Menanti Museum Kembar Tarakan

id ,

Museum Tarakan (Busan)

 Oleh Budi Santoso

         Tarakan (Antara News Kaltara) - Eksplorasi minyak dan perang dunia II menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah Kota Tarakan, Kalimantan Utara, setelah sebelumnya wilayah itu menjadi bagian dari Kesultanan Tidung.

         Jika memasuki kota itu, akan dijumpai banyak pompa jungkit yang sebagian masih aktif memompa minyak. Juga ada kilang minyak milik Pertamina.

        Beberapa peninggalan perang dunia juga masih ada seperti kawasan pengintai di Peningki Lama yang masih menyisakan bunker pengintai dan meriam buatan tahun 1902, bunker Jepang di Kampung 1,  Pantai Amal  yang menjadi lokasi pendaratan pasukan Jepang, Rumah Bundar yang dibangun tentara Australia, dan makam tentara perang dunia II.

         Di kota juga ada rumah Adat Tidung dan Baloy Tidung, merupakan replika dari sisa-sisa Kerajaan Tidung.

        Dalam sejarahnya, Pemerintah Hindia Belanda berusaha menguasai Tarakan, namun mendapat perlawanan dari Kesultanan Tidung sehingga terjadilah pertempuran bahkan pembakaran Keraton Tidung di wilayah pesisir. Kerabat keraton kemudian berpindah masuk ke pedalaman di daratan Kalimantan.

         Belanda berhasil berhasil menemukan adanya sumber minyak di pulau itu di tahun 1896, namun produksi komersial dijual baru pada tahun 1901. Mulailah banyak tenaga kerja didatangkan terutama dari Pulau Jawa dan pada tahun 1923  Belanda menempatkan seorang asisten residen di pulau itu yang membawahi lima  wilayah, yakni: Tanjung Selor, Tarakan, Malinau, Apau Kayan dan Berau.  
   Saat Jepang memotori Perang Dunia II di Asia Pasific, Pulau ini menjadi sasaran utama karena menjadi pintu masuk Indonesia sekaligus menjadi sumber cadangan minyak untuk menggerakkan mesin perang.   Jepang menyerang Tarakan tanggal 11 Januari 1942 dengan kekuatan 15.000 tentara sehingga wajar dalam tiga hari memenangkan peperangan melawan sekitar 3.000  garnisun Belanda.

         Semua sumur minyak yang ada sempat dibumihanguskan Belanda, sehingga Jepang mulai membangun dari awal industri minyaknya. Itu semua tidak terlepas dari infiltrasi intelijen Jepang yang berhasil menjadi pegawai kasar di pengeboran minyak Belanda setahun sebelum Jepang menyerang Tarakan.

         Jepang berhasil memproduksi  350.000 barel minyak yang menjadi logistik utama kapal perang Jepang menguasai wilayah lain di Indonesia.

          Selama pendudukan itu, kondisi 5.000 penduduk sipil makin menderita karena terbatasnya bahan makanan. Bahkan Jepang juga membawa sekitar 600 romusha Jawa ke Tarakan untuk membangun kembali eksplorasi minyak dan kilang minyak.

         Masa pendudukan Jepang juga tak berlangsung lama karena dia awal tahun 1945 Jepang mulai menderita kekalahan di sejumlah medan pertempuran.

       Pada 1 Mei 1945, sekutu yang terdiri atas Australia, Amerika Serikat dan Belanda  mendarat di Pantai Lingkas yang didahului Batalion ke-2/23 dan Batalion ke-2/48 yang melakukan pendaratan amfibi  sekitar pukul 08.00. Tiada perlawanan yang dihadapi di pantai karena serangan udara secara terus-menerus beberapa hari sebelumnya sehingga semua arteleri Jepang di pesisir dilumpuhkan.

         Pasukan gabungan sekuku berjumlah 12.000 tentara berusaha menguasai pulau yang saat itu hanya dijaga sekitar 2.200 tentara Jepang, namun penguasaan pulau secara keseluruhan memerlukan dua minggu berikutnya karena tentara Jepang menyebar dalam jumlah kecil ke Utara dan Timur, Pulau Tarakan.  
     Pasukan ini membawa tank amfibi untuk pendaratan, arteleri penangkis serangan udara, tank, satuan zeni untuk membangun kembali lapangan udara yang rusak berat. Lapangan Udara Tarakan menjadi jalur penting distribusi logistik sekutu untuk menguasai wilayah lain di Asia Tenggara.

          Jejak-jejak sejarah itulah yang dirangkum pada dua museum yang kini sudah berdiri diapit Gedung Perpustakaan Daerah dan Mesjid Raya Tarakan. Museum yang mempunyai arsitektur mirip Istana Merdeka itu mempunyai luas masing-masing sekitar 500 meter persegi.Juga dilengkapi dengan ruang pemutaran film dokumenter.

                                                                                
  9.000 Koleksi

    Menurut Meiska, Staf Informasi Museum Kembar, ada sekitar 9.000 koleksi benda di Museum Perang Dunia II yang terdiri atas foto, film, peta, peralatan perang, dan alat transportasi pada masa Belanda, Jepang dan Masa Perjuangan  Kemerdekaan.

         "Benda-benda itu merupakan koleksi dari Rumah Bundar, museum yang lama ditambah koleksi baru dari Museum Tropen Belanda dan sumbangan dari keluarga veteran perang di Australia," katanya.

         Salah satu koleksi terbaru adalah baju dari veteran perang pasukan infantri 4/24 Australia yang bernama Kapten Inf Cyril james Gray yang ikut membebaskan Tarakan dari pendudukan Jepang. ┬┐Sumbangan dari anak veteran itu berupa baju dan celana militer, sepatu, tas, topi, serta foto kenangan defile (pawai) pasukan infrantri, katanya.

          Deretan foto yang dipajang memberikan gambaran betapa memilukan dan mengerikannya masa pendudukan Jepang dan proses pembebasan Tarakan dari Jepang. Kekurangan gizi terjadi dimana-mana saat pendudukan Jepana. Sementara ketika pengemboman sekutu, suasana Kota Tarakan dilanda kebakaran hebat tertutama akibat terbakarnya kilang dan sumur minyak.  Jepang juga sudah menyiapkan ranjau di sekitar laut dan meriam di pinggir pantai untuk menghadang tank ampihibi sekutu.

          Pembebasan Tarakan dengan sandi operasi "Oboe One" merupakan operasi gabungan dari berbagai satuan tempur darat, laut dan udara. Namun jumlah korban jiwa juga tidak sedikit karena kegigihan Jepang yang tak begitu saja menyerah.  Walaupun Radio Tokyo mengumumkan bahwa Tarakan telah jatuh pada tanggal 15 Juni,perlawanan terorganisasikan pasukan Jepang masih ada beberapa hari setelah itu.

          Berbagai senjata samurai yang dipajang juga merupakan rampasan sekutu, temuan masyarakat dan sebagian dikirimkan oleh veteran Jepang.  Ada beberapa Samurai ukuran besar yang ditemukan warga terpendam puluhan meter dan ternyata merupakan samurai yang dikhususnya untuk memenggal kepala dari orang yang dianggap musuh saat pendudukan Jepang.

    
Museum Minyak

     Berbeda dengan Museum Perang Dunia II yang koleksinya berasal dari koleksi yang ada sebelumnya, Museum Perminyakan yang letaknya sebelah barat, hanya menampilkan koleksi masa eksplorasi setelah kemerdekaan. Pihak pengelola museum masih belum bisa mendapatkan koleksi peralatan minyak pada masa penjajahan Belanda dan pendudukan Jepang.

        "Kami masih berupaya mendapatkan koleksi foto atau peralatan migas sebelum kemerdekaan. Yang ada  sekarang adalah koleksi sumbangan dari Pertamina dan Medco," katanya.

         Ia mengungkapkan, jumlah koleksi yang ada sekitar 400 koleksi mulai dari foto-foto, peta, peralatan pengeboran, miniatur pengeboran, serta alat komunikasi pada masa awal pegelolaan oleh Pertamina.

         Dari brosur yang ada di museum, dijelaskan bahwa menara pertama minyak dibangun tahun 1904 dan di tahun 1909 produksi minyak Tarakan mencapai 62.614 ton dari 23 unit sumur bor. Puncak produksi minyak terjadi tahun 1927 sampai 1930 dengan angka produksi tertinggi di tahun 1928 sebesar 1.304.303 ton. Produksi tahun 1945-1953 rata-rata mencapai 300.000 ton/tahun.

         Pada tahun 1960, banyak perusahaan menanamkan investasi migas di Tarakan termasuk Pertamina. Menyusul  PT Exspan Kalimantan di tahun 1992 yang kemudian berubah menjadi PT Medco.

         Pertamina EP Tarakan pada tahun 2008 mengambil alih pengelolaan Blok Tarakan yang sebelumnya ditangani operator PT Medco E&P dengan mengeksploitasi 124  sumur tua peninggalan Belanda di area Sembakung dan Tarakan. Saat ini, produksi sumur tua ini masih ekonomis dengan menghasilkan 1.700 barel minyak mentah per hari atau meningkat dibanding saat sumur itu dikelola Medco yang hanya mencapai 526 barel per hari.

          Sebenarnya ada  sumur tua di  1.442 lokasi dan hanya sebagian kecil saja yang masih bisa dieksploitasi.

          Museum Kembar yang belum diresmikan itu merupakan ide dari Walikota Tarakan Sofian Raga untuk mengingatkan warga akan sejarah kotanya, sekaligus mengingatkan warga dunia khususnya Belanda, Jepang, dan Australia bahwa sejarah Negara-negara pernah bersentuhan dengan Pulau Tarakan.

         "Dengan keterikatan sejarah diharapkan banyak pula wisatawan dari negara itu yang ingin mengunjungi Tarakan," kata Sofian Raga.

           Ia juga berjanji akan berusaha menambah koleksi museum dengan menghubungi berbagai pihak terkait di tiga negara itu.

         Sofian beharap,  keberadaan museum itu dapat memberikan informasi dan pembelajaran bahwa  di Pulau Tarakan, pernah terjadi peristiwa pertempuran Perang Dunia II dan sejarah perminyakan.

          "Museum ini menjadi salah satu destinasi wisata sejarah selain situs sejarah lainnya yang masih terjaga di Pulau Tarakan," katanya.

          Masyarakat dan wisatawan masih harus bersabar untuk menyaksikan koleksi yang ada karena  Museum Kembar baru akan diresmikan beberapa bulan ke depan menunggu kelengkapan fasilitas lainnya.
Editor: iskandar zulkarnaen
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar