
Catatan Ana Sriekaningsih: Local Currency Settlement (LCT) Menuju Kemandirian Ekonomi Nasional

Tarakan (ANTARA) - Sobat Rupiah, kita patut bangga! Penggunaan Local Currency Transaction (LCT) di Indonesia telah mencapai angka 25,66 miliar dolar AS pada 2025. Ini bukan hanya sekadar peningkatan angka, tapi sebuah langkah besar menuju kemandirian ekonomi nasional.
Dengan menggunakan Rupiah dalam transaksi internasional, dapat mengurangi ketergantungan pada mata uang asing dan meningkatkan efisiensi transaksi. Ini seperti bertransaksi langsung tanpa perantara, membuat jalur ekonomi lebih stabil dan tidak gampang goyah saat mata uang global berfluktuasi.
Peluang bisnis apa yang ingin direalisasikan dengan adanya LCT ini, Sobat? Apakah ingin meningkatkan ekspor produk lokal, atau mungkin mengembangkan bisnis internasional dengan lebih stabil? Kini, saatnya memanfaatkan LCT untuk memperkuat ekonomi nasional dan mewujudkan Indonesia yang lebih mandiri!
LCT (Local Currency Transaction) adalah transaksi yang menggunakan mata uang lokal, dalam hal ini Rupiah, untuk melakukan pembayaran internasional. Ini berarti bahwa transaksi antara Indonesia dan negara lain dapat dilakukan langsung dengan menggunakan Rupiah, tanpa perlu menggunakan mata uang asing seperti Dolar AS atau Euro.
Dengan LCT, transaksi internasional menjadi lebih efisien dan stabil, karena tidak terpengaruh oleh fluktuasi mata uang global. Ini juga dapat meningkatkan penggunaan Rupiah sebagai mata uang internasional dan memperkuat ekonomi nasional.
Contoh LCT adalah ketika Indonesia melakukan transaksi perdagangan dengan negara lain, seperti impor atau ekspor barang, dan menggunakan Rupiah sebagai mata uang pembayaran. Ini dapat membantu meningkatkan stabilitas ekonomi dan mengurangi risiko fluktuasi mata uang.
LCT (Local Currency Settlement) adalah mekanisme penyelesaian transaksi bilateral antara dua negara yang dilakukan menggunakan mata uang lokal masing-masing, tanpa harus bergantung pada mata uang ketiga (seperti Dolar AS).
Berikut adalah beberapa contoh skenario transaksi menggunakan LCT untuk memberikan gambaran yang lebih jelas:
1. Ekspor-Impor Barang (Indonesia - Thailand)
Bayangkan sebuah perusahaan furnitur di Jepara, Indonesia, mengekspor produk ke toko ritel di Bangkok, Thailand.
Tanpa LCT: Importir Thailand harus menukar Baht (THB) ke Dolar AS (USD), lalu eksportir Indonesia menerima USD dan menukarnya ke Rupiah (IDR). Terjadi dua kali konversi mata uang.
Dengan LCT:
Kedua pihak sepakat menggunakan mata uang Rupiah (IDR) atau Baht (THB) dalam kontrak.
Importir di Thailand membayar menggunakan THB melalui bank yang ditunjuk (ACCD - Appointed Cross Currency Dealer).
Eksportir di Indonesia langsung menerima IDR di rekening banknya.
Manfaat: Biaya konversi lebih murah dan terhindar dari fluktuasi nilai tukar Dolar AS.
2. Investasi Langsung (Indonesia - Tiongkok)
Sebuah perusahaan otomotif asal Tiongkok ingin membangun pabrik baterai listrik di Indonesia.
Proses LCT:
Investor Tiongkok mengirimkan modal dalam bentuk Yuan (CNY).
Melalui bank ACCD, dana tersebut dikonversi langsung menjadi Rupiah (IDR) tanpa melewati kurs USD.
Dana masuk ke rekening operasional perusahaan di Indonesia untuk membayar kontraktor dan membeli lahan.
3. Transaksi Ritel via QRIS (Wisatawan Indonesia di Malaysia)
Ini adalah contoh LCT yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari (sering disebut Regional Payment Connectivity).
Skenario: Anda sedang berlibur di Kuala Lumpur dan ingin membeli nasi lemak.
Proses LCT:
Anda memindai kode DuitNow (QR Malaysia) menggunakan aplikasi perbankan atau dompet digital Indonesia (seperti BCA Mobile, Dana, atau Sakuku).
Saldo Rupiah Anda otomatis terpotong sesuai nilai Ringgit (MYR) yang ditagihkan.
Konversi dilakukan langsung antara IDR ke MYR dengan kurs yang biasanya lebih kompetitif dibanding menukar uang tunai di money changer.
Perbandingan Ringkas: Transaksi Tradisional vs LCT
Fitur
Transaksi Tradisional
Transaksi LCT
MataUang Perantara
Menggunakan Dolar AS (USD)
Langsung mata uang lokal
Efisiensi Biaya
Lebih mahal (dua kali konversi)
Lebih murah (satu kali konversi)
Waktu Proses
Bisa lebih lama (korespondensi bank AS)
Lebih cepat (langsung antar bank lokal)
Ketergantungan
Sangat tergantung likuiditas USD
Mandiri secara bilateral
Saat ini, Indonesia sudah menjalin kerja sama LCT dengan beberapa negara seperti Malaysia (MYR), Thailand (THB), Jepang (JPY), Tiongkok (CNY), Korea Selatan (KRW), dan sedang dikembangkan dengan Uni Emirat Arab.
Capaian penggunaan LCT sebesar 25,66 miliar dolar AS pada 2025 menunjukkan bahwa Indonesia telah membuat kemajuan signifikan dalam menggunakan Rupiah sebagai mata uang transaksi internasional. Ini berarti:
- Indonesia semakin mandiri dalam melakukan transaksi internasional, tidak lagi bergantung pada mata uang asing.
- Penggunaan Rupiah sebagai mata uang transaksi internasional dapat meningkatkan stabilitas ekonomi nasional.
- Transaksi internasional menjadi lebih efisien dan biaya transaksi dapat ditekan.
- Ini juga menunjukkan kepercayaan negara lain terhadap ekonomi Indonesia dan Rupiah.
Dengan demikian, capaian ini merupakan langkah besar menuju kemandirian ekonomi nasional dan memperkuat posisi Indonesia di mata dunia.
Dr. Ana Sriekaningsih.,S.E.,S.Th.,M.M
Direktur Politeknik Bisnis Kaltara
Anggota Forum Komunikasi Akademisi Penulis Populer Kebijakan BI
Baca juga: BI Luncurkan Laporan Perekonomian Indonesia Tahun 2025
Baca juga: BI: Kinerja Kegiatan Dunia Usaha Pada TW-IV 2025 Diindikasikan Terjaga
Pewarta : Redaksi
Editor:
Susylo Asmalyah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
