang terinfeksi virus COVID-19. Anna mengingatkan bahwa anak-anak bisa saja menjadi "super spreader" tersebut.

Walaupun 80 persen pasien COVID-19 hanya menimbulkan gejala ringan hingga sedang dan bisa pulih, ada 20 persen kasus yang mengalami gejala berat, yaitu sebanyak 15 persen mengalami gejala berat dan 5 persennya harus mendapatkan perawatan intensif di ruang ICU.

Anna meminta masyarakat, khususnya kelompok yang berisiko tinggi ketika tertular, untuk tetap menerapkan protokol kesehatan dengan disiplin. "Kasus berat dan kematian meningkat pada orang dengan penyakit penyerta, seperti penyakit jantung, diabetes melitus, penyakit paru kronis, hipertensi, kanker, dan usia di atas 60 tahun dan satu lagi kondisi yang memperburuk, yaitu obesitas atau kegemukan," kata dia.

Baca juga: Klaster keluarga dominasi penambahan kasus COVID-19 di Solo

Dokter Anna bersama dengan sejumlah dokter dari FKUI lainnya memberikan penyuluhan kepada lansia pada Posbindu lansia di beberapa tempat, yaitu Depok, Bekasi, dan Jakarta sebagai program pengabdian masyarakat Universitas Indonesia.

Dalam program dengan tema Kesehatan Ramah Lansia untuk Meningkatkan Kesehatan dan Kualitas Hidup Lansia - Upaya Pemberdayaan Posyandu Lansia, kelompok masyarakat lansia diberikan edukasi melalui penyuluhan daring mengenai peningkatan kesehatan pada lansia.

Beberapa penyuluhan yang dilakukan memberikan pemahaman mengenai pola makan atau asupan nutrisi pada lansia, pola hidup yang harus dilakukan lansia, hingga upaya pencegahan terhadap COVID-19.

Pewarta : Aditya Ramadhan
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar