Batusangkar (ANTARA) - "Banyak jalan ke Roma" ungkapan itulah yang mungkin yang paling tepat disematkan pada kisah sukses Fitra Yulia dengan usaha mikro Kacang Pias Fitra yang dirintisnya di Simabur Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.

Bercita-cita menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) selepas menamatkan kuliah, angkatan 92 Fakultas Antropologi Universitas Andalas (Unand) padang ini malah tersesat ke jalan yang benar menjadi pengusaha.

Pada jalan inilah ternyata sukses itu akhirnya ia dapatkan dengan omzet usaha yang lumayan, sekitar Rp75 juta sebulan.

Namun jamaknya pada kisah sukses pengusaha yang merintis usaha dari nol, banyak kerikil tajam yang harus dilalui oleh Fitra bersama suaminya, Is.

"Di kampung ini, pekerjaan paling layak untuk tamatan perguruan tinggi itu, ya, PNS. Itu menjadi ukuran sukses atau tidak. Karena itu saat awal mula menggeluti usaha kacang pias ini pada 2002, banyak nada sumbang dan hinaan yang datang," cerita Fitra.

Namun, hinaan itulah kemudian yang menjadi pemicu semangatnya untuk sukses di jalan yang telah dipilihnya bersama suami tersebut. Mereka berupaya berinovasi dengan produk kacang pias resep keluarga, menyesuaikannya dengan selera pasar.

Kacang pias adalah produk makanan ringan berbahan dasar kacang tanah yang dihaluskan, dicampur gula aren lalu dicetak pipih berbentuk segi empat. Produk bercita rasa renyah manis ini cocok untuk dijadikan cemilan pagi atau sore hari bersama teh atau kopi.

 
Proses pengemasan usaha Kacang Pias Fitra di Simabua, Kabupaten Tanah Datar. (ANTARA SUMBAR/ Miko Elfisha)



Pasar untuk produk makanan khas daerah itu juga dimulai Fitra di lingkungan kecil keluarga dan kedai sekitar rumah. Sedikit demi sedikit, setelah produknya mulai dikenal, pemasaran dikembangkan ke daerah-daerah lain.

Tetapi titik balik usaha itu menjadi sukses seperti saat ini terjadi pada 2004 saat Fitra mulai aktif mengikuti pameran dan lelang produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang dilaksanakan beberapa kali setahun oleh Pemerintah Tanah Datar

Pameran dan lelang itu tidak hanya memamerkan produk hasil UMKM daerah, tetapi sekaligus memfasilitasi agar pembeli atau pengusaha besar bisa bertemu langsung dengan produsen sehingga memungkinkan terjadinya transaksi besar dan kontinu yang menguntungkan UMKM.

Kemanapun kegiatan pameran dan lelang itu, produk Kacang Pias Fitra pasti menjadi salah satu peserta dan terpajang di stan Pemkab Tanah Datar. Meski secara materil sebenarnya rugi, tetapi secara promosi sangat besar sekali pengaruhnya.

Produknya mulai dikenal di luar daerah, tidak hanya terbatas di Tanah Datar saja sehingga pemasaran bisa lebih luas.

Pada suatu kali, pengelola salah satu toko oleh-oleh ternama di Sumbar, Cristine Hakim mengunjungi lelang produk itu. Mencoba produk kacang pias Fitra dan memberikan masukan agar campuran kacang itu tidak lagi gula aren seperti resep aslinya, tetapi menggunakan gula pasir.

Kacang pias dengan gula aren memang sudah banyak diproduksi. Citarasanya sulit dibedakan antara produk UMKM yang satu dengan yang lain. Menggunakan gula pasir akan menjadi pembeda bagi produk kacang pias Fitra.

Lalu dimulailah dicoba meramu menentukan komposisi yang tepat untuk kacang pias gula pasir. Maklum, hal itu jarang bahkan mungkin belum pernah dicoba sebelumnya. Mungkin karena biaya produksi dengan gula pasir lebih tinggi daripada menggunakan gula aren. Setelah beberapa kali mencoba, ternyata gula yang digunakan tidak bisa pula sembarangan, harus gula pasir putih. Itu jenis gula yang paling mahal pula.

 
Kemasan usaha Kacang Pias Fitra di Simabua, Kabupaten Tanah Datar. (ANTARA SUMBAR/ Miko Elfisha)



Penggunaan gula pasir putih itu untuk membuat produk yang dihasilkan bisa bewarna lebih cerah, berbeda dari warna jika menggunakan gula aren sehingga lebih menggugah selera konsumen.

Meski secara produk telah diakui pengelola toko oleh-oleh Cristine Hakim, namun kerjasama tidak otomatis terjalin. Faktor utama yang menjadi kendala adalah kebersihan ruang produksi.

"Ini salah satu pelajaran paling besar yang kami petik dari Cristine Hakim. Ruang produksi harus benar-benar terjamin kebersihannya. Boleh sederhana, tapi bersih. Pekerja juga harus punya standar kebersihan saat bekerja," ujar Fitra.

Standar kebersihan itu yang kemudian benar-benar dipegang dan dipertahankannya hingga mendapatkan kepercayaan dari sejumlah toko oleh-oleh besar di Sumbar untuk menjalin kerjasama.

"Kini omzet sudah mencapai Rp75 juta perbulan. Produk yang dibuat tidak lagi hanya kacang pias, tetapi dikembangkan dengan kipang kacang, dakak-dakak dan olahan kacang lainnya," katanya.

Usaha itu juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar. Sehari-hari ada delapan orang tenaga kerja tetap yang bekerja membuat pias kacang dan produk lainnya. Pada hari-hari tertentu saat permintaan meningkat, tenaga kerja bertambah.

Sukses dalam penjualan produk yang mulai ditapaki itu membuat Fitra sering diundang untuk memberikan motivasi pada calon-calon pengusaha muda. Usahanya juga mendapat perhatian pemerintah dan mendapatkan banyak penghargaan tingkat kabupaten, provinsi hingga nasional.

Seiring waktu perlahan-lahan tidak ada lagi hinaan yang terdengar. Tidak ada lagi suara-suara sumbang yang menilai kesuksesan itu adalah berhasil jadi PNS.

Saat ini ia terus berupaya untuk mengembangkan pasar hingga ke luar Sumbar. Jaringan dibangun dengan berbagai cara, salah satunya dengan tetap mengikuti pameran-pameran oleh pemerintah daerah, terutama di luar provinsi.


Anomali kemasan

Salah satu faktor yang selalu disebut-sebut membuat UMKM di Sumbar sulit berkembang adalah kemasan (packaging). Kemasan yang tidak menarik dan masih tradisional membuat nilai produk tidak bisa bersaing. Nilai jual produk juga tidak bisa ditingkatkan.

Namun, ternyata persoalan itu tidak bisa digeneralisasi untuk produk kuliner atau makanan. Uji coba pasar yang dilakukan usaha kacang pias Fitra, kemasan yang relatif baik dan dibuat menarik, ternyata tidak serta merta membuat konsumen tertarik membeli. Bahkan nilai penjualan menurun.

"Kita juga sudah coba membuat "jendela", agar konsumen bisa melihat isi produk. Tetapi tidak membantu penjualan," katanya.

Konsumen sepertinya lebih tertarik dengan kemasan tradisional berupa plastik transparan yang memperlihatkan keseluruhan produk. Mungkin karena produk makanan, konsumen ingin benar-benar yakin bahwa kondisinya baik.

"Saat ini kami kembali menggunakan kemasan tradisional, karena itu yang lebih disukai konsumen," ujarnya.*


Baca juga: Kopi kawa daun lemon jadi minuman spesial Jambore PKK 2019

Baca juga: Warga Tanah Datar pertahankan tradisi 'Malamang' jelang Lebaran

Editor: Erafzon Saptiyulda AS
Copyright © ANTARA 2019