BNPT tingkatkan daya tangkal radikal terorisme di Surakarta

id Bnpt,Surakarra

BNPT tingkatkan daya tangkal radikal terorisme di Surakarta

BNPT tingkatkan Daya tangkal radikal terorisme di Surakarta

Surakarta (ANTARA) - Sebagai bagian dari penanggulangan radikal terorisme yang menyeluruh Kepala BNPT Komjen Pol. Dr. Boy Rafli Amar mengunjungi beberapa Pondok Pesantren dan yayasan di wilayah Surakarta, Jawa Tengah.

Kegiatan-kegiatan ini ditempuh guna mencegah pertumbuhan radikal terorisme di wilayah Surakarta Jawa Tengah.

Dalam kegiatan silaturahmi Kepala BNPT didampingi Deputi Bidang Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi BNPT, Mayjen TNI Hendri Paruhuman Lubis, Direktur Deradikalisasi BNPT, Prof. Dr. Irfan Idris, M.A., Direktur Pencegahan BNPT, Brigjen Pol. R. Ahmad Nurwakhid, S.E., M.M., dan Direktur Perlindungan BNPT, Brigjen Pol. Drs. H. Herwan Chaidir beserta jajaran.

Kunjungan pada Sabtu (29/8) dimulai di Yayasan Gema Salam Surakarta yang di Pimpin mantan narapidana terorisme Bom Bali 1 Joko Tri Harmanto alias Jack Harun.

Yayasan Gema Salam merupakan wadah bagi mantan napiter di Jawa Tengah yang didukung oleh Bapas Surakarta dan Yayasan Prasasti Perdamaian (YPP), serta menjadi mitra peogram Deradikalisasi BNPT.

Dalam kunjungan ini Kepala BNPT beserta jajaran menyempatkan sarapan bersama di warung Soto Bang Jack milik pimpinan yayasan Gema Salam beserta anggota yayasan. Meninjau langsung Yayasan Gema Salam, Kepala BNPT menilai kegiatan-kegiatan dari yayasan bermanfaat di bidang sosial-ekonomi.

Baca juga: BNPT-Ponpes Al-Mukmin Ngruki siap ciptakan tunas bangsa cinta bangsa

Baca juga: BNPT-Universitas Siliwangi Bertekad Jaga Kampus dari Radikalisme


“Kunjungan ini menjadi support dan semangat bagi kami untuk terus menyebarkan perdamaian di Jawa Tengah dan Indonesia,” ujar Jack Harun.


Dalam rangkaian selanjutnya rombongan BNPT disambut hangat oleh jajaran pengurus Pondok Pesantren Al-Quraniy Azzayadiy Surakarta yang berada di bawah asuhan K.H. Abdul Karim.

Pengasuh Ponpes Al-Quraniy Azzayadiy yang akrab dipanggil Gus Karim menjelaskan bagaimana harmoni dan toleransi begitu terasa dalam Pondok Pesantrennya.

Ia menjelaskan bagaimana toleransi antar suku dan agama dapat berjalan harmonis, khususnya pada pembangunan pondok pesantrennya. Hal ini menjadi motivasi baginya untuk menyebarkan Indonesia yang aman dan damai terlebih dengan adanya kunjungan dari BNPT.

“Kami pernah mendapatkan bantuan dari figur non-muslim dan Tionghoa, yang memberikan tanahnya kepada saya untuk dibangun Pondok Pesantren. Mudah-mudahan dengan kehadiran Kepala BNPT memberikan semangat bagi kami untuk ikut ciptakan Indonesia aman dari radikalisme dan terorisme,” ujar Gus Karim.


Dalam kesempatan ini Kepala BNPT menyampaikan harapannya kepada ulama dan yayasan agar dapat terus bekerja sama untuk menguatkan generasi Indonesia dari ideologi yang mengancam persatuan Indonesia.

Kerja sama yang dimaksud merujuk pada upaya untuk memoderasi pemikiran berlebihan yang bermuatan radikalisme intoleran agar masyarakat Indonesia dapat menghidupi nilai-nilai luhur bangsa untuk hidup rukun.

Di akhir rangkaian, rombongan BNPT mengunjungi dan menggelar silaturahmi kebangsaan di Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan Surakarta.
BNPT tingkatkan Daya tangkal radikal terorisme di Surakarta

Kali ini, rombongan BNPT ditemani Anggota Komisi III DPR RI, Eva Yuliana sebagai alumnus santriwati yang telah menempuh 6 tahun pendidikan di Ponpes Al-Muayyad.


Dalam kesempatan ini Kepala menyampaikan perkembangan aktivitas terorisme terkini termasuk WNI yang kini terjebak di pengungsian Suriah karena iming-iming kelompok radikal yang tidak bertanggung jawab.

Baca juga: Potensi radikalisme dan tafsir Pancasila

Keadaan yang sangat disayangkan tersebut agar dapat menjadi pembelajaran bagi ulama dan santri agar tidak terjerat dalam permasalahan yang sama. Komjen Pol Boy Rafli Amar mengingatkan kembali puluhan santri dan jajaran akan kedudukan Pancasila dalam berkehidupan serta pedoman dalam menghadapi radikalisme di dunia maya maupun secara langsung.


“Insan beragama namun melakukan kekerasan atas nama agama ini kontradiktif, perlu diiringi sikap dan semangat menghargai perbedaan dan keberagaman. Kita sebagai bangsa Indonesia memiliki falsafah negara Pancasila dan agama yang mengakomodir dan yang menyeimbangkan di tengah perpecahan.
Pancasila akan menjadi jalan tengah penyeimbang ditengah keberagaman untuk mereduksi radikal intoleran. Itulah Pancasila sebagi standardidasi moral untuk berkehidupan bersama, hidup bermasyarakat yang aman dan damai,” tegas Kepala BNPT.
BNPT tingkatkan Daya tangkal radikal terorisme di Surakarta


Baca juga: Potensi terorisme Kaltara: "dari senyap ke target"

Baca juga: Cegah Radikalisme dengan Bijak Bermedia Sosial

Pewarta :
Editor : Iskandar Zulkarnaen
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar