Logo Header Antaranews Kaltara

Dari Perbatasan untuk Indonesia: Kisah Pengabdian Guru Agama di Hari Pendidikan Nasional 2026

Minggu, 3 Mei 2026 06:14 WIB
Image Print
Di balik peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026, ada kisah-kisah sunyi yang mengalir dari wilayah perbatasan. (ANTARA/HO-Kemenag)

Tanjung Selor (ANTARA) - Di balik peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026, ada kisah-kisah sunyi yang mengalir dari wilayah perbatasan

Kisah tentang pengabdian, ketulusan, dan harapan yang tumbuh dari ruang-ruang belajar sederhana. Di sanalah para guru agama hadir, menyalakan cahaya bagi generasi muda, meski dalam keterbatasan.

Salah satunya adalah Ronny, guru agama Kristen yang telah 26 tahun mengabdi di wilayah perbatasan yang ada di Krayan Kabupaten Nunukan.

Baginya, perjalanan panjang itu bukan sekadar tugas, melainkan panggilan hidup. Dengan segala keterbatasan akses dan fasilitas, ia tetap setia hadir, mengajarkan nilai kasih, kejujuran, dan harapan kepada anak-anak didiknya.

“Di Hari Pendidikan Nasional ini, saya berharap anak-anak di perbatasan semakin mendapat perhatian yang sama. Mereka punya mimpi besar, hanya perlu didukung agar bisa berkembang,” ujarnya penuh harap.

Di Sembakung, Halifah menjalani pengabdian sebagai guru Pendidikan Agama Islam selama 21 tahun. Mengarungi sungai, menghadapi banjir, hingga keterbatasan sarana menjadi bagian dari kesehariannya. Namun semua itu tidak memudarkan semangatnya.

“Melihat anak-anak mulai mempraktikkan ibadah dengan benar dan menunjukkan akhlak yang baik adalah kebahagiaan yang tidak bisa dinilai dengan apa pun,” tuturnya. Di momen ini, ia berharap pendidikan di wilayah 3T semakin diperhatikan, agar anak-anak memiliki kesempatan yang sama untuk maju.

Sementara itu, di SDN 001 Tanjung Selor, Puji Astuti telah 22 tahun lebih mengabdi sebagai guru agama Buddha. Di tengah fasilitas yang relatif memadai, ia bersyukur dapat mengajar dengan nyaman dan melihat praktik ibadah lintas agama berjalan harmonis di sekolahnya. Namun, ia juga merasakan tantangan ketika siswa beragama Buddha tersebar akibat sistem zonasi.

“Semoga ke depan pendidikan semakin inklusif dan semua peserta didik mendapatkan layanan yang adil, tanpa terkecuali,” harapnya.

Dari Desa Sesua, Malinau Barat, Anselmus Helaq telah 21 tahun menjadi guru agama Katolik. Di tengah keterbatasan sarana, ia tetap berinovasi demi menyampaikan nilai-nilai iman kepada anak-anak didiknya.

“Saya berharap pendidikan kita terus maju dengan tetap menjaga keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kedalaman spiritual,” ungkapnya.

Kisah-kisah ini menjadi potret nyata bahwa pendidikan di perbatasan tidak hanya tentang mengajar, tetapi tentang membangun manusia seutuhnya.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Utara, H. Muh. Saleh, menegaskan bahwa para guru agama di wilayah perbatasan adalah garda terdepan dalam menjaga nilai dan harmoni bangsa.

“Di Hari Pendidikan Nasional ini, kita diingatkan bahwa pendidikan bukan hanya soal ilmu, tetapi juga tentang karakter dan spiritualitas. Para guru di perbatasan telah menunjukkan dedikasi luar biasa. Mereka adalah penjaga nilai dan harapan bangsa,” ujarnya.

Ia juga menegaskan komitmen Kementerian Agama untuk terus memberikan perhatian dan dukungan bagi para guru, khususnya di wilayah 3T, agar pendidikan semakin merata dan berkualitas.

Hari Pendidikan Nasional 2026 pun menjadi lebih dari sekadar peringatan. Ia menjadi refleksi bahwa di pelosok negeri, ada guru-guru yang terus berjalan, menembus keterbatasan, menjaga nyala harapan.

Dari perbatasan Kalimantan Utara (Kaltara), mereka mengajarkan satu hal penting: bahwa pendidikan yang lahir dari ketulusan akan selalu menemukan jalannya untuk menerangi masa depan Indonesia.
Baca juga: Menanam Cinta di Ruang Kelas: Bimtek Kurikulum Berbasis Cinta di Nunukan
Baca juga: Menembus Batas Negeri, Kakanwil Kemenag Kaltara Hadir Menguatkan Madrasah di Perbatasan



Pewarta :
Editor: Susylo Asmalyah
COPYRIGHT © ANTARA 2026