Gadis berhijab itu pecah rekor dunia

id Karisma Evi Tiarani

Gadis berhijab itu pecah rekor dunia

Atlet para atletik Indonesia Karisma Evi Tiarani usai memecahkan rekor dunia di nomor 100m putri kelas T63 dalam kejuaraan World Para Athletics Championships 2019 yang digelar di Dubai, Uni Emirat Arab, Kamis (14/11/2019) waktu setempat. (ANTARA/REUTERS/Christopher Pike)

Jakarta (ANTARA) - Belum lama ini, nama Indonesia kembali harum di kancah olahraga dunia.

Harumnya nama Indonesia ditorehkan gadis usia 18 tahun, yakniKarisma Evi Tiarani,Atlet para atletik Indonesia.

Karisma Evi Tiarani memecahkan rekor dunia nomor 100m putri kelas T63 dalam ajang World Para Athletics Championships 2019 yang digelar di Dubai, Uni Emirat Arab, Kamis waktu setempat (14/11/2019).

Dikutip dari akun instagram resmi Kemenpora, Karisma berhasil mencatatkan waktu 14,72 detik.

Keberhasilan Karisma itu sekaligus menjadi raihan emas pertama Indonesia dalam ajang yang digelar dari 7-15 November tersebut.

Gadis berhijabitu berhasil menyisihkan delapan finalis pelari senior termasuk dari Italiadan Belgia.

Selain memecahkan rekor dunia, Karisma berhak mendapatkan tiket ke Paralimpik Tokyo 2020.

Catatan waktu Karisma jauh melampaui atlet asal Italia, Monica Graziana Contrafatto, yang berada di posisi kedua dengan catatan waktu 15,56 detik, dan tempat ketiga dihuni Gitte Haenen asal Belgia (15,60 detik).

Sementara di nomor 100m putra kelas T37, pelari Indonesia Saptoyoga Purnomo meraih perunggu dan mencetak rekor tingkat Asia dengan catatan waktu 11,41 detik.

Baca juga:Atlet para-atletik Indonesia disiapkan menuju Paralimpiade 2020

Baca juga:Pemerintah tambah anggaran SEA Games 2019

Baca juga:Menpora kasih "diskon" target perolehan medali

Infografis Karisma Evi Tiarani (Ant)


Lawan Atlet Senior Atlet para atletik Indonesia Karisma Evi Tiaranimengaku tak menyangka bisa meraih medali emas serta memecahkan rekor pada kejuaraan dunia di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA).

Perempuan berusia 18 tahun itu menyelesaikan perlombaan dengan catatan waktu 14,72 detik sekaligus mencetak rekor dunia baru di nomor 100 meter putri kelas T36.

Ia berhasil melampaui atlet asal Italia, Monica Graziana Contrafatto, yang berada di posisi kedua dengan catatan waktu 15,56 detik, dan tempat ketiga dihuni Gitte Haenen asal Belgia (15,60 detik).

Atas torehannya tersebut, Karisma pun berhak mendapatkan tiket ke Paralimpik 2020 Tokyo.

“Tidak menyangka karena saya harus bersaing dengan senior,” kata Karisma saat dihubungi dari Jakarta, Jumat.

Karisma mengakui bahwa dirinya tak mematok bisa meraih medali emas apalagi memecahkan rekor dunia karena ia merasa bahwa pesaingnya merupakan atlet-atlet senior yang jauh lebih berpengalaman dibandingkan dirinya.

“Lawannya luar biasa, karena sebagian besar atlet-atlet senior yang sudah berpengalaman,” ungkapnya.

Sementara itu, sang pelatih Purwo Adi Sanyoto mengungkapkan bahwa tak ada program latihan khusus yang diberikan. Ia dan tim pelatih hanya memberikan program serupa yang dipersiapkan untuk menghadapi ASEAN ParagamesFilipina.

Selain itu, ia juga mengatakan bahwa sebelumnya Karisma telah memecahkan rekor dunia dalam turnamen Handisport Paris Open pada akhir Agustus lalu. Dalam kejuaraan tersebut, Karisma mencetak waktu 14,90 detik.

Baca juga:Evi sempat tak dizinkan jadi atlet

“Sebelum di event bergengsi ini, world record pertamanya sebenarnya di Paris. Kemudian dipecahkan lagi di sini (Dubai) atas namanya sendiri,” tutur Purwo Adi.

Purwo pun tak menyangka dengan perolehan anak asuhnya itu karena bagaimanapun ia tak menyangkal bahwa persaingan di kejuaraan dunia sangat ketat apalagi didominasi oleh atlet elit dunia.

Namun begitu, Purwo dan Karisma tak mau berlarut-larut dalam capaian manis tersebut karena masih ada kejuaraan lain yang harus dihadapi yakni ASEAN Paragames dan Paralimpik 2020 Tokyo.

“Kita sebagai tim pelatih tentunya bangga dengan pencapaian ini. Akan tetapi, ada tujuan lain yang harus segera dihadapi yaitu ASEANParagames dalam waktu dekat ini dan Paralimpik Tokyo,” ujarnya.


Pewarta :
Editor : Iskandar Zulkarnaen
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar