
Presiden MADN: Budaya Dayak Kenyah Dikenal Seluruh Dunia

Tanjung Selor (ANTARA) - Presiden Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) juga anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), Marthin Billa mengatakan Budaya Dayak Kenyah, yang merupakan bagian dari Budaya Indonesia dikenal hingga ke seluruh dunia.
Pernyataan itu ia sampaikan dalam Musyawarah Besar (Mubes) Lembaga Adat Dayak Kenyah (LADK) Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) Tahun 2026.
“Dayak Kenyah ini sudah dikenal di seluruh dunia. Baik dari budaya, ukiran, tarian-tarian kita, dan ornamen-ornamen kita. Baik itu ornamen rumah, ornamen pakaian, ornamen topi, ornamen gendongan, dan patung-patung budaya ini. Ini sebuah bukti budaya yang sangat tinggi,” ujarnya di Gedung Pemuda Tebengang Lung Jelarai Selor, Tanjung Selor, Kaltara, Kamis.
Marthin, Bupati Malinau periode 2001-2011 ini menegaskan menyebut Dayak Kenyah dikenal seluruh dunia itu bukan karena dirinya Dayak Kenyah, tapi karena memang kenyataan yang dirinya melihat langsung saat beberapa kali berkunjung ke Belanda dan negara-negara lainnya.
“Banyak sekali dokumen kita yang ada di sana. Foto-foto nenek moyang kita, ornamen-ornamen kita banyak ditulis oleh orang luar negeri dan itu kebanggaan kita,” ungkapnya.
Memang kata dia tidak hanya Dayak Kenyah, tapi juga ada dari saudara-saudara etnis lainnya. Karena itu, momentum Mubes LADK yang penuh dengan tampilan atraksi seni budaya ia meminta agar budaya Dayak Kenyah terus dilestarikan dan tidak boleh hilang.
Sebab, lanjutnya, orang-orang pandai mengatakan bahwa suatu suku bangsa kuat, kalau dia bisa memelihara, melestarikan dan mencintai budayanya sendiri. Tetapi kalau dia tidak bisa memelihara, mencintai dan melestarikan budayanya maka tunggu waktunya suku bangsa itu akan hilang namanya di perubahan dunia.
“Itu orang-orang pintar mengatakan. Oleh karena itu, setiap suku bangsa itu harus ada budayanya. Adat dan budayanya harus dipertahankan,” katanya.
Menurutnya boleh saja ada modernisasi dan kreativitas untuk memperbaiki model atau pola. Ia menyilakan misalnya memperbaiki materi dan bendanya. Dulu, kata dia menggunakan kalung taring asli, tapi sekarang bisa menggunakan taring tiruan dari plastik. Dulu pakai rambut manusia, kini pakai rambut atau bulu dari kambing.
“Ini modernisasi, tetapi motifnya dan isinya tidak boleh hilang. Makanya orang katakan bingkainya boleh baru, tetapi isinya harus tetap yang asli. Tariannya boleh berkembang dengan gaya apapun, tapi jangan hilang gaya Burung Enggang-nya,” tegas Senator asal Kaltara ini.
Baca juga: Indahnya Ramadhan, Warga Dayak dan Tionghoa Ikut Parade Beduk Sahur
Baca juga: Wagub Kaltara Mendorong Penguatan Lembaga Adat Dayak Kenyah
Pewarta : Agus Salam
Editor:
Susylo Asmalyah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
