Peneliti AstraZeneca transfer teknologi kejar produksi 3 miliar vaksin

id vaksin AstraZeneca, produksi vaksin, Oxford

Peneliti AstraZeneca transfer teknologi kejar produksi 3 miliar vaksin

Arsip foto - Perawat menyiapkan jarum suntik untuk vaksin COVID-19 di Madrid, Spanyol, Juli 2021. (ANTARA/Reuters).

Jakarta (ANTARA) - Tim peneliti vaksin AstraZeneca dari Jenner Institute Universitas Oxford melakukan transfer ilmu pengetahuan dan teknologi ke berbagai negara di dunia untuk mengejar target produksi 3 miliar dosis vaksin AstraZeneca pada akhir 2021.

"Berkaitan dengan AstraZeneca, kita memiliki target distribusi produksi 3 miliar dosis di akhir 2021. Saat ini 1,7 miliar atau hampir 2 miliar dosis," kata salah satu penemu formula vaksin AstraZeneca Carina Citra Dewi Joe kepada Antara TV yang diikuti dari Jakarta, Selasa.

Carina mengatakan proses produksi vaksin AstraZeneca saat ini dibantu oleh berbagai fasilitas produksi di lima benua, 15 negara dan 25 laboratorium.

Hingga saat ini, kata Carina, AstraZeneca telah menyuplai kebutuhan vaksin ke berbagai negara berkembang di dunia melalui fasilitas Covax.

Baca juga: Peneliti: Vaksin intranasal AstraZeneca efek sampingnya lebih ringan

Baca juga: 1,2 juta vaksin AstraZeneca tiba di Indonesia penuhi kebutuhan vaksin


"90 persen suplai dari Covax ke negara berkembang. Kita terus perbaiki proses manufaktur supaya target cepat tercapai," katanya.

Strategi lain menggenjot cakupan vaksinasi AstraZeneca kepada populasi dunia adalah membangun kesepakatan untuk membanderol vaksin dengan harga terjangkau.

Carina mengatakan Oxford memberikan pandangan kepada perusahaan AstraZeneca bahwa banyak negara berkembang memiliki kemampuan finansial yang kurang namun membutuhkan vaksin.

"Kalau mau kerja sama dengan AstraZeneca, mereka tidak boleh ambil keuntungan selama pandemi. Itu ketentuan dari Oxford sebelum kerja sama dengan AstraZeneca," katanya.

Peraih penghargaan Pride of Britain di bidang kesehatan itu berpandangan kehadiran vaksin lewat kerja keras peneliti harus menguntungkan banyak masyarakat serta menyelamatkan kehidupan.

"Harapannya negara berkembang beli vaksin ini dengan harga terjangkau supaya banyak nyawa yang terselamatkan," katanya.

Baca juga: Menkes yakin vaksin di Indonesia mampu hadapi varian baru COVID-19

Baca juga: Indonesia, Selandia Baru tegaskan pentingnya kesetaraan akses vaksin

Pewarta : Andi Firdaus
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar