Mendagri: 30 Ton Alat Perbaikan Listrik Pascabencana Tiba di Aceh

id Banjir

Mendagri: 30 Ton Alat Perbaikan Listrik Pascabencana Tiba di Aceh

Pekerja mempersiapkan tower darurat untuk dipasang ke beberapa daerah yang terdampak gangguan listrik pascabanjir di Pangkalan Undara Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Jumat (28/11/2025). ANTARA FOTO/Ampelsa

Banda Aceh (ANTARA) - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyatakan bahwa Perusahaan Listrik Negara (PLN) sudah membawa sekitar 30 ton peralatan untuk perbaikan/pengganti jaringan listrik Aceh yang roboh akibat bencana banjir dan longsor.

"Saya sudah koordinasi dengan Dirut PLN, intinya perlu dibangun tower pengganti, dan kemudian peralatan lebih kurang 30 ton sudah dibawa dari Jakarta ke Banda Aceh," kata Tito Karnavian, di Pidie Jaya, Aceh, Sabtu.

Pernyataan itu disampaikan Tito Karnavian kepada awak media usai melakukan kunjungan dan penyerahan bantuan sandang pangan untuk pengungsi di Gampong Blang Awee dan kompleks perkantoran Bupati Pidie Jaya, Aceh.

Dia menyampaikan, peralatan tower listrik pengganti itu juga sudah ada yang dikirimkan ke lokasi, dan proses ini hanya dilaksanakan dengan satu jalur yaitu udara menggunakan helikopter.

Namun, helikopter tersebut hanya mampu mengangkut enam ton saja, sedangkan totalnya 30 ton, sehingga diperlukan waktu lima hari untuk mengangkut, atau enam ton per hari.

"Lima hari terus tambah dua hari perbaikan jadi diperkirakan tujuh hari, Insya Allah hari Sabtu nanti listrik akan jalan. Kalau listrik jalan komunikasi akan lebih mudah," ujarnya.

Tito menyampaikan, persoalan telekomunikasi ini memang terhambat karena listrik padam. Di Aceh, terdapat dua pembangkit listrik, yakni di wilayah Arun Lhokseumawedan Kabupaten Nagan Raya.

Di Arun, kata dia, hanya ada satu pembangkit untuk wilayah timur Aceh dan Kota Langsa, sehingga di sana tidak ada masalah besar.

Kemudian, pembangkit menuju ke barat itu lampu mati, termasukKabupaten Pidie Jaya, Pidie, Bireuen yang merupakan daerah terdampak banjir.

"Kemudian, yang di Banda Aceh (ibu kota provinsi) sementara di-support hanya dari Nagan Raya, jadi tidak maksimal karena biasanya di-support dari Arun dan Nagan Raya (berbarengan)," demikian Tito Karnavian.

Sebagai informasi, bencana hidrometeorologi baik banjir maupun longsor terjadi sejak 18 November 2025 telahberdampak pada 16 dari 23 kabupaten/kota se-Aceh.

Akibat bencana ini, sebanyak 12 tower Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV roboh akibat angin kencang dan banjir di kawasan Kabupaten Bireuen. Sehingga, sejumlah wilayah masih mengalamipemadaman listrik, dan terganggunya telekomunikasi.
Baca juga: Wapres Gibran Tenangkan Pengungsi Banjir di Denpasar
Baca juga: PT Pertamina EP Sangasanga Field dan Masyarakat Berkolaborasi Cegah Ancaman Banjir

Pewarta :
Editor : Susylo Asmalyah
COPYRIGHT © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.