Asa Mualaf Dalam Istiqomah

id mualaf bulungan

Masjid Agung Istiqomah (datiiz)

Tanjung Selor (Antaranews Kaltara) - Beralamat di jalan protokol, Jl Kolonel Sutadji Tanjung Selor Bulungan berdiri megah masjid terbesar di Ibu Kota Kaltara itu.

Masjid Agung Istiqomah bukan hanya megah namun ada sebuah sejarah di balik lahirnya bangunan tersebut.

Masjid ini awalnya, hanya surau di sebuah rawa namun menginginkan agar ada masjid lebih refrensitatif maka, warga sekitarnya, termasuk kaum mualaf bergotong royong mulai memdirikannya awal 1990-an.

Mualafadalah sebutan bagi orang non-muslim yang mempunyai harapan masuk agama Islam atau orang yang baru masuk Islam.

Tidak jauh dari masjid terdapat kampung Mualaf yang mendapat binaan Yayasan Al Hidayah.

Pembangunan cukup lama akibat kebutuhan dana cukup besar, bahkan tadinya direncanakan dua tingkat akhirnya masjid selesai dibangun hanya satu lantai.

Dana dari himpunan jemaah dan bantuan Pemkab Bulungan.

Setelah selesai maka dinamakan Masjid Istiqomah.

Istiqomah secara umum bermakna menempuh jalan (agama) yang lurus (benar) dengan tidak berpaling ke kiri maupun ke kanan.

Istiqomah ini mencakup pelaksanaan semua bentuk ketaatan (kepada Allah) lahir dan batin, dan meninggalkan semua bentuk larangan-Nya.

Makna Istiqomah secara khusus,
Dari Ibnu Abbas R.A: Istiqomah itu memiliki 3 macam arti: Istiqomah dengan lisan (Bertahan terus dalam membaca Syahadat), istiqomah dengan hati (Melakukan segala sesuatu dengan niat dan jujur) dan istiqomah dengan jiwa (Selalu melaksanakan ibadah dan ketaatan kepada Allah secara terus-menerus tanpa terputus).

Istiqomah adalah komitmen yang harus terus terjaga seperti asa nama Masjid Agung tersebut bagi warga Muslim Bulungan dan saudaranya warga Mualaf.









[
Pewarta :
Editor: Iskandar Zulkarnaen
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar