Kelangkaan LPG di Nunukan

id ,

Kelangkaan LPG di Nunukan

Tabung LNG (dok)


Oleh M Rusman
Nunukan (Antaranews Kaltara) - Warga Kabupaten Nunukan, Kaltara saat ini kesulitan mendapatkan tabung gas LPG karena ketatnya aparat kepolisian di Malaysia yang melarang dipasok ke daerah itu.

Seorang warga Tanjung Kelurahan Nunukan Barat bernama Suratmi, Kamis mengaku telah dua hari memasak menggunakan minyak tanah karena tabung gas asal Malaysia langka akibat adanya pelarangan dari pemerintah negara tersebut.

"Sejak ada pelarangan warga Nunukan berbelanja di Tawau (Malaysia) tabung gas di Nunukan ini sulit didapatkan," ujar dia.

Suratmi mengatakan, kelangkaan tabung gas di daerah itu sudah berlangsung sejak pekan lalu kalaupun ada yang dijual harganya sangat mahal hingga mencapai Rp250.000 per tabung dengan ukuran 14 kilogram.

Jika kondisi berlangsung lama, kata dia, maka warga Kabupaten Nunukan kemungkinan harus memasak menggunakan kayu bakar karena minyak tanah juga sulit diperoleh disebabkan kurangnya pasokan dari PT Pertamina.

Tabung gas yang digunakan warga setempat memasak selama ini mengandalkan pasokan dari Malaysia karena tidak adanya pasokan dari dalam negeri akibat sulitnya sarana transportasi dari Pulau Jawa atau Sulsel.

Ibu rumah tangga mengeluhkan kondisi tersebut, sehingga mengharapkan adanya langkah kongkrit yang dilakukan pemerintah untuk mengantisipasi kelangkaan tabung gas LPG ini yang dapat berdampak kesengsaraan bagi masyarakat.

Bukan hanya Suratmi yang mengeluhkan hal ini, tetapi pada umumnya masyarakat Kabupaten Nunukan sebagai wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia mengalaminya sementara tabung gas 3 kilogram sendiri masih sangat kurang.

Menanggapi masalah ini, Bupati Nunukan, Drs Basri pada kesempatan berbeda mengatakan, kelangkaan tabung gas LPG di wilayahnya telah melakukan langkah-langkah dengan mendatangkan dari Pulau Jawa dengan ukuran 12 kilogram.

Namun dia mengaku belum memastikan tabung gas LPG 12 kilogram kapan tersebut tiba di daerahnya.

Editor : Iskandar Zulkarnaen
COPYRIGHT © ANTARA 2015

Komentar