Puluhan perahu nelayan rusak diterjang gelombang pasang

id gelombang pasang,kapal rusak dan karam

Puluhan perahu nelayan rusak diterjang gelombang pasang

Dokumentasi Gelombang laut di Pantai Losari Makassar mencapai tiga meter, Minggu (16/1/2011). Dalam sepekan terakhir Makassar diguyur hujan yang disertai angin kencang dan menurut BMKG Makassar, gelombang laut di Perairan Makassar mencapai 3-5 meter dengan kecepatan angin mencapai 20 km per jam dan akan berlangsung hingga akhir Januari 2011. (FOTO ANTARA/Yusran Uccang)

Sukabumi (ANTARA News) - Puluhan perahu milik nelayan di Pantai Ujunggenteng, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat rusak akibat diterjang bencana gelombang pasang yang terjadi pada Minggu, (27/5).

"Ada sedikit 40 unit yang rusak bahkan tujuh diantaranya hancur dan karam," kata Kepala Seksi Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi Eka Widiaman di Sukabumi, Minggu.

Informasi yang dihimpun, badai dan gelombang pasang tersebut terjadi sejak Minggu sekitar pukul 06.00 WIB dan hingga kini masih terus terjadinya. Akibat gelombang laut yang tinggi perahu nelayan yang tengah disandarkan terhempas.

Mayoritas perahu yang rusak yakni jenis Kincang yang merupakan perahu tradisional yang memiliki sayap terbuat dari fiber. Perahu tersebut mayoritas milik nelatan di Kecamatan Ciracap dan ada juga yang dari Kabupaten Garut.

Hingga saat ini petugas gabungan masih berada di lokasi utnuk melakukan pendataan dan memeriksa kondisi material milik nelayan yang rusak dan hilang akibat bencana tersebut.

"Untuk kerugian masioh alam perhitungan dan tidak menutup kemungkinan mencapai ratusan juta rupiah yang dikarenakan cukup banyak perahu nelayan yang rusak belum lagi fasilitas lainnya," tambahnya.

Sementara, Ketua Forum Koodinasi SAR Daerah Kabupaten Sukabumi Okih Fajri mengatakan bencana gelombang pasang ini merupakan siklus alam tahunan. "Kami pun sudah menugaskan anggota untuk membantu nelayan yang menjadi korban bencana," katanyal.

Pewarta : Aditia Aulia Rohman
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA

Komentar