Tarakan (ANTARA) - Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia (RI) asal Kalimantan Utara (Kaltara), Herman, mengaku terenyuh hatinya usai melihat dan mengunjungi secara langsung anak-anak Sekolah Rakyat di Kota Tarakan, Provinsi Kaltara, Senin.

“Awal sampai di Sekolah Rakyat hati ini terenyuh melihat anak-anak kita yang boleh dikata sebagian besar orang tuanya miskin ekstrem,” ujarnya.

Menurutnya, masih banyak anak-anak yang agak terlantar dan lebih tepatnya ditelantarkan orang tuanya serta dieksploitasi untuk bekerja atau berdagang dengan berbagai alasan yang salah satunya karena faktor ekonomi.

Namun, Herman bersyukur dengan adanya Sekolah Rakyat di Kota Tarakan, anak-anak tersebut bisa disekolahkan dengan biaya seluruhnya ditanggung pemerintah.

“Alhamdulillah dari teman-teman di sini (Sekolah Rajin) sudah komunikasi ke orang tuanya agar anak-anaknya sekolah di sini,” katanya.

Berdasarkan kunjungannya, Herman mengatakan ada anak-anak yang seharusnya seusia dia sudah Sekolah Menengah Pertama (SMP), namun karena belum bisa baca dan tulis maka harus di tingkat Sekolah Dasar (SD) Sekolah Rakyat.

“Di sini ada juga anak-anak yang usianya sudah harusnya SMP, tapi dengan berbagai masalah dan lain-lain, akhirnya di sini dia tetap SD mengikuti pembelajaran, karena dia belum paham bisa baca tulis. Namun alhamdulillah sekarang sudah lancar, sudah bisa baca dan tulis,” ungkapnya.

Dengan melihat kondisi ini, kata Herman, Sekolah Rakyat di Tarakan sangat dibutuhkan. Sebab, Tarakan menjadi kota transit dari kabupaten-kabupaten yang ada di Kaltara dan juga merupakan daerah perbatasan dengan Malaysia yang bisa saja menjadi tujuan para pekerja migran yang tidak bekerja lagi di luar negeri.

“Kalau bicara Sekolah Rakyat hari ini di Tarakan, urgen sekali. Terutama kita perbatasan langsung ya dengan Malaysia. Banyak orang-orang tua siswa yang kerjanya di luar,” tuturnya.

Karena itulah, lanjutnya, secara administrasi juga banyak anak-anak belum punya surat-surat termasuk akta kelahiran. Namun sekali lagi, ia bersyukur dengan adanya Sekolah Rakyat gagasan Presiden RI Prabowo Subianto ini semua itu terselesaikan.

“Alhamdulillah sudah selesai diurus dengan teman-teman dan guru-guru di sini. Akhirnya mereka sudah punya data. Jadi urgen sekali adanya Sekolah Rakyat ini,” ungkap Herman.

Herman menyebutkan, saat ini gedung yang dipakai Sekolah Rakyat di Tarakan masih menggunakan fasilitas milik Pemerintah Kota Tarakan, namun saat ini sudah dibangun oleh Kementerian Sosial (Kemensos) RI gedung Sekolah Rakyat di Juata Laut, Kecamatan Tarakan Utara.

 “Jadi kita pakai sementara dulu aset daerah. Alhamdulillah nanti di Juata Laut itu pembangunan gedung Sekolah Rakyat dari Kemensos tapi baru 50 persen. Kalau di sana insya Allah fasilitas lebih lengkap,” katanya.

Kepala Dinas Sosial Kota Tarakan, Arbain mengatakan saat ini ada 69 orang jumlah peserta didik di Sekolah Rakyat Tarakan, yaitu tingkat SD sebanyak 42 siswa dan tingkat SMP sebanyak 27 siswa.

Sekolah Rakyat, kata Arbain, diperuntukkan untuk anak-anak dari kelompok keluarga miskin dan miskin ekstrem. Semua biaya ditanggung oleh pemerintah, termasuk kebutuhan dasarnya.

“Jadi kalau di Sekolah Rakyat dari kebutuhan sehari-harinya misalnya samponya, sikat gigi, odol sampai sabun mandi dan semua kebutuhan sehari-hari yang dibutuhkan itu disediakan. Ditambah lagi peralatan sekolah itu ditanggung semua,” katanya.
Baca juga: Kemensos Mulai Simulasi Kebijakan WFH Kecuali Sekolah Rakyat
Baca juga: Prabowo Tinjau Pelaksanaan MBG di Sekolah Rakyat Banjarbaru