Jakarta (ANTARA) - Negara kiita tergolong  warganya paling kecanduan media sosial. Dari data laporan digital Indonesia tahun 2022, dari 204 juta pengguna internet, sebanyak 191,4 juta orang adalah pengguna aktif media sosial atau 68,9 persen dari total penduduk yang berjumlah 277 juta.

Menurut laporan, waktu yang dihabiskan dalam satu hari, untuk warga yang berusia 16-64 tahun mencapai tiga jam 17 menit rata-rata untuk berselancar di media sosial.

Ini sudah jauh lebih lama dibandingkan menonton televisi siaran ataupun streaming yang hanya 2 jam 50 menit, apalagi dengan melahap media cetak seperti suratkabar dan majalah (termasuk versi online-nya) yang hanya satu jam dan 47 menit. Yang paling sedikit di antara media massa adalah siaran radio yang hanya dinikmati selama 37 menit.

Apa boleh buat, para pengelola media massa tentu harus pandai meramu menu informasinya, mana yang disiarkan di media massa, mana yang diluncurkan di media sosial, agar pelanggannya tidak lari.

Upaya memadukan dua sisi penyajian informasi ini tidak mudah, di satu sisi tetap menjaga kualitas jurnalistik, setia pada visi misi, di sisi lain ingin agar beritanya dilirik kalangan muda pengguna medsos agar kliknya tinggi. Ada beberapa contoh sukses tetapi tidak sedikit yang terseok-seok dan terus mencari rumus terbaik.

Perkembangan teknologi informasi membuat perubahan perilaku masyarakat adalah sesuatu yang tidak terhindarkan, semuanya tersaji begitu saja entah kita sadari atau tidak, kita suka atau tidak suka. Penetrasi internet ke rumah membuat kita justru harus mampu mengelola waktu dan kalau perlu membuat batasan ketat agar tidak terseret pada hal-hal yang tidak perlu. Big data dan kecerdasan buatan membuat keinginan kita mudah terbaca produsen informasi khususnya yang berbau komersial. Kalau tidak mampu menjadi “gate keeper” habislah kita terombang-ambing dalam gelombang informasi, yang barangkali kebanyakan tidak memberi manfaat, berjam-jam membuang waktu.

Dalam laporan yang sama disebutkan, tujuan pertama menggunakan internet adalah mencari informasi, sebanyak 80,1 %. Kemudian sebanyak 72,9% menjadikan internet sebagai tempat untuk mencari ide dan inspirasi, tidak mengherankan karena di internet apa saja bisa ditemukan mulai dari urusan bisnis, percintaan, produk kreatif, masalah keagamaan, sampai lagu, film, untuk menyegarkan pikiran. Urutan ketiga, sebanyak 68,2 persen, konsumen menggunakan internet agar tetap terhubung dengan keluarga, teman sekolah, teman kantor, yang banyak dimanfaatkan untuk menjalin kegiatan sosial kemasyarakatan.

Nah yang keempat, sebanyak 63,4 persen pengguna internet adalah orang yang “kelebihan” waktu, tidak ada pekerjaan, sehingga betul-betul berselancar tanpa tujuan yang pasti. Buka sana, buka sini, tergantung mood. Kalau ada yang sedang viral, segera masuk internet, supaya tidak ketinggalan dari tetangga atau teman gossip. Kelompok ini pula yang naga-naganya, paling banyak menanggapi apapun yang sedang  menjadi “hot issue”, komentar sana, komentar sini, sehingga kadang-kadang terpeleset dan bisa kenal Pasal 27 dan Pasal 28 UU ITE.

Yang kelima, sebanyak 61,4 % menggunakan internet untuk follow-up berita yang sedang berlangsung, apakah karena sudah menonton di televisi, mendapatkan informasi dari teman di grup pertemanan, keluarga, dll. Misalnya saja soal bencana gempa di Cianjur, perkembangan tim favorit di Piala Dunia, atau sidang kasus Fredy Sambo.  Dengan jumlah sebanyak ini sebenarnya media siber dapat memanfaatkannya untuk memasok informasi yang sedang dibutuhkan para peselancar internet ini. Tinggal cek tren yang sedang viral, dan isi secepat mungkin.

