Program Ngopi Doeloe raih penghargaan ISDA 2021

id Pertamina,ISDA 2021,Kopi

Program Ngopi Doeloe raih penghargaan ISDA 2021

Program Ngopi Doeloe di Jakarta, Jumat (17/9/2021). ANTARA/HO-PGE/aa.

Jakarta (ANTARA) - PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) yang menciptakan program Ngopi Doeloe memperoleh penghargaan Indonesia Sustainable Development Goals Award (ISDA-2021)

Program Ngopi Doeloe disebut meraih penghargaan pada kategori Sustainable Development Goals (SDG’s) 8.31 dalam sektor pemberdayaan usaha/lembaga ekonomi masyarakat yang telah mendapatkan dukungan dari pemerintah.

"PGE berkomitmen maju bersama masyarakat dan menciptakan multiplier effect bagi masyarakat sekitar area operasi. Hal ini selaras dengan poin 8 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals, yaitu pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi," ungkap dia sebagaimana tertera dalam keterangan pers, Jakarta, Jumat.

Pada mulanya, seorang pemuda alumni Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bernama Kukuh Diki Presetia memiliki lahan kopi seluas 100 hektar di Ulubelu, Tanggamus, Lampung.

Kukuh dikatakan fokus mengembangkan perkebunan kopi, mulai saat tanam hingga pasca-panen. Juga, membangun kedai kopi berbasis edukasi di lahan rumahnya.

Dia juga memiliki kedai Kopi Beloe yang menjadi mitra pemerintah daerah untuk mengedukasi para petani dan anak muda seantero negeri yang ingin menekuni bisnis kopi.

Misalnya, meningkatkan kesejahteraan petani Ulubelu dan mengangkat kopi khas Lampung ini ke berbagai penjuru.

Hal inilah yang membuat PGE tertarik menciptakan program Ngopi Doeloe melalui program CSR.

"Awalnya 2018 itu rekan-rekan dari PGE suka ngopi di tempat saya. Kita ngobrol banyak, lalu kita dibantu dalam edukasi petani dan masyarakat Ulubelu dalam meningkatkan kualitas kopi dari sini," cerita Kukuh.

Program Ngopi Doeloe merupakan inisiasi dari PGE dengan pemerintah setempat yang berfokus pada pengelolaan pasca-panen benih kopi dengan tujuan untuk menciptakan kemandirian petani kopi di Ulubelu dalam mengolah hasil panen, sehingga berdampak pada harga jual kopi olahan yang lebih tinggi.

Berdasarkan data Social Maping pada 2019, dipaparkan sebanyak 83,3 persen penduduk Ulubelu memiliki profesi sebagai petani kopi, namun belum memiliki edukasi yang cukup mengenai pengolahan pasca-panen. Sehingga, menyebabkan para petani harus menjual benih kopi dengan harga yang lebih murah.

Adanya program ini dinyatakan untuk membantu para petani mulai dari pembibitan, perawatan, panen, sortasi biji, penjemuran, sangrai/roasting, giling, pengemasan, pemasaran, dan pengolahan varian produk.

Selain itu, PGE juga membentuk Rumah Belajar Kopi sebagai sarana bagi para petani untuk pengembangan pengetahuan kelompok petani dan masyarakat.

Adapun dari segi inovasi, dijelaskan bahwa telah menghadirkan tiga inovasi yang membantu para petani untuk mengolah benih kopi. Seperti inovasi pengering kopi memanfaatkan panas dari brine, inovasi sangrai hemat biaya, dan inovasi sortasi.

"Melalui program Ngopi Doeloe ini PGE bersama pemerintah setempat berkolaborasi melalui pengadaan alat produksi pasca panen, Rumah Belajar Kopi, pelatihan pasca-panen, inovasi mesin roasting, pembangunan mini-lab, mini coffee shop dan galeri penelitian kopi," tambah Corporate Secretary PT PGE, Muhammad Baron.

Baron mengharapkan program ini dapat membantu mewujudkan kemandirian petani, meningkatkan taraf perekonomian daerah, serta Ulubelu dapat menjadi sentra produksi Kopi Robusta ke depan.

Sebagai tambahan, kopi Ulubelu telah merambah ke dunia internasional, seperti telah diekspor ke Italia dan menjadi pemasok pada salah satu kedai di Singapura.
Baca juga: Temanggung gelar "Ngopi Jumat" untuk promosikan kopi
Baca juga: Menkop lepas ekspor biji kopi hasil koperasi di Subang ke Arab Saudi

 


Pewarta : M Baqir Idrus Alatas
Editor: Royke Sinaga
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar