Balikpapan (ANTARA) - Di tengah gempuran budaya konsumerisme dan tren flexing di media sosial, muncul sebuah fenomena baru yang disebut dengan Loud Budgeting.
Tren ini pertama kali viral melalui platform TikTok dan dengan cepat menjadi referensi finansial baru bagi Generasi Z dan Milenial.
Berbeda dengan metode penghematan tradisional yang sering kali terkesan "pelit" atau dilakukan secara sembunyi-sembunyi, loud budgeting justru dilakukan secara vokal dan penuh kebanggaan.
Secara sederhana, loud budgeting adalah tindakan menyatakan secara terbuka bahwa dalam memprioritaskan tujuan keuangan yang lebih penting agar nantinya memiliki anggaran untuk pengeluaran tertentu. Hal ini adalah bentuk perlawanan terhadap tekanan sosial atau Fear of Missing Out (FOMO).
Seperti halnya yang dilakukan seorang Karyawan BUMN, Aji (28), yang dengan tegas menyuarakan keinginannya untuk menabung demi memiliki rumah impiannya.
“Kalau dulu sering kali malu atau gak enak saat menolak ajakan nongkrong mahal dengan alasan "gak ada uang", karena loud budgeting aku justru lebih berani menyatakan dengan tegas penolakanku atas ajakan teman-teman untuk berhemat, seperti "Aku gak bisa ikut nongkrong ke kafe malam minggu ini, karena sedang fokus nabung emas untuk DP rumah”. Hasilnya dari satu bulan ini aku berhasil berhemat dan menabung emas lebih dari satu gram.
"Sejujurnya ini lebih melegakan, dan karena kita tidak ragu untuk menyatakan, akhirnya orang-orang juga jadi ikut ter-influence untuk berhemat ala loud budgeting," ungkap Aji.
Kini loud budgeting dianggap sebagai langkah revolusioner dalam pengelolaan keuangan pribadi, karena secara tidak langsung menggerus stigma sosial, karena dengan bersikap terbuka akan menormalisasi kondisi keuangan yang terbatas demi rencana jangka panjang.
Tren ini juga dapat mengendalikan impulsivitas, karena pengikut tren tersebut akan cenderung fokus pada prioritas (value-based spending).
Bukan berarti tidak boleh berbelanja, namun memangkas biaya pada hal-hal yang tidak memberikan nilai jangka panjang, seperti membeli kopi mahal setiap hari, atau membeli baju sekali pakai, kemudian biaya tersebut dapat dialihkan ke aset yang lebih produktif, seperti emas, saham, dan instrumen investasi lainnya.
Menanggapi tren tersebut, Sekretaris Perusahaan PT Pegadaian, Dwi Hadi Atmaka atau yang kerap disapa Aat menyampaikan dukungannya terhadap loud budgeting. Aat juga mengungkapkan bagaimana menabung emas menjadi sangat cocok bagi generasi muda yang menerapkan loud budgeting.
“Sederhananya loud budgeting adalah pola shifting dari habit konsumtif menjadi lebih produktif. Misalnya setiap hari beli kopi seharga 20 ribu, jadi menabung senilai 20 ribu. Apalagi saat ini generasi muda semakin melek finansial dan semakin aware terhadap berbagai jenis instrumen investasi, seperti emas yang merupakan investasi safe haven. Ini terlihat dari lonjakan nasabah year on year di Pegadaian per Desember 2025 lalu, dimana Millennial tumbuh sebesar 49%, sementara Gen Z meningkat hingga 116%. Saat ini masyarakat ingin sesuatu yang mudah dan fleksibel. Melalui Aplikasi Tring! by Pegadaian, masyarakat dapat menabung mulai dari Rp 10 ribu rupiah saja, dimana saja, dan kapan saja,” ungkap Aat di Balikpapan, Senin (12/1).
Bagi nasabah Tabungan Emas Pegadaian, loud budgeting tentu menjadi “kendaraan nyaman” untuk mempercepat pertumbuhan aset.
Hadirnya Tring! by Pegadaian sebagai platform finansial semakin memudahkan masyarakat bertransaksi dalam genggaman.
Dengan konsisten menerapkan loud budgeting, masyarakat tidak hanya dapat sekedar menghemat pengeluaran, namun juga membangun pondasi keuangan yang kokoh.
Menanggapi tren loud budgeting yang tengah berkembang di kalangan generasi muda, Pemimpin Wilayah PT Pegadaian Kanwil IV Balikpapan, Rinaldi Lubis, menyampaikan bahwa fenomena ini mencerminkan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan keuangan yang sehat dan berorientasi masa depan.
“Loud budgeting adalah bentuk keberanian generasi muda dalam menentukan prioritas finansialnya. Ini bukan soal menahan diri semata, tetapi tentang kesadaran untuk mengalokasikan pengeluaran pada hal-hal yang benar-benar bernilai jangka panjang. Kami melihat tren ini sangat sejalan dengan semangat Pegadaian dalam mendorong masyarakat untuk membangun aset secara bertahap dan berkelanjutan,” ujar Rinaldi.
Ia menambahkan, produk Tabungan Emas Pegadaian menjadi salah satu pilihan yang relevan bagi penerapan loud budgeting karena fleksibel, terjangkau, dan mudah diakses oleh berbagai lapisan masyarakat, khususnya Gen Z dan Milenial.
“Dengan nominal yang kecil dan kemudahan transaksi melalui aplikasi Tring! by Pegadaian, masyarakat tidak perlu menunggu ‘punya uang besar’ untuk mulai berinvestasi. Konsistensi adalah kuncinya.
Loud budgeting dapat menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk membangun disiplin finansial dan kemandirian ekonomi sejak dini,” tutup Rinaldi.
Baca juga: Perkuat Transformasi Digital, Transaksi Digital Pegadaian Tumbuh Empat Kali Lipat Sepanjang 2025
Baca juga: Kesadaran Finansial Meningkat, Gen Z Dominasi Pertumbuhan Nasabah Tabungan Emas Pegadaian
