Swadaya Bangun Dua Jalur Jembatan Buluh Perindu

id buluj perindu

Jembatan BP (datiz)

Tanjung Selor (ANTARA) - Warga Desa Buluh Perindu, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara kembali berinisiatif membenahi infrastruktur jembatan secara swadaya.

Dilaporkan di Tanjung Selor, Minggu warga kembali berswadaya memperlebar jembatan sehingga ada dua jalur penyeberangan.

Patut dipuji sikap gotong royong warga Buluh Perindu terdiri empat RT atau sekitar 100 kepala keluarga (KK) dalam membenahi infrastruktur di desanya.

Warga memanfaatkan dana pungutan Rp2000 sekali melintas untuk sepeda motor, khususnya membeli kayu ulin untuk jembatan.

Sebelumnya, warga berswadaya membangun jembatan kayu ulin guna mengatasi "isolasi" daerahnya yang sangat tergantung pada transportasi sungai --perahu-- itu.

Baca juga: Asa Entas Isolasi Warga Buluh Perindu
Baca juga: Jejak sejarah di Masjid Kasimuddin


Dengan terbangunnya jembatan kayu ulin itu sehingga warga Buluh Perindu ke Tanjung Selor tidak perlu naik perahu namun sudah bisa lewat darat baik jalan kaki atau sepeda motor.

Ternyata keberadaan jembatan itu sangat bersentuhan dengan ekonomi rakyat, bukan sekedar melintas oleh warga sekitarnya.

Keberadaan jembatan juga ternyata banyak digunakan oleh warga Tanjung Palas, Gunung Seriang serta Desa Antutan yang ingin ke Tanjung Selor atau sebaliknya.

Warga yang melintas di jembatan tersebut juga ternyata berbagai profesi baik pegawai atau pedagang kecil, misalnya tukang sayur dan pedagang air mineral.

"Selain untuk kebutuhan transportasi anak-anak sekolah, ternyata keberadaan jembatan menjadi urat nadi perekonomian rakyat," kata Jais, salah satu Ketua RT Desa Buluh Perindu (BP).

Hal itu jadi alasan mereka memperlebar jembatan agar aktifitas warga lebih nyaman dan aman melintasinya.

Jalur jembatan yang sempit menyebabkan beberapa kasus kecelakaan.

Banyak warga memilih melintasi jembatan tersebut karena mempersingkat jarak Tanjung Palas-Tanjung Selor hanya kurang 10 menit.

Selama ini jalan darat Tanjung Palas-Tanjung Selor cukup jauh, yakni hampir 20 kilometer atau sekitar 30 menit jika melalui Jembatan Jelarai.

Selain itu, warga warga enggan melintasi penyeberangan Sungai Kayan dari Tanjung Palas-Tanjung Selor (atau sebaliknya) selain masalah keselamatan juga ongkos Rp10.000 per motor.


Pewarta :
Editor: Iskandar Zulkarnaen
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar