Peninggalan sejarah yang merana
Kamis, 29 November 2018 5:45 WIB
Peninggalan sejarah Kaltara di Tarakan yang terlantar jadi tempat sampah (Datiz)
Tarakan (Antaranews Kaltara) - Sejumlah benda bernilai sejarah, antara lain tembok pertahanan dan pengintai (stelling) tentara Jepang pada perang dunia (PD) II di Tarakan, Kalimantan Utara dalam kondisi memprihatinkan.
Dilaporkan kondisi memprihatinkan terlihat sekitar enam stelling di sekitar depan Bandara Juwata Tarakan.
Lahan pada budaya material yang ditemukan di situs ini berupa bangunan untuk pertahanan itu tidak terurus bahkan di dalamnya tempat membuang sampah.
Lahan sekelilingnya juga sepertinya dikuasai warga untuk menanam sayuran, rumah serta pembuatan batako.
Padahal sesuai UU Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya, maka bangunan bersejarah itu harus dilestarikan.
Bangunan lain yang tampak terlantar adalah peninggalan bangunan kuno BPM (Bataafsche Petroleum Maatscappij) atau perusahaan minyak Belanda yang sudah beroperasi 1930-an.
Sesuai UU itu maka cagar budaya bukan hanya bersifat kebendaan (tangible) namun mengandung informasi (intangible).
Beberapa peninggalan cukup terawat dan menjadi obyek wisata sejarah, antara lain meriam anti-udara di Gunung Tembak Pantai Amal atau sejumlah bunker.
Pulau Tarakan adalah tempat tentara Jepang pertama kali mendarat di Indonesia 1942.
Kekayaan alam, minyak bumi dan posisi strategis jadi incaran negara lain baik Jepang maupun Belanda yang ingin kembali berkuasa dengan membonceng sekutu.
Dalam pertempuran sengit 1945 sedikitnya 225 tentara sekutu (Amerika, Inggris, Australia, dan Belanda) gugur dan 2.000 dari pihak Jepang.
Serangan udara, laut dan udara menyebabkan kerusakan sangat parah di Tarakan 1945.
Dilaporkan kondisi memprihatinkan terlihat sekitar enam stelling di sekitar depan Bandara Juwata Tarakan.
Lahan pada budaya material yang ditemukan di situs ini berupa bangunan untuk pertahanan itu tidak terurus bahkan di dalamnya tempat membuang sampah.
Lahan sekelilingnya juga sepertinya dikuasai warga untuk menanam sayuran, rumah serta pembuatan batako.
Padahal sesuai UU Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya, maka bangunan bersejarah itu harus dilestarikan.
Bangunan lain yang tampak terlantar adalah peninggalan bangunan kuno BPM (Bataafsche Petroleum Maatscappij) atau perusahaan minyak Belanda yang sudah beroperasi 1930-an.
Sesuai UU itu maka cagar budaya bukan hanya bersifat kebendaan (tangible) namun mengandung informasi (intangible).
Beberapa peninggalan cukup terawat dan menjadi obyek wisata sejarah, antara lain meriam anti-udara di Gunung Tembak Pantai Amal atau sejumlah bunker.
Pulau Tarakan adalah tempat tentara Jepang pertama kali mendarat di Indonesia 1942.
Kekayaan alam, minyak bumi dan posisi strategis jadi incaran negara lain baik Jepang maupun Belanda yang ingin kembali berkuasa dengan membonceng sekutu.
Dalam pertempuran sengit 1945 sedikitnya 225 tentara sekutu (Amerika, Inggris, Australia, dan Belanda) gugur dan 2.000 dari pihak Jepang.
Serangan udara, laut dan udara menyebabkan kerusakan sangat parah di Tarakan 1945.
Pewarta : Redaksi
Editor : Iskandar Zulkarnaen
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Tingkatkan Pemahaman Literasi Budaya, DPK Kaltara Gandeng Yayasan Sejarah dan Budaya Kaltara Menggelar Bedah Buku
30 October 2024 14:00 WIB, 2024
Timnas U 20 buat sejarah, hajar Argentina 2-1 di Seoul Earth On Us Cup
28 August 2024 19:48 WIB, 2024
Sejarah bergabung Kesultanan Bulungan dengan NKRI, Napak tilas pengibaran Merah Putih 17 Agustus 1949
17 August 2024 18:13 WIB, 2024
Akhirnya sejarah terukir, Indonesia lolos ke putaran ketiga Piala Dunia 2026
12 June 2024 0:05 WIB, 2024
Catatan Joko Supriyadi - Pertama kali Sang Saka Merah Putih berkibar di langit Bulungan: 17 Agustus 1949
29 May 2024 21:07 WIB, 2024
Erick Thohir resmikan wisata sejarah dan jurnalisme ANTARA Heritage Center
14 May 2024 20:19 WIB, 2024
Terpopuler - Kaltara
Lihat Juga
Bhabinkamtibmas Polresta Bulungan Didorong Untuk Menjadi 'Problem Solver' di Masyarakat
29 April 2026 21:58 WIB