Baca juga: Catatan Hendry Ch Bangun -Kredibilitas wartawan
Baca juga: Catatatan Hendry Ch Bangun -Tragedi Kanjuruhan dan awal kompetisi sepak bola Indonesia
 

***

Time flies, kata orang Inggris. Waktu berjalan, kata orang Indonesia. Jelas sekali beda persepsi di antara kedua bangsa ini tentang waktu, yang satu menganggapnya cepat berlalu karena terbang yang lainnya melihat lebih lamban, seperti berjalan saja. Siapapun tahu betapa pentingnya waktu, yang datang hanya sekali dan setelah itu pergi. Detik ini beda dengan detik mendatang meski ada di menit yang sama dan jam yang sama, hari ini beda dengan hari esok meskipun minggu dan bulannya sama.

Waktu harus dimanfaatkan saat dia datang, karena momentum hanya datang sekali. Setelah itu yang ada hanya sesal. Karena kita termasuk orang yang merugi. Sebagaimana difirmankan dalam kitab suci Al Qur’an, surat Al-Asr, Allah Swt bersumpah “Demi masa//sungguh manusia dalam kerugian//kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan menasehati untuk kesabaran//”.

Menggunakan waktu sebaik mungkin, tidak hanya ditujukan pada mereka yang sudah berusia senja—kerap ukurannya adalah yang sudah berusia di atas 60 tahun—tetapi terlebih-lebih baik kalangan muda, yang berada di usia produktif. Terus belajar dan belajar, bukan hanya di bangku kuliah tetapi dengan melihat contoh orang-orang yang berhasil mengelola hidupnya dengan baik. Mengambil kesempatan yang ada dan pandai memilah mana yang diprioritaskan, mana yang boleh ditinggalkan. Kalau ragu, tanya pada orang yang berpengalaman.

Aktor Tom Cruise mengatakan pentingnya waktu. Dia bangun di waktu subuh, dan baru tidur saat merasa pekerjaan hari itu sudah dianggap selesai. Orang-orang sukses tidak pernah membiarkan waktunya kosong, walau sesaat. Kalaupun ada saat dia tidak “memetik” uang, bisa jadi hari itu dia menangguk pahala karena berbagi pengalaman, menunjukkan tips untuk belajar disiplin dan mengasah ketrampilan, atau sekadar memberi inspirasi.

Maka kita mungkin keheranan kalau ada orang yang suka jam karet, menunda-nunda pekerjaan menjelang deadline, datang terlambat karena alasan macet atau ketinggalan kereta. Sebab ada pepatah, burung yang berangkat pagi-pagi untuk mencari makanan bagi anak-anaknya pasti selalu membawa hasil. Jadi, tidak ada alasan untuk terlambat. Kalau tahu potensi macet, yang berangkat lebih pagi. Saya termasuk orang yang benci pada keterlambatan karena selalu ingat nasehat dosen saat kuliah. “Saya lebih baik dipotong leher kalau sampai terlambat,” kata beliau, melihat ada teman yang bersantai datang di mata kuliahnya. Tepat waktu bagi saya harga  mati, selain tepat janji.

Khusus bagi wartawan waktu adalah kunci, dan tepat waktu adalah jati diri. Kalau tidak mampu silakan ganti profesi, karena itu mencederai martabat profesi. Saya beruntung dididik untuk selalu disiplin deadline, apapun taruhannya. Dan berupaya teguh memegangnya, meski sudah pensiun bekerja di suatu media, karena itu juga bermanfaat dalam menjalani hidup ataupun dalam berorganisasi.


Baca juga: Catatan Hendry Ch Bangun - Mengenang Prof Azyumardi Azra
Baca juga: Catatan Hendry Ch Bangun - Soal berita sepihak

***

Laporan digital Indonesia 2022 menunjukkan  media sosial Tiktok mengalami peningkatan luar biasa dibanding pesaingnya. Jika pada tahun 2021 hanya 38,7 % tahun ini melonjak ke 63,1 %. Dia naik ke peringkat keempat setelah Whatsapp (88,7%), Instagram (84,8%), dan Facebook (81,3%). Tiktok naik bersama Whatsapp, sedangkan Instagram dan Facebook turun, dan mengalahkan Telegram (62,81%) dan Twitter (58,3%).

Hasil penelitian yang dilakukan Dewan Pers bersama Universitas Prof Dr Moestopo pada tahun 2021 menempatkan Tiktok di posisi ke-8 (5,96%) ketika ditanya, tempat mengkonsumsi berita berdasarkan jenis media. Di bawah YouTube, Whatsapp, Instagram, Media Online, Televisi, Facebook, dan Twitter. Padahal di tahun 2020, dalam penelitian yang sama, Tiktok belum masuk daftar. Patut diduga, kalau penelitian dilakukan kembali (sayangnya tidak dilanjutkan), posisi Tiktok akan meningkat.

Kalau suka melihat (walau sebentar),Tiktok, tentu Anda akan memaklumi mengapa website ini popular. Dia menyajikan apa saja. Yang serius atau yang santai, yang unik, aneh, cara memasak dan membuat kue, semua berita terbaru, dan termasuk pesan-pesan kemanusiaan yang menyentuh hati. Dan selalu pula muncul tokoh baru, dari semula bukan siapa-siapa menjadi orang yang ditonton ratusan ribu atau jutaan orang. Contohnya ya orang Indonesia pegawai toko makanan cepat saji di Jerman, yang sampai didatangi tokoh-tokoh untuk “numpang ngetop” he..he..he.

Dijamin, kalaupun menonton 24 jam, Anda tidak akan bosan berselancar di Tiktok. Ada yang bermanfaat tentu saja, tetapi mungkin lebih banyak yang sekadar untuk menghibur diri dan buang-buang waktu. Yang positif tentu, cerita tentang orang baik (Samaritan) yang membantu kaum dhuafa, lembaga-lembaga kemanusiaan yang membutuhkan uluran tangan, pesan-pesan religious, tata cara agar doa cepat terkabul, dosa-dosa yang tidak termaafkan, tips agar tubuh sehat, mengurangi berat badan, manfaat berbagai tanaman herbal, dsb, dsb.

Saya pun kerap membuka media sosial, yang penting pandai mengatur waktu, dan memilih yang kontennya memberi manfaat. Medsos itu ibarat pisau bermata dua, kalau digunakan dengan baik maka dia memberi keuntungan, setidak-tidaknya nilai tambah bagi hidup.

Sementara kalau kita malah menjadi budak medsos dan seperti tidak mampu melepaskannya sehingga setiap menit tangan gatal kalau tidak membukanya, tentu itu tidak baik dan harus diubah. Kita yang mengatur, bukan diatur. Sebab kita tidak mau menjadi orang yang merugi, melewatkan waktu dengan hal-hal yang tidak perlu.

Semoga kita termasuk orang yang bijak menjalani waktu, karena dia tidak akan kembali. Sebesar apapun sesal, dia telah pergi.

oOo

Ciputat 27 November 2022



(* Hendry CH Bangun,
- wartawan senior
- Mantan Wakil Ketua Dewan Pers 
)

Baca juga: Catatan Hendry Ch Bangun -Masa Depan Medsos dan Eksistensi Media Massa
Baca juga: Catatan Hendry Ch Bangun - Jangan sampai tiga kali


Pewarta : Redaksi
Editor : Iskandar Zulkarnaen
Copyright © ANTARA 2024