WS Rendra, si Burung Merak yang tak pernah mati

id Si burung merak ,Ws rendra

WS Rendra, si Burung Merak yang tak pernah mati

WS Rendra dalam kenangan sang buah hati

Jakarta (ANTARA) - Kepergian WS Rendra pada tanggal 6 Agustus 2009 membuat Indonesia kehilangan salah satu seniman yang mewarnai peradaban bangsa melalui karya-karyanya selama hampir empat dekade terakhir.

Meski sosoknya telah tiada, karya Rendra masih menjadi rujukan bagi seniman lainnya di bidang sastra, teater, dan juga layar lebar hingga sekarang ini.

Rendra akan selalu dikenang sebagai maestro seni Indonesia melalui karya-karyanya yang tak akan pernah mati. Kenangan terhadap sosok "Si Burung Merak" juga membekas bagi Maryam Supraba yang tak lain adalah anak bungsu dari pasangan WS Rendra dan Ken Zuraida.

Bagaikan buah yang tak jatuh dari pohonnya, itulah gambaran mengenai sosok Maryam Supraba saat ini yang dikenal sebagai seorang pemain film dan juga teater sama seperti ayahnya.

Dalam sebuah wawancara dengan ANTARA melalui sambungan telepon, wanita kelahiran 42 tahun silam itu bercerita banyak mengenai sosok WS Rendra, seorang seniman yang dikenal berkarisma di atas panggung dan juga ayah bagi 11 orang anak-anaknya.

Bagaimana melihat sosok WS Rendra sebagai ayah?
Sebetulnya sama saja seperti ayah pada umumnya yang memperhatikan anak-anaknya. Kami ini ber-11 kan berjauhan. Ada yang di Jogja, saya di Bandung. Tapi ayah saya selalu berusaha untuk mempunyai hubungan, pokoknya komunikasi harus bagus karena itu penting banget, dan selalu menyempatkan diri untuk menemui anak-anaknya. Akan selalu meluangkan diri untuk anak-anaknya.

Siapa anak yang paling dekat dekat dengan ayah?
Sebetulnya kami semua dekat dengan papah, rasanya papah tidak pernah membeda-bedakan, semua dekat, semua spesial buat papah. Jarak itu tidak berpengaruh apa pun pada perhatian dan rasa cinta, rasa sayang pada anak-anaknya.

Semua diperhatikan, disayangi, dicintai, semua jadi teman. Saya sih di waktu tertentu merasa papah itu teman, sahabat, guru, karena kebetulan saya pernah disutradarai untuk pertama dan terakhir kalinya di tahun 2005. Menyenangkan sekali bisa bekerja sama dengan ayah sendiri dan beliau mendidik saya untuk profesional. Jadi ketika latihan hingga pentas, tidak ada hubungan ayah dan anak. Semua profesional.

Baca juga:Seni dan jalan hidup WS Rendra

Baca juga:"Panembahan Reso", karya WS Rendra yang tak lekang dimakan zaman


Anak-anak lain ada yang terjun ke seni juga seperti ayah?
Ada Clara Sinta kakak saya, ada Naomi Srikandi, Rachel Saraswati. Kebetulan perempuan-perempuan yang banyak ke seni.

Ayah sebenarnya memaksakan anaknya untuk terjun ke seni juga?
Sangat tidak. Beliau sangat membebaskan sih. Kalian mau jadi apa saja asal bertanggung jawab.
Aktris Maryam Supraba. (Dok. pribadi Maryam Supraba)


Kenapa mau ikut jejak ayah di dunia seni?
Enggak sengaja sebetulnya. Dulu tuh saya nyanyi, saya punya band sendiri, selalu bawain lagu sendiri. Cuma ya namanya juga mahasiswa, masih nge-band santai enggak ada niat apa pun, cuma saya mencintai sekali nyanyi.

Nah kemudian papah suatu kali nonton saya nyanyi, terus tau-tau 'kamu mau enggak main drama?'. Loh enggak lah, enggak ngerti akting, binggung. 'Coba deh mbok kamu bantu saya', dia bilang begitu.

Sampai lima kali beliau nanya, akhirnya saya mikirnya waktu itu mau pun lebih karena enggak apa-apa deh bantu papah, gitu niatnya. Ini bukan persoalan peran yang besar atau kecil karena saya enggak berpikir itu. Cuma bagaimana berproses bareng sama ayah sendiri seperti apa. Waktu itu seperti itu.


Itu tahun berapa?
Tahun 2005 untuk pementasan "Sobrat". Itu terakhir. Terus selesai itu, saya menikmati prosesnya karena sadar saya bukan aktor, maka harus belajar ekstra. Harus latihan ekstra. Enggak ada yang kasih tahu, kalau nanya sama papah, latihan sama papah, ini gimana bacanya, terus dia bilang 'baca aja kayak kamu baca buku'. Dia cuma bilang gitu.

Saya nanya, "pah ini karakternya begini, terus saya maininnya bagaimana?". Terus dia tanya :apa yang kamu tawarkan pada saya?', tiba-tiba begitu. Gimana ya jadi benar-benar saya dicemplungi. Akhirnya bertanya juga sama teman main yang sudah senior di Bengkel Teater.

Kebetulan ada Om Adi Kurdi waktu itu, bertanya lah sama beberapa. Saya manggilnya om dan tante karena mereka jauh di atas saya. Mereka berbagi pengalaman, ya tapi hanya itu. Belum lagi harus nari juga. Itu pun dikasih tahunya, waktu itu koreografer Boy G. Sakti minta 'coba saya mau anak ini menari dari awal sampai akhir'. Saya bingung maksudnya apa, terus dia cuma nengok ke saya dan ngomong 'ingat ya menari dan menari itu berbeda'. Dia cuma ngomong gitu dengan santai sambil ngelatih yang lain.

Jadi memang dicemplungi. Naluri saya yang harus jalan. Sampai baru sekitar dua hari menjelang pentas baru beliau (WS Rendra) menyutradarai saya 'ini yang bagian ini, coba lebih begini', coba mengarahkan lah gitu. Tapi kepada orang lain tidak seperti itu. Jadi rupanya ayah saya melihat kecenderungan orangnya.


Baca juga:Garin: WS Rendra adalah "Burung Merak" anggun dan bebas

Baca juga:Mahakarya WS Rendra "Panembahan Reso" melalui riset 11 tahun


Ada yang dikasih tahu terus, ada yang enggak, ada yang dilepas sama sekali kayak saya. Saya bersyukur sekali walaupun baru sekali dan itu yang terakhir kalinya, beliau masih bagi ilmu yang luar biasa, membuat saya lebih mencintai dunia akting, teater, film, aduh menyenangkan banget karena ada kerja sama dengan orang lain.

Waktu kecil sering diajak ayah ikut pentas?
Enggak pernah. Kalau nonton iya, karena saya kecil di Bandung, ayah saya di Jakarta, jadi mau enggak mau ya liburan aja bisa ketemu, bisa menghabiskan waktu lebih lama lah paling tidak. Mungkin lima enam kali nonton di Jakarta

Ayah sering dapat represi dari pemerintah atas karyanya, waktu itu melihatnya bagaimana sebagai seorang anak?
Saya masih kecil ya waktu itu, malah enggak ngerti sama sekali. Saya enggak ngerti sama sekali dan saya bukan pembaca Rendra, saya bukan orang yang kemudian cari tahu lewat karya-karyanya gitu, enggak.

Saya hanya bagaimana setiap ketemu, setiap telepon dia ke Bandung, kami ingin memanfaatkan waktu dengan baik aja. Waktu itu begitu karena saya tidak ingin kehilangan beliau sebagai sosok ayah.

Sejujurnya saya membaca karya ayah saya baru-baru aja, belum lama. Karena memang saya sengaja berjarak gitu, tidak ingin melihat beliau sebagai Rendra yang dilihat banyak orang karena saya takut sekali gitu. Saya tahu, saya akan kagum betul sama beliau, tapi saya ingin lebih kagum kepada beliau sebagai seorang ayah. Itu jauh lebih penting buat saya.


Ibu juga enggak pernah menceritakan tentang masalah ayah?
Cerita tapi mungkin enggak terlalu detail karena juga saya masih terlalu kecil.

Kebiasaan ayah selama di rumah atau selama ketemu yang paling diingat?
Kalau sedang berpikir sendiri gitu, papah senang banget main solitaire, main kartu. Senang banget papah main itu. Sama hiburannya itu kalau nonton film-filmnya Steven Seagal. Dia senang banget action, tentu dia nonton film-film yang lain, tetapi ketika butuh yang ringan banget, dia nonton itu.

Terus senang banget sama minuman cokelat panas. Jadi kalau saya datang untuk liburan gitu atau lagi nengokin orang tua saya, pasti ada kalimat yang keluar, 'mbo aku dibikinkan cokelat panas' biasanya gitu hahaha. Itu sih yang dikangenin hal-hal yang kayak gitu, kangen ngobrol ya sama beliau karena yang diobrolin bisa apapun ya.


Baca juga:Rizal Ramli ingin karya WS Rendra diabadikan dalam museum

Baca juga:LBI beri penghargaan kepada W.S. Rendra

Aktris Maryam Supraba. (Dok. pribadi Maryam Supraba)


Melihat ayah sebagai seniman di mata Maryam Supraba seperti apa?
Wah sesuatu yang saya enggak pernah ngomongin sama sekali ya. Saya tuh enggak berani bicara terlalu banyak terkait profesi beliau karena saya merasa tidak cukup untuk memahami karakter beliau untuk di urusan profesinya.

Tapi kepekaan beliau terhadap manusia dan lingkungannya, dan kebudayaan itu luar biasa ya buat saya. Manusia itu kan evolve dan dia berusaha catch up dengan semua perkembangan yang ada dan membaca kecenderungan pada perkembangan zaman. Saya sih kagum soal itu, karena itu hanya orang-orang yang peka dan berhati luas yang bisa melihat, saya pikir begitu. Karena juga harus tenang kan, tidak bisa reaktif dan memutuskan, oh ini pasti akan begitu, enggak.

Dia butuh perenungan yang panjang luar biasa sampai akhirnya, dia memutuskan oh kayaknya nanti jangan-jangan dalam lima tahun kita akan begini-begini. Ya kepekaannya itu sih dan betapa tenang beliau menghadapi itu. Tenang yang diungkapkan di depan orang banyak, tapi sebetulnya di dalamnya dia gelisah betul pastinya

Saya yakin seniman, budayawan, terutama yang sekarang banyak yang udah sepuh, rasanya banyak sekali gitu orang-orang yang begitu peka, yang juga khawatir bagaimana Indonesia nantinya, bagaimana dunia nantinya, pasti juga tidak akan tidak gelisah. Pasti akan gelisah. Itu dan selalu mencari yang terbaik apa yang harus kita lakukan.


Adakah pesan yang ditingalkanoleh almarhum ayah kepada Maryam atau anak-anaknya sebelum wafat?
Kepada saya enggak ya. Saya enggak tahu kalau kakak-kakak saya yang lain. Tapi yang selalu saya ingat itu, papah selalu bilang jadi diri sendiri, jujur pada diri sendiri, dalam hal apa pun. Juga jangan sampai kita kehilangan hati nurani karena itu penting. Ya manusia kalau kehilangan hati nurani, hanya punya akal saja lucu ya. Mau jadi apa. Hati nurani itu yang penting.

Baca juga:Dewan Kesenian Jakarta napak tilas jejak Rendra

Baca juga:Pementasan "Rindu Rendra" digelar di TIM

Baca juga:40 Hari Rendra dan Puisi Kenangan
Oleh Yogi Rachman
Editor: Maria Rosari Dwi Putri

Pewarta :
Editor : Iskandar Zulkarnaen
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar