Satgas: Indonesia menyisakan "PR" untuk menurunkan kasus kematian

id kematian akibat COVID-19, pandemi COVID-19,satgas covid-19

Satgas: Indonesia menyisakan

Petugas memakamkan jenazah COVID-19, di TPU Pondok Ranggon, Jakarta, Selasa (8/9/2020). (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/hp/aa).

Jakarta (ANTARA) - Ketua Bidang Data dan Teknologi Informasi Satgas Penanganan COVID-19 Dewi Nur Aisyah mengatakan Indonesia masih menyisakan pekerjaan rumah (PR) untuk menurunkan angka kasus kematian akibat COVID-19 yang masih berada di atas rata-rata dunia.

"Persentase kasus aktif di Indonesia saat ini lebih rendah dari angka dunia, angka kesembuhan kita di atas rata-rata dunia. Tapi saya sepakat bahwa kita memang masih punya PR di angka kematian yang masih di atas angka rata-rata dunia," kata dia dalam agenda konferensi pers virtual yang dipantau dari Jakarta, Rabu sore.

Dewi mengatakan per tanggal 29 Agustus 2021 persentase kasus aktif di Indonesia sebesar 5,34 persen, sudah berada di bawah rata-rata dunia yang mencapai 8,56 persen.

Baca juga: Satgas kemukakan kebijakan perlindungan pada tiga aktivitas berisiko

Sedangkan angka kesembuhan pada 31 Agustus 2021 mencapai 72,1 persen atau lebih tinggi dibandingkan rata-rata kesembuhan COVID-19 di dunia saat ini 69,73 persen.

Namun persentase kasus kematian di Tanah Air masih mencapai 3,24 persen di atas rata-rata dunia yang mencapai 2,08 persen saat ini.

Meskipun angka kematian masih relatif tinggi di Indonesia, kata Dewi, namun dalam dua pekan terakhir menunjukkan tren penurunan dari rata-rata 1.000 kasus kematian per hari, menjadi sekitar 700 per hari.

"Terkait dengan angka kematian tertinggi di bulan Juli 2021, ternyata penyumbangnya bukan dari mereka yang berusia di atas 60 tahun, tapi justru di usia sekitar 46 sampai 59 tahun. Ada pergeseran usia," katanya.

Hasil survei kecepatan penanganan pasien di beberapa rumah sakit vertikal Kementerian Kesehatan, kata Dewi, angka kematian tertinggi terjadi di IGD karena pasien yang datang ke rumah sakit sudah dalam kondisi yang berat bahkan kritis.

"Hal ini dibuktikan dengan angka kematian pasien bukan terjadi di ICU saat perawatan, tapi justru di IGD," katanya.

Baca juga: Satgas jelaskan penyebab angka kematian di 10 provinsi

Dewi mengatakan laju angka kematian pada Mei 2021 di IGD sekitar 3,503 persen, meningkat 11,06 persen pada Juni dan mencapai puncaknya di Juli 2021 mencapai 14,36 persen kematian di IGD.

"Untuk di bulan Agustus ini yang awalnya kematian di IGD 14,36 persen (Juli 2021), sekarang turun menjadi 6,9 persen," katanya.

Menurut Dewi tingkat kecepatan penanganan pasien di rumah sakit sangat berpengaruh dengan angka kematian yang dihadapi Indonesia saat ini. "Banyak orang yang datang ke rumah sakit, saturasi oksigen sudah sangat rendah," katanya.

Hasil laporan pada Mei 2021, sebanyak 11 persen orang yang datang ke IGD dengan saturasi oksigen sudah di bawah 80 dari kondisi normal di kisaran 95. Pada Juni naik 13 persen, pada Juli bahkan mencapai 22 persen.

"Ini seperti lima orang pergi ke rumah sakit bersamaan sudah sesak napas sekali kondisinya. Tapi saat ini masih kita melihat beberapa angka turun di bawah 20 persen di bulan Agustus ini," katanya.

Baca juga: Pengetatan dan pelonggaran PPKM disesuaikan kondisi kasus di daerah

Pewarta : Andi Firdaus
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar