Tren konten radikal di medsos meningkat, masyarakat diminta waspada

id BNPT,FKPT,Radikalisme

Tren konten radikal di medsos meningkat, masyarakat diminta waspada

Kepala Subdirektorat Pemberdayaan Masyarakat BNPT, Andi Intang Dulung (FKPT Center)

Ambon (ANTARA) - Kepala Subdirektorat Pemberdayaan Masyarakat BNPT, Andi Intang Dulung, mengingatkan masyarakat untuk terus meningkatkan kewaspadaan pada saat berselancar di dunia maya.

Tren sebaran konten radikal di media sosial menunjukkan grafik peningkatan.

"Kami peroleh data dari Kominfo, dari tahun 2017 hingga Maret 2019 ada 13.032 konten bermuatan radikal yang ditangani. Itu yang ditemukan, dilaporkan, dan ditangani, yang belum tersentuh masih banyak," kata Andi Intang ketika memberikan sambutan di pembukaan kegiatan 'Ngopi Coi: Ngobrol Pintar Cara Orang Indonesia' di Ambon, Maluku, Kamis (8/10/2020).

Dialog yang bertujuan peningkatan literasi masyarakat tentang bahaya penyalahgunaan internet untuk penyebarluasan ideologi radikal terorisme itu diselenggarakan oleh BNPT dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Maluku.

Baca juga: Devie: Ketepatan kadang tertinggal dengan kecepatan berita

Baca juga: Di "Ngopi Coi", Gubernur Irianto ajak masyarakat perangi hoaks



"Banyaknya konten radikal di media sosial itu menunjukkan memang ada agenda dari jaringan pelaku teror untuk menyebarluaskan ideologinya dengan memanfaatkan internet. Masyarakat harus mewasoadai ini," tambah Andi Intang.

Pembukaan kegiatan 'Ngopi Coi: Ngobrol Pintar Cara Orang Indonesia' di Ambon, Maluku, Kamis (8/10/2020).



Selain konten radikal, dalam sambutannya Andi Intang juga mengungkap tingginya angka ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap internet, tak terkecuali untuk belajar agama.

Hasil survei yang dilaksanakan BNPT menunjukkan skor pencarian informasi seputar agama di internet mencapai 39,89 dari skala penilaian 0 - 100.

"Ini tergolong tinggi dan bahaya, karena tidak semua informasi keagamaan di internet mengajarkan kedamaian. Ada oknum-oknum yang dengan kedok dakwah justeru menyebarluaskan ujaran kebencian dan permusuhan," jelas Andi Intang.

Baca juga: Potensi radikalisme dan tafsir Pancasila

Baca juga: BNPT: tak mungkin ubah Pancasila

Baca juga: Potensi terorisme Kaltara: "dari senyap ke target"



Lewat kegiatan ini, aparatur kelurahan dan desa yang terdiri dari kepala desa, lurah, Bhabinkamtibmas, Babinsa, serta staf humas dan awak media, diminta bisa menjadi motor penggerak kewasoadaan masyarakat saat menggunakan media sosial. "Cara waspadanya bagaimana? Termudah adalah dengan bertindak bijak. Budayakan cek ricek informasi dan saring sebelum _sharing_ ulang informasi yang kita terima," tandasnya.
Pembukaan kegiatan 'Ngopi Coi: Ngobrol Pintar Cara Orang Indonesia' di Ambon, Maluku, Kamis (8/10/2020).


Sementara Ketua Bidang Media Massa, Hukum, dan Humas FKPT Maluku, Mochtar Touwe, pada kesempatan yang sama mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat dalam bermedia sosial.

"Tips lain agar kita tidak terjebak pada sebaran hoaks adalah berhenti di kita saat menerima informasi, kecuali informasi itu sudah kita pastikan kebenarannya dan ada manfaat bagi masyarakat luas saat kita bagikan ulang," pungkas Mochtar.
Pewarta :
Editor : Iskandar Zulkarnaen
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar