Pakar: Akselerasi vaksinasi percepat menuju endemi

id ULM,Universitas Lambung Mangkurat,Prof Dr dr Syamsul Arifin MPd,endemi

Pakar: Akselerasi vaksinasi percepat menuju endemi

Anggota Tim Pakar Universitas Lambung Mangkurat (ULM) untuk Percepatan Penanganan COVID-19 Prof Dr dr Syamsul Arifin MPd. (ANTARA/Firman)

Banjarmasin (ANTARA) - Anggota Tim Pakar Universitas Lambung Mangkurat (ULM) untuk Percepatan Penanganan COVID-19 Prof Dr dr Syamsul Arifin MPd mengatakan program akselerasi vaksinasi dapat mempercepat upaya Indonesia keluar dari situasi pandemi menuju endemi.

"COVID-19 akan berubah menjadi endemi tatkala tingkat penularan terkendali dan telah terbentuk kekebalan kelompok di tengah masyarakat yang bisa terwujud hanya dengan vaksinasi," kata dia di Banjarmasin, Selasa.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), konsep pandemi yang sudah terkendali dalam suatu wilayah di antaranya terjadi penurunan insidensi kasus konfirmasi dan probable yang berkelanjutan minimal 50 persen selama tiga minggu terakhir, positivity rate atau rasio antara jumlah orang yang mendapat hasil positif lewat tes dengan total jumlah tes di bawah liima persen minimal selama dua minggu terakhir, serta penurunan jumlah kematian pada kasus terkonfirmasi selama tiga minggu terakhir.

Berdasarkan kasus COVID-19 yang saat ini terus melandai, Syamsul optimistis endemi bisa terwujud dengan syarat vaksinasi cepat dilakukan sesuai capaian yang ditargetkan, yakni minimal 70 sampai 80 persen dari total populasi.

Namun demikian, kata dia, program vaksinasi yang sekarang dilakukan pemerintah diperlukan upaya yang optimal agar dapat mendorong terbentuknya kekebalan kelompok.

Baca juga: Satgas IDI: Gelombang ketiga bergantung ketaatan prokes dan PPKM

Jika secara teoritis diperlukan 70-80 persen populasi yang telah vaksinasi, katanya, pada kasus ini di Indonesia diperlukan hampir 100 persen populasi sudah harus tervaksinasi mengingat efektivitas vaksinasi yang diberikan di Indonesia sebagian besar vaksin Sinovac yang efektivitasnya hanya 65 persen.

Artinya, kata dia, meskipun populasi telah vaksinasi 100 persen kekebalan yang terbentuk baru 65 persen.

"Semoga dengan vaksinasi yang sekarang sedang berlangsung dengan jenis vaksin-vaksin lain yang efektivitasnya lebih tinggi dapat meningkatkan kekebalan secara keseluruhan," tutur Guru Besar Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran ULM itu.

Oleh karena itu, kata dia, bangsa ini tidak bisa hanya mengandalkan vaksin semata, karena tidak ada satu pun vaksin di dunia yang memiliki efektivitas 100 persen dalam mencegah COVID-19.

Pemerintah bersama masyarakat harus terus didorong mengurangi risiko penularan virus dengan menerapkan protokol kesehatan 5M, pola hidup sehat untuk peningkatan imunitas dan kegiatan mengidentifikasi warga terpapar dengan terus melaksanakan 3T (testing, tracing, treatment) tetap terus dilaksanakan.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan per 18 Oktober 2021, vaksinasi dosis pertama sudah 107.981.016 orang atau 51,85 persen, sedangkan dosis kedua 63.188.800 orang atau 30,34 persen dari target total vaksinasi COVID-19 sebanyak 208.265.720 orang.

Baca juga: Menkes: Varian obat baru beri harapan menuju endemi
Baca juga: Surveilans, prokes, vaksinasi COVID-19 kunci menuju endemi COVID-19
Baca juga: Epidemiolog sebut penanganan COVID-19 di Indonesia sudah baik


Pewarta : Firman
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar