Efek samping Sinopharm tidak perlu pengobatan

id Vaksin Sinopharm, efek samping, KIPI

Efek samping Sinopharm  tidak perlu pengobatan

Petugas medis menyuntikkan vaksin kepada seorang karyawan bank di Sentra Vaksinasi Gotong Royong Perbanas, Lapangan Tenis Indoor Senayan, Jakarta, Sabtu (19/6/2021). Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) bekerjasama dengan Bio Farma dan Kimia Farma menyiapkan 130.000 dosis vaksin sinopharm pada program vaksinasi gotong royong secara mandiri bagi 65.000 karyawan dari 48 bank pemerintah, swasta, nasional, asing dan daerah. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/pras

Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Gajah Mada (UGM) Prof Zullies Ikawati mengemukakan efek samping dari penggunaan vaksin Sinopharm secara umum tidak memerlukan pengobatan dan lebih cepat membaik.

"Karena memiliki platform yang sama dengan vaksin Sinovac, maka profil efek sampingnya juga mirip. Dimana frekuensi kejadian efek sampingnya adalah 0,01 persen atau terkategori sangat jarang," katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin.

Zullies mengatakan efek samping yang dijumpai dalam uji klinik adalah efek samping lokal yang ringan, seperti nyeri atau kemerahan di tempat suntikan, dan efek samping sistemik berupa sakit kepala, nyeri otot, kelelahan, diare dan batuk.

Efek samping tersebut, katanya, segera membaik dan umumnya tidak memerlukan pengobatan.

Vaksin Sinopharm merupakan vaksin buatan China dan telah diujikan di beberapa negara. Vaksin Sinopharm telah masuk dalam list Lembaga Kesehatan Dunia (WHO) dan mendapatkan Izin Penggunaan Darurat (EUA) di China, Uni Emirat Arab, Bahrain, Mesir dan Yordania, dan di Indonesia.
Baca juga: Erick: Indonesia sudah dapat komitmen 15 juta dosis vaksin Sinopharm
Baca juga: Didistribusi dengan skema gotong royong, ini profil vaksin Sinopharm


Vaksin ini menggunakan platform yang sama dengan vaksin Sinovac, yaitu virus yang diinaktivasi.

Dalam uji klinik di Uni Emirat Arab, efikasi vaksin Sinopharm mencapai 78 persen, dan vaksin ini dapat digunakan pada populasi usia 18 tahun ke atas sampai lansia.

"Secara umum, dari hasil eveluasi terhadap uji klinik yang telah melibatkan ribuan orang di berbagai negara, manfaat vaksin jauh melebihi risiko efek sampingnya," katanya.

Zullies menambahkan Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi (KIPI) secara umum bersifat ringan sampai sedang dan bersifat individual, dan adanya KIPI juga menunjukkan bahwa vaksinnya sedang bekerja.

Namun jika ada KIPI yang dirasa berat, kata Zullies, segera dilaporkan kepada kontak yang sudah diberikan petugas vaksinasi untuk bisa segera mendapatkan penanganan.

Selain ditangani, KIPI juga akan dievaluasi oleh Komite KIPI terkait dengan hubungan kausalitasnya dengan vaksin sehingga bisa menjadi data yang berharga dalam program vaksinasi.
Baca juga: Tak ada efek saat uji klinis, Sinopharm izin pasarkan vaksin COVID-19
Baca juga: Sinopharm tambah produksi 3 miliar setelah disetujui WHO

Pewarta : Andi Firdaus
Editor: Muhammad Yusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar