Langkah prioritas cegah resesi dari Komite penanganan COVID-19

id Penanganan resesi ekonomi,Corona

Langkah prioritas cegah resesi dari Komite penanganan COVID-19

Komite penanganan COVID-19 paparkan langkah prioritas cegah resesi

Jakarta (ANTARA) - Komite Penanganan COVID-19 akan memprioritaskan penciptaan rasa aman dan sehat di masyarakat guna mencegah terjadinya resesi pada kuartal III 2020.

“Bahwa yang kita lihat sekarang adalah kepercayaan itu belum muncul. Dari analisa dan data kami, tabungan di perbankan itu naik dan kredit turun,” kata ekonom senior yang menjadi Sekretaris Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional Raden Pardede dalam Gerakan Pakai Masker webinar bertema "Ekonomi Indonesia diambang Resesi, Apa Solusinya?" di Jakarta, Senin.

Menurut dia, tren yang terjadi bagi mereka yang memiliki uang tabungannya naik dan pengeluarannya relatif turun. Yang biasanya membeli sepatu atau tas sebulan atau dua bulan sekali, sekarang berkurang sekali karena mereka menahan diri.

“Ini muncul karena belum yakin kondisi ekonomi ke depan akan membaik atau tidak,” ujar dia.

Baca juga:Satgas katakan laju ekonomi di kuartal III berpeluang tidak negatif

Berdasarkan survei kesehatan yang dilakukan, kata dia, justru yang tua lebih peduli terhadap kesehatan dibanding yang muda. Mereka dengan usia lebih tua yang lebih banyak memiliki, namun tingkat kepercayaan mereka akan rasa aman dan kesehatan masih kurang, sehingga belum mau berinvestasi atau mengeluarkan uang lagi.

Oleh karena itu, lanjut dia, memunculkan rasa aman dan memastikan kesehatan masyarakat menjadi prioritas utama Komite Penanganan COVID-19. Jika dua hal tadi dapat dicapai, menurut dia, kepercayaan pasar akan kembali.

“Itu yang ada di kepala kita sebelum kita bisa gerakkan ekonomi. Ini prioritas sekarang ini. Jadi targetnya dari sisi ekonomi tahun ini bagaimana mencegah resesi,” ujar dia.

Pada kuartal I 2020 pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 2,97 persen, sedangkan pada kuartal II diperkirakan negatif atau mengalami kontraksi. Secara teknikal jika kuartal III dan IV pertumbuhan negatif, lanjutnya, maka Indonesia mengalami resesi. Jika itu juga terjadi hingga 2021 maka mengalami depresi.

Baca juga:Prediksi terjadi resesi, ekonom Faisal Basri: Siapkan kondisi terburuk

“Jadi jangan berpretensi pusat hanya perhatian ke ekonomi saja, tidak. Ini berupaya bagaimana memastikan kesehatan berjalan dan mata pencaharian kehidupan juga berjalan. Tidak bisalockdowndalam jangka lama,” ujar dia.

Langkah maksimum yang, menurut dia, bisa dilakukan dalam situasi sekarang ini yakni melakukan Tes, Lacak, Isolasi (TLI), sehingga akan menjadi fokus dalam beberapa bulan ke depan. Komite Penanganan COVID-19 akan meningkatkan tesPolymerase Chain Reaction(PCR) dan melacak mereka yang terinfeksi SARS-CoV-2.

Upaya tersebut agar membuat angkapositive rateCOVID-19 harus di bawah lima persen sesuai yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), sekaligus mencegah terjadinya resesi di kuartal III dan IV 2020.

Oleh karena itu, menurut dia, belanja pemerintah sebesar Rp690 triliun lebih akan dilihat satu per satu dan untuk berbelanja dua hal. Pertama belanja sosial dan kedua program padat karya.

“Di samping tentunya belanja utama Rp87,5 triliun untuk kesehatan, mendapatkan rasa aman dan sehat,” ujar Raden Pardede.

Baca juga:Ramalan resesi dan strategi mengejar pemulihan ekonomi


Pewarta: Virna P Setyorini
Editor: Risbiani Fardaniah

Pewarta :
Editor : Iskandar Zulkarnaen
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar