Tanjung Selor (ANTARA) - Pekan depan, tepatnya 22 April 2020, Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) telah menginjak usia yang ke-7 tahun. Meski masih muda, Kaltara telah banyak mampu berkontribusi banyak bagi republik ini. Itu dapat dilihat dari banyak pencapaian positif sejak Kaltara diresmikan sebagai provinsi baru pada 22 April 2013 lalu. Bagaimana capaian yang diraih selama ini? Berikut catatannya.

Sebagai provinsi termuda, bukan berarti Kaltara berada di belakag. Kaltara bisa sejajar dengan provinsi lain di Tanah Air. Bahkan bisa melampaui! Sederat penghargaan diraih. Bukan itu saja, secara data ekonomi makro, juga menunjukkan angka yang positif dan menggembirakan.

Pertumbuhan ekonomi Kaltara terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun . Terakhir pada 2019, data Badan Pusat Stitistik (BPS) menunjukkan ekonomi Kaltara tumbuh 6,91 persen. Jauh meningkat dibandingkan pertumbuhan ekonomi pada 2016 sebesar 4,27 persen. Kaltara juga selalu tertinggi di wilayah Kalimantan, dan berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional.

Tingginya pertumbuhan ekonomi selama ini, juga sejalan dengan penurunan angka kemiskinan. Dari sebesar 9,5 persen  atau 54.960 jiwa pada 2013 atau saat Kaltara baru terbentuk, data terakhir pada 2019 angka kemiskinannya 6,49 persen atay 48.610 jiwa.

Tumbuhnya ekonomi yang cukup tinggi, ditambah turunnya angka kemiskinan di Kaltara seimbang dengan angka gini ratio, yang hanya 0,292 (masuk dalam tataran 5 besar terbaik di Indonesia). Begitu dengan nilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM), di mana Kaltara tertingi kedua di Kalimantan setelah Kaltim, dengan nilai 71,16.

Untuk kembali mengingatkan, tonggak pemerintah provinsi Kaltara dimulai pada 2013. Tujuh tahun silam, menjadi momen bersejarah, di mana pada hari Senin, tanggal 22 April 2013 Provinsi Kaltara diresmikan menjadi Daerah Otonomi Baru (DOB) oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) kala itu Gamawan Fauzi, mewakili Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Bersamaan dengan itu, dilantik Irianto Lambrie sebagai Penjabat (Pj) Gubernur Kaltara.

Dari 0. Begitu yang kerap disampaikan H Irianto Lambrie, Gubernur Kaltara menceritakan perjalanan memimpin provinsi ke-34 di Tanah Air ini sejak awal. “Saat itu, kita tidak punya apa-apa. Semua dari 0. Tidak punya pegawai, apalagi APBD, belum ada. Uang kita 0 rupiah pada saat saya pertama kali di Kaltara, sebagai Penjabat Gubernur. Kantor tidak ada, kurang lebih 8 bulan ngantor di hotel melati,” kata Irianto mengisahkan awal memimpin Kaltara.

Diawali dengan niat yang lurus, dan kerja keras, akhirnya pelan dan pasti, roda pemerintahan Kaltara mulai bergerak. Bahkan lebih cepat dari yang diperkirakan. Semua atas kerja keras, kerja cerdas dan ikhlas yang dijalaninya bersama sejumlah staf yang direkrut.

“Alhamdulillah, dengan niat yang lurus, dan melalui berbagai upaya kita, sekarang Kaltara sudah mampu banyak membangun. Tak hanya dalam pengelolaan pemerintahan, tapi juga sejumlah infrastruktur telah dibangun di Kaltara. Dan yang lebih pentingnya lagi, telah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” katanya.

Irianto menyebut, ada empat kunci utama yang diterapkan dalam membangun. Yaitu, inovasi, kemampuan networking, teknologi dan sumber daya alam yang dimiliki. “Empat kunci ini berdasar hasil penelitian Bank Dunia selama bertahun-tahun. Dan hasilnya, melalui 4 hal itu, banyak negara yang berhasil dan maju,” lanjut Gubernur.

Empat strategi tersebut yang diterapkan Irianto Lambrie saat menjadi Penjabat (Pj) Gubernur hingga sebagai gubernur definitive Kaltara yang terpilih melalui Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) langsung pada 2015 lalu, berpasangan dengan wakilnya H Udin Hianggio.

Pemenuhan Sumber Daya Manusia (SDM) hingga sarana infrastruktur menjadi prioritas utama yang digenjot Gubernur. Selain infrastruktur pendidikan, kesehatan, jalan dan jembatan, sarana transportasi dan membuka konektifitas, utamanya ke wilayah yang masih terisolisir merupakan hal yang sangat penting.

Tak hanya duduk manis di belakang meja, Irianto aktif melakukan komunikasi dan gencar mempromosikan, sekaligus menggaet investor baik di dalam maupun luar negeri untuk berinvestasi ke Kaltara.

Kemampuan networking. Satu dari empat strategi yang diterapkan oleh Irianto Lambrie. Lewat kemampuannya, melakukan komunikasi dan lobi-lobi ke pemerintah pusat, melalui sejumlah kementerian, bahkan langsung ke Presiden, Irianto berhasil membawa keuntungan untuk Kaltara. Perhatian penuh diberikan oleh pemerintah pusat melalui kementrian terkaitnya ke provinsi yang berada di perbatasan negara ini.

Selain alokasi anggaran yang terus meningkat, pemenuhan sarana infrastruktur, pemerintah di Kaltara akhirnya bisa terpenuhi. Jalan-jalan dan jembatan yang representatif mulai terbangun. Utamanya untuk membuka akses ke wilayah perbatasan dan pedalaman. Kemudian secara bertahap juga dilengkapi sarana pendidikan, kesahatan dan lainnya.(bersambung)


Pewarta : Muklis
Uploader : Firsta Susan Ferdiany
Copyright © ANTARA 2024