Tana Tidung (ANTARA) - Salah satu program prioritas yang dicanangkan Pemerintah Pusat melalui Menteri Pertanian ialah cetak sawah yang diutamakan pada daerah-daerah potensial seperti Kalimantan dan Sulawesi.

Saat ini beberapa daerah di Kalimantan Utara ( Kaltara ) sudah mulai melakukan pengusulan cetak sawah dengan menggandeng instansi terkait seperti TNI.

Namun untuk saat ini Kabupaten Tana Tidung belum melakukan pengusulan cetak sawah dan masih fokus pada pemanfaatan lahan-lahan yang sudah ada.

Pemerintah Kabupaten Tana Tidung melalui Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DPPP) terus berupaya meningkatkan produktivitas pertanian dengan fokus pada kegiatan optimalisasi lahan sawah.

Program ini dijalankan melalui kolaborasi bersama TNI dengan luas lahan mencapai sekitar 300 hektare.

Kepala DPPP Tana Tidung, Rudi, mengatakan saat ini pihaknya tengah memaksimalkan potensi lahan yang sudah ada dengan meningkatkan luas tambah tanam dan indeks pertanaman.

“Saat ini kita masih fokus di kegiatan optimalisasi lahan sawah yang berkolaborasi dengan teman-teman TNI dan luasannya ada sekitar 300 hektare. Makanya kami sekarang lagi memaksimalkan luas tambah tanamnya,” ujar Rudi di Tana Tidung beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan, Kabupaten Tana Tidung belum mengusulkan program cetak sawah baru karena sebagian besar wilayahnya merupakan kawasan hutan dan sumber daya manusia (SDM) kelompok tani yang sudah berusia lanjut.

“Untuk cetak sawah, KTT belum mengusulkan karena sebagian wilayahnya juga banyak kawasan hutan, kemudian kondisi kelompok-kelompok taninya memang banyak SDM-nya yang sudah tua,” jelasnya.

Untuk saat ini, DPPP fokus memaksimalkan lahan yang sudah ada agar produktivitasnya meningkat.

Melalui program optimalisasi, indeks pertanaman (IP) yang sebelumnya satu kali per tahun ditargetkan dapat ditingkatkan menjadi dua hingga tiga kali musim tanam per tahun.

“Jadi sementara ini lahan yang sudah ada kita maksimalkan luas tambah tanamnya, luas panennya, indeks pertanamannya dari indeks satu per tahun bisa dinaikkan ke indeks dua atau tiga per tahun,” paparnya.

Sementara itu, beberapa daerah di Kalimantan Utara seperti Tarakan dan Bulungan sudah mengajukan program cetak sawah.

DPPP Tana Tidung masih menunggu hasil pelaksanaan program di daerah tersebut sebelum melakukan pemetaan potensi lahan baru.

“Kalau tidak salah yang sudah mengusulkan Tarakan sama Bulungan. Jadi kami masih mengamati progres mereka, dan setelah itu baru kami akan mapping lahan-lahan yang bisa dicetak,” kata Rudi.

Sebagai langkah konkret dalam mendorong pertanian modern, DPPP Tana Tidung juga telah membentuk satu Brigade Pangan yang dilengkapi alat dan sarana pertanian dari Kementerian Pertanian.

“Kebetulan juga di Tana Tidung sudah dibentuk satu brigade pangan. Jadi nanti brigade pangan ini yang akan mentransfer teknologi pertanian modern ke kelompok-kelompok tani yang lain,” ungkapnya.

Rudi menjelaskan, brigade pangan berfungsi untuk mengimplementasikan teknologi pertanian modern, mulai dari pengolahan tanah, pemupukan, pengendalian hama penyakit, hingga perbaikan sistem irigasi.

Melalui inovasi ini, diharapkan produktivitas sawah di Tana Tidung meningkat signifikan.

“Artinya brigade pangan ini nanti akan melaksanakan teknologi pertanian yang modern. Harapannya, kelompok tani yang masih tradisional bisa belajar ke brigade pangan,” ujarnya.

Saat ini, total sawah di Kabupaten Tana Tidung mencapai sekitar 450 hektare yang terbagi atas dua model, yakni sawah lahan kering dan sawah irigasi.

“Kalau sawah di KTT itu ada dua model, sawah lahan kering dan sawah irigasi. Totalnya sekitar 450 hektare,” kata Rudi.

Ia menjelaskan, sawah lahan kering biasanya memiliki indeks panen satu kali per tahun karena disesuaikan dengan kondisi iklim dan serangan hama.

Petani setempat masih memegang kearifan lokal dalam menentukan waktu tanam yang aman dari gangguan hama seperti burung dan tikus.

“Kalau sawah lahan kering itu IP-nya satu, karena masyarakat menyesuaikan dengan kondisi hama dan musim. Biasanya tanam di bulan 9 atau 10 dan panen di bulan 2 atau 3, itu masa yang aman,” jelasnya.

Sementara untuk sawah irigasi, dengan dukungan teknologi dari brigade pangan, indeks panennya ditargetkan bisa meningkat menjadi dua hingga tiga kali per tahun.

“Dengan adanya brigade pangan, sawah irigasi ini diharapkan indeks panennya bisa dua sampai tiga kali. Harapannya, sekali panen bisa menghasilkan di atas empat ton gabah kering giling per hektare,” ujarnya.

Sedangkan untuk sawah lahan kering, produksi diharapkan dapat mencapai lebih dari 500 kilogram per hektare. 

Pemerintah daerah juga telah memfasilitasi pemasaran hasil panen melalui kerja sama dengan Bulog dan program Gerakan Pangan Murah (GPM).

Baca juga: Bupati Tana Tidung Terima Anugerah Dwija Praja Nugraha dari PGRI
Baca juga: Pemkab Tana Tidung Sampaikan Jawaban Raperda Tahun Jamak dalam Rapat Paripurna DPRD


Pewarta : Redaksi
Editor : Susylo Asmalyah
Copyright © ANTARA 2025