Nunukan (ANTARA) - Bimbingan Teknis Kurikulum Berbasis Cinta yang digelar di Kabupaten Nunukan, Sabtu (18/4), berlangsung penuh semangat dan makna.
Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat arah pendidikan yang tidak hanya menekankan kecerdasan intelektual, tetapi juga membangun karakter, empati, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), H. Muh. Saleh, dalam arahannya menegaskan bahwa pendidikan harus mampu menyentuh sisi terdalam manusia.
“Pendidikan tidak hanya bertujuan untuk mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga untuk menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, akhlak mulia, dan karakter yang kuat. Dalam konteks inilah, kurikulum berbasis cinta menjadi sangat penting,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) hadir dengan lima pokok utama yang menjadi fondasi dalam proses pembelajaran.
Pertama, cinta kepada Tuhan Yang Maha Esa, yakni menanamkan nilai spiritualitas, keimanan, dan ketakwaan sebagai landasan dalam setiap aktivitas pendidikan.
Kedua, cinta kepada sesama manusia, yang diwujudkan melalui sikap empati, toleransi, saling menghargai, serta kepedulian sosial dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Ketiga, cinta kepada ilmu pengetahuan, yaitu mendorong peserta didik untuk memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, semangat belajar, serta menjadikan ilmu sebagai jalan menuju kemajuan dan peradaban.
Keempat, cinta kepada lingkungan, dengan menumbuhkan kesadaran menjaga alam, merawat kebersihan, serta menciptakan lingkungan yang sehat, nyaman, dan harmonis sebagai bagian dari tanggung jawab bersama.
Dan kelima, cinta kepada bangsa dan negara, yang menekankan pentingnya nilai nasionalisme, persatuan, serta komitmen menjaga keutuhan dan keberagaman Indonesia.
“Kelima nilai ini harus hadir dalam setiap proses pembelajaran. Dengan cinta, pendidikan akan menjadi lebih bermakna dan mampu membentuk generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga matang secara emosional dan spiritual,” jelasnya.
Ia juga berharap melalui Bimtek ini, para peserta mampu memahami konsep KBC secara komprehensif dan mengimplementasikannya di satuan pendidikan masing-masing.
“Kita sebagai ASN Kementerian Agama memiliki tanggung jawab besar untuk menghadirkan pendidikan yang humanis dan berkarakter. Jadilah teladan dalam menanamkan nilai kasih sayang, moderasi, dan toleransi,” tegasnya.
Sementara itu, Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Kementerian Agama RI, Nyayu Khodijah, menekankan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta merupakan bagian dari transformasi pendidikan madrasah yang berorientasi pada penguatan karakter.
“Kurikulum berbasis cinta adalah pendekatan yang relevan dengan tantangan zaman. Kita ingin melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki empati, menghargai perbedaan, dan mampu hidup dalam keberagaman,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan implementasi kurikulum ini sangat bergantung pada peran guru.
“Guru adalah kunci. Ketika guru mengajar dengan hati dan menghadirkan kasih sayang dalam setiap interaksi, maka nilai-nilai cinta akan tumbuh secara alami dalam diri peserta didik,” tambahnya.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Direktur KSKK Kementerian Agama RI, perwakilan Bupati Nunukan melalui staf ahli bidang ekonomi dan pembangunan, Kasubdit Kurikulum dan Evaluasi Direktorat KSKK Madrasah Ditjen Pendis, Kepala Kemenag Kabupaten Nunukan, Kabid Pendidikan Islam dan Ketua Tim Kerja, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kaltara, para pengawas madrasah dan PAI, serta guru PAI dan madrasah se-Kabupaten Nunukan.
Melalui Bimtek ini, diharapkan nilai-nilai cinta tidak hanya menjadi konsep, tetapi benar-benar hidup dalam praktik pembelajaran sehari-hari, membentuk generasi yang berkarakter, inklusif, dan siap menghadapi masa depan dengan penuh kepedulian.
Baca juga: Menembus Batas Negeri, Kakanwil Kemenag Kaltara Hadir Menguatkan Madrasah di Perbatasan
Baca juga: Kakanwil Kemenag Kaltara Buka Webinar "Jumat Berilmu"