Tarakan (ANTARA) - Teknologi digital telah mengisi  diberbagai aspek, yaitu  aspek sosial, aspek budaya, aspek politik dan  aspek ekonomi. 

Melihat berbagai data dari beberapa sumber, aspek ekonomi sangat berdampak adanya teknologi digital ini dan khususnya dalam bidang e-commerce yang mempunyai dampak langsung terhadap pertumbuhan fintech serta sistem pembayaran digital.

Dilansir oleh laporan e-conomy SEA 2019 Google, Indonesia merupakan salah satu Negara Asia Tenggara yang memiliki pertumbuhan tercepat di dalam ekonomi digital. 

Perusahaan sistem pembayaran (payment) dan layanan jasa keuangan, bertumbuh dengan cepat.

Pertumbuhan yang pesat pada perusahaan fintech serta system pembayaran digital menjadikan tantangan kebijakan bagi Indonesia. 

Bagaimana menemukan keseimbangan antara memanfaatkan peluang digital dan memitigasi risiko ?.  
Saat ini perusahaan fintech pertumbuhan sangat pesat dan adanya fintech dapat dikatakan bisa menjadi berkah bagi bangsa ini.

Namun juga tidak dipungkiri bahwa perkembangan fintech yang pesat perlu dibutuhkan pengawasan yang ketat. 

Sistem pembayaran dan instrumentnya terus mengalami evolusi seiring dengan perkembangan teknologi, perjalanan atau evolusi dari pada uang dan sistem pembayaran. 

Merespon pesatnya pertumbuhan perusahaan fintech, Bank Indonesia (BI) merilis aturan main Quick Response (QR) Code Indonesia Standard (QRIS) melalui Peraturan Anggota Dewan Gubernur Nomor 21 Tahun 2019 tentang Implementasi QRIS untuk pembayaran. QRIS adalah penyatuan berbagai macam QR dari berbagai Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP) menggunakan QR Code. 

Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan QRIS untuk mendorong akselerasi digital ekonomi dan keuangan yang inklusif dan efesien.

Sejak diimplementasikannya QRIS per-1 Januari 2020, volume transaksi QRIS terus bertumbuh positif. Masyarakat semakin merasakan manfaatnya penggunaan pembayaran digital, QRIS sebagai alat transaksi merchant. 

QRIS telah digunakan mulai dari pedagang mikro, kecil, menengah, dan besar, pada berbagai sektor usaha, dan juga digunakan untuk donasi sosial keagamaan. QRIS sebagai transaksi pembayaran di berbagai sektor, memberikan banyak manfaat, diantaranya mendorong efesiensi perekonomian, mempercepat keuangan inklusi, memajukan UMKM, dan lain sebagainya. 
Akseptasi QRIS terus tumbuh meningkat, baik secara volume, nominal dan pengguna baru QRIS, terus mengalami peningkatan signifikan. 

Perkembangan QRIS pada RGD September 2022 menyatakan peningkatan QRIS Agustus 2022 Volume transaksi tumbuh 184 persen (YOY) atau 13 persen (MTM). Tren peningkatan QRIS terus berlanjut, peningkatan volume dan nominal bertumbuh positif seiring pertambahan merchant pengguna QRIS serta pertambahan pengguna baru QRIS.
 
Pengguna baru QRIS telah mencapai 12 juta pengguna, dengan tambahan yang cukup signifikan di bulan Agustus 2022 sebesar 1,5 juta. Penambahan ini seiring dengan diadakannya PON dengan mempromosikan penggunaan QRIS di masyarakat.

Berdasarkan data RGD September 2022, penambahan terbesar disuplai dari kawasan jawa dan sumatera, namun secara keseluruhan bahwa peningkatan signifikan tersebut telah melampaui atau melebihi target perluasan QRIS yang dicanangkan oleh Bank Indonesia. QRIS mendukung pemulihan ekonomi dan peluang ekonomi Indonesia, digitalisasi yang dapat mendorong efesiensi sektor perekonomian, mengembangkan pertumbuhan ekonomi, serta mempercepat keuangan secara inklusi. 

Peluang QRIS dalam perluasan pengguna di berbagai sektor masih memiliki peluang yang lebar, dan diperlukan komitmen untuk terus memperluas akseptasi QRIS di berbagai sektor, dan mengedukasi serta mengajak masyarakat menggunakan QRIS, untuk mendorong inklusi keuangan di Indonesia.

Dr. Ana Sriekaningsih.,S.E.,S.Th.,M.M
Dosen STIE Bulungan Tarakan
Anggota Forum Komunikasi Akademisi Penulis Populer Kebijakan Bank Indonesia

Baca juga: BNI: Ramadhan dan Lebaran 2022 momentum akselerasi transaksi QRIS
Baca juga: BI Dorong Perluasan Transaksi Non Tunai dan QRIS di Nunukan

Pewarta : Redaksi
Editor : Susylo Asmalyah
Copyright © ANTARA 2024