Gizi Buruk Akibat Peran Ortu

id Gizi buruk

Kepala Dinas Kesehatan Tarakan (Dok)

Tanjung Selor (Antaranews Kalrara) - Kasus kejadian luar biasa (KLB) gizi buruk dan campak di Papua sangat mengejutkan.
Betapa tidak, KLB itu sangat ironis dengan "keistimewaan" Papua sebagaj daerah dengan status Otsus (Otonomi Khusus).

Kondisi itu menyebabkan pemerintah menerjunkan
39 tenaga kesehatan sebagai respons terhadap KLB gizi buruk dan campak.

Namun, salah seorang yang tidak kaget dengan hal itu adalah Ir. Subono Samsudi, MT, Kepala Dinas Kesehatan Tarakan, Kaltara.

"Jangankan Papua, di Kota Tarakan saja kasus gizi buruk ada," ujarnya.

Bedanya jika gizi buruk di Papua diduga akibat keterbatasan asupan makanan bergizi akibat kondisi lemahnya infrastruktur perhubungan serta sektor lain di sana.

Sedangkan di Tarakan, kota terbesar di Kaltara dan pintu gerbang utara Kalimantan karena ada Bandara internasional dan pelabuhan laut kasusnya berbeda.

Kasus "kurang gizi dan gizi kurang", kata dia, kebanyakan akibat ketidaktahuan orang tua dalam memberikan makanan sehat dan bergizi bagi anak.

Cara pengolahan makan yang benar juga bisa merusak kandungan gizi makanan.

"Termasuk karena ketidaktahuan serta alasan sayang anak sehingga apa keinginan mereka diikuti, misalnya anak justru kenyang karena makan snack kemasan, seperti chiki-chiki ketimbang makanan bergizi," ujarnya.

Ya, pola asuh dan sering karena ada penyakit penyerta. Pola asuh terkait kekurang sadaran tentang gizi dari orang tuanya," kata dia.

Oleh sebab itu, ia mengingatkan para orang tua agar memiliki pengerahuan tentang makanan sehat, serta jangan membiarkan mereka makan jajanan di luar, selain tidak sehat kemungkinan mengandung bahan berbahaya seperti boraks dan formalin.

Dari pemerintah telah melakukan berbagai program mulai penyuluhan, layanan kesehatan dan memberi makanan bergizi melalui Posyandu sebagai ujung tombak.

Ia mengungkapkan data kondisi Tarakan pada Januari sampai Desember 2017 tercatat ditemukan 40 balita gizi buruk.

Ada yang meninggal, ada yang sembuh, kemudian ada yang tidak terpantau lagi karena orang tuanya pindah.
Pewarta :
Editor: Iskandar Zulkarnaen
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar