
Merajut Silaturahim Melalui Pers Dan MASwings

Oleh Iskandar Zulkarnaen
Kinabalu, Sabah (ANTARA News Kaltara) "Senyuman adalah bahasa universal yang paling mudah dipahami".
Kali ini, kebenaran ungkapan itu terasa sekali oleh sapaan selamat datang serta senyuman manis pramugari MASwings saat memasuki pesawat jenis ATR 72 milik maskapai Malaysia di Bandara Internasional Juwata Tarakan, Kalimantan Utara tujuan Tawau dan Kinabalu, Sabah.
Senyuman manis dan sapaan ramah itu terasa telah meringankan langkah kaki untuk mulai "bertualang" (memasuki) Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia selama lima hari.
Bagaimanapun, ada sedikit kekhawatiran menghadiri dialog sempadan (perbatasan) atas undangan Ikatan Setia Kawan Wartawan Malaysia Indonesia (Iswami) di Kinabalu, Sabah, pertengahan Oktober 2015.
Ganjalan itu mungkin hanya "beban psikologis" karena meskipun bertetangga dekat, bahkan berasal dari "orangtua yang sama" (satu rumpun) namun fakta selama ini, hubungan Indonesia-Malaysia acap kali menghangat.
Sebut saja, masalah Pulau Sempadan dan Pulau Ligitan di utara Kalimantan yang berakhir di meja hakim Mahkamah Internasional di Den Haag, 2002.
Bukan hanya urusan batas teritorial, masalah sosial dan budaya juga sempat menimbulkan ketegangan, misalnya persoalan hak paten batik.
Ganjalan perasaan sebagai orang asing yang belum tentu diterima baik kian terkikis oleh sambutan ramah tuan rumah diwakili oleh beberapa wartawan Kantor Berita Malaysia Bernama (Pertubuhan Berita Nasional Malaysia).
Pertama disambut oleh Bapak Nashir Mansor, Kepala Biro Bernama Sabah dan fotografernya, Jamain di Bandara kemudian berkenalan juga dengan wartawan senior Bernama, yakni Bapak H. Mohamad Nasir Yusoff (Feature & Special Issues Editor) yang ternyata pernah bertugas di Jakarta selama enam tahun.
Ganjalan psikologis itu pun akhir benar-benar terkikis habis ketika menerima keramahtamahan tuan rumah YBhg Tan Sri Datuk Seri Panglima Dr Rais Yatim, Menteri Penasehat Sosial dan Budaya Kerajaan Malaysia saat jamuan makan malam.
Rais Yatim menuturkan tentang sejarah sehingga bangsa serumpuh harus terpisah oleh batas administratif negara akibat perundingan penjajah Inggris dan Belanda.
Bukan hanya Indonesia dan Malaysia yang dipusingkan oleh masalah sempadan namun juga negara lain. Misalnya, antara Kanada dengan Amerika Serika, masih ada 80 isu yang belum tuntas. Kemudian antara Amerika Serikat dan Meksiko dengan lebih dari 200 isu.
Strategisnya pertemuan itu, menurut Rais Yatim akan bisa menjadi model bagi negara lain bertetangga yang masih ribut mempersoalkan masalah sempadan.
Oleh sebab itu, maka ia sangat berharap agar dialog yang juga melahirkan kesepakatan untuk menandatangani Deklarasi Kota Kinabalu benar-benar bermanfaat bagi hubungan dua negara.
Peran pers
Jika melalui hubungan diplomatik saja sering menemui jalan buntu dalam membahas masalah sempadan atau perbatasan, maka dimana peran media massa ?
Datuk Zulkefli Saleh, General Manager Bernama yang juga ketua Iswami Malaysia dalam acara dialog sempadan itu menjelaskan tentang peran strategis pers dalam menjaga hubungan baik dua negara.
Datuk Zul demikian ia akrab dipanggilmengistilahkan bahwa Indonesia-Malaysia ibarat kembar siam yang punya dua kepala namun satu badan sehingga perlu sebuah keharmonisan di antara mereka.
"Di sini peran media massa sangat strategis untuk menjaga dan meningkatkan rasa persaudaraan bukan justru memanas-manasi suasana akibat perbedaan pendapat terkait masalah sempadan," katanya.
Direktur Utama Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara Saiful Hadi menilai bahwa keterlibatan pers di kawasan perbatasan (Kaltara, Kaltim dan Kalbar) dalam dialog sangat penting bagi menjaga dan meningkatkan hubungan dua negara.
Dengan keterlibatan pers di perbatasan, diharapkan penulisan berita berdasarkan perspektif masyarakat setempat, bukan perspektif Jakarta atau Kuala Lumpur atau negara lain," kata Ketua Iswami Indonesia itu .
Iswami, menurutnya memperjuangkan komunikasi publik yg baik antr rakyat kedua negara. Promosi wisata adalah bagian dari komunikasi publik utk meningkatkan jumlah wisatawan.
Dari berbagai isu kebersamaan yang dianggap terkait sekali dengan kebutuhan dua negara itu adalah potensi pengembangan sektor kepariwisataan seperti disampaikan Datuk Joniston Bangkuai, Pengerusi Lembaga Pelancongan Sabah sebelum jamuan makam malam.
Malaysia menjadikan sektor pariwisata menjadi andalan dalam meraih devisa. Upaya tersebut kurang optimal jika dua negara tidak saling mendukung dalam mengembangkan sektor kepariwisataan.
Khusus Sabah, kawasannya seperti mewakili kecantikan alam Malaysia karena kompilasi kemolekannya dari keanekaragaman hayati hujan hujan tropis dataran tinggi di Gunung Kinabalu sampai "bio-diversity" hutan hujan tropis dataran rendah, hutan bakau di kawasan pesisir serta kehidupan biota laut di Taman Nasional Tunku Abdul Rahman.
Keindahan alam pesisir menyatu dengan bangunan modern, demikian pula sebaliknya keindahan pegunungan menyatu dengan kehidupan damai masyarakat petani di kaki Gunung Kinabalu.
Keindahan dan keharmonisan tersebut tampaknya bisa membius siapapun sehingga jatuh cinta dengan kemolekan Kota Kinabalu.
Hal itu bisa terlihat data terakhir kunjungan wisatawan asing ke Malaysia hampir menyamai jumlah penduduk negeri jiran yang mencapai 35 juta jiwa, yakni 25 juta orang setahun untuk berdarma wisata ke Malaysia.
Bandingkan Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta orang hanya berhasil menggaet delapan juta jiwa.
Lembaga Pelancongan Sabah (Sabah Touris Board) menunjukkan data bahwa angka kunjungan wisata ke Sabah pada periode Januari Juli 2015 mencapai 1.840.447 orang.
Angka terbesar berasal dari wisatawan Malaysia yang berjumlah 1.264.096 wisatawan, sementara wisatawan asal Asia berjummlah 474.641.
Terbang Bersama
Belajar dari sukses Thailand, maka ada tiga faktor menentukan keberhasilan sebuah negara mengembangkan sektor pariwisata, pertama murah, kedua mudah (ketersediaan infrastruktur perhubungan) dan ketiga adalah nyaman (aman) .
Pada perhubungan udara, Malaysia melalui MASwings Sdn, Berhad saat mendukung sekali bagi pengembangan sektor pariwisata itu. MASwings, sebagai maskapai terbesar Malaysia tampaknya sangat mendukung program pemerintah bagi pengembangan pariwisata.
MASwins melihat potensi penumpang sehingga dalam beberapa bulan terakhir sudah melayani Tarakan. Kalimatan Utara-Tawau, Sabah dengan mendatangkan pesawat baru jenis ATR 72 seri 200.
MASwings selain membuka penerbangan ke wilayah Kalimantan Utara juga telah beroperasi untuk wilayah Kalimantan Barat, yakni Pontianak-Kuching, Serawak.
Penerbangan internasional Tarakan -Tawau itu connecting flight dengan penerbangan internasional lainnya sehingga memudahkan para pelancong berpergian kemana saja di Malaysia maupun luar negeri.
Penerbangan dari Tawau-Tarakan untuk sementara ini akan dilakukan tiga kali dalam seminggu, yaitu setiap Senin, Rabu dan Kamis.
Jadi hakikatnya bukan hanya melalui media massa, maka keberadaan penerbangan MASwings tidak terlepas juga dari upaya Pemerintah Malaysia untuk merajut tali silaturahim antara dua bangsa serumpun itu agar bernilai positif bagi semua sektor, termasuk kepariwisataan.
Dalam penerbangan kembali ke tanah air, dari jendela pesawat MASwings masih tampak pesona Sabah saat melihat wajah mistis dan mitis puncak Gunung Kinabalu yang selalu bercadar awan.
Ia seperti menyampaikan sebuah pesan, mari bersama membangun bangsa serumpun ini. Bersama kita duduk bersepakat, bersama kita berdiri untuk bekerja, dan bersama kita terbang untuk meraih masa depan yang terbaik. ***
Pewarta :
Editor:
Iskandar Zulkarnaen
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
