Logo Header Antaranews Kaltara

Bernilai Ekonomi dan Alam Lestari, Kaltara Konsisten Tanam Mangrove

Jumat, 10 April 2026 17:30 WIB
Image Print
Gubernur Kaltara, Zainal A. Paliwang bersama masyarakat dan berbagai pihak melakukan penanaman pohon mangrove di Desa Tepian, Kecamatan Sembakung, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kaltara, Rabu (8/4/2026). (ANTARA/HO-DKISP)

Tanjung Selor (ANTARA) - Memiliki nilai keekonomian, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara) konsisten melibatkan masyarakat dalam melestarikan alam daerah pesisir dengan menanam mangrove.

“Tumbuhnya (mangrove) cukup bagus ya. Pada tahun 2021, waktu itu Bapak Presiden Joko Widodo dengan beberapa duta besar negara sahabat menanam mangrove di Desa Bebatu, Kabupaten Tana Tidung,” ujar Gubernur Kaltara, Zainal A. Paliwang, di Kaltara, Sabtu.

Hal ini disampaikannya saat ditanya perkembangan penanaman mangrove di Kaltara yang sudah beberapa kali penanaman dan telah melibatkan berbagai pihak.

“Kami datang lagi menanam di sebelahnya, kemudian datang lagi kami tanam di sebelahnya, dan itu semuanya dijaga oleh masyarakat, dijaga oleh pemilik tambak. Karena yang kita tanam ini adalah lokasi-lokasi tambak masyarakat,” ungkapnya.

Zainal menegaskan, dengan adanya penanaman mangrove di lokasi pertambakan, hasil petani tambak di Kaltara meningkat. “Hasil yang ada mangrove-nya dengan yang tidak ada mangrove, hasil udangnya itu jauh berbeda,” katanya.

Sebagai wujud konsistensi, lanjutnya, saat ini Pemprov Kaltara juga mendorong pembangunan ekonomi biru lintas negara. Rabu (8/4) lalu, Pemprov Kaltara, Indonesia dan Pemerintah Negeri Sabah, Malaysia, melakukan penanaman mangrove dalam program Tree Planting Activity sebagai bagian dari kerja sama “Cross-Regional Blue Economy Initiative” di Desa Tepian, Kecamatan Sembakung, Kabupaten Nunukan.

“Dua hari lalu kami melakukan penanaman mangrove di Desa Tepian. Kita bekerja sama dengan Sabah untuk menanam mangrove dan memberdayakan masyarakat mengelola potensi ekonomi karbon,” ucapnya.

Zainal menyampaikan bahwa program kerja sama dengan Sabah tidak hanya fokus pada pelestarian lingkungan, tetapi juga pengembangan potensi ekonomi masyarakat.

“Kawasan yang dijadikan percontohan luasnya sekitar 33.000 hektare, terdiri dari mangrove dan gambut. Ini potensi besar untuk kita kembangkan,” jelasnya.

Kawasan tersebut, kata dia, memiliki nilai strategis dalam menyerap karbon sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan pesisir. Ke depan program ini juga diarahkan pada perdagangan karbon sebagai sumber ekonomi baru bagi masyarakat.

“Masyarakat Desa Tepian tak hanya jadi penonton. Tapi punya peran penting dalam pengelolaan dan pengembangan kawasan ini,” katanya.
Baca juga: M4CR Perkuat Sinergi Pemerintah dan Desa dalam Konsolidasi DMPM di Kaltara
Baca juga: Lanskap Mangrove Bulungan Perlu Dikelola Berkelanjutan



Pewarta :
Editor: Susylo Asmalyah
COPYRIGHT © ANTARA 2026