Kala Slamet Rahardjo Bicara Soal Kebudayaan Kaltara

id ,

Kala Slamet Rahardjo Bicara Soal Kebudayaan Kaltara

DIALOG KEBUDAYAAN : Slamet Rahardjo didampingi Asisten I Setprov Kaltara Sanusi berfoto bersama peserta dialog kebudayaan Biro Pengelolaan Perbatasan Negara Setprov Kaltara di Ruang Pertemuan Hotel Pangeran Khar, Kamis (28/9). (dok humas)

Sejarawansekaligus aktor senior Indonesia Slamet Rahardjo merasa terhormat bisamenginjakkan kakinya di Kalimantan Utara (Kaltara). Ia didaulat menjadi salahsatu narasumber kegiatan dialog kebudayaan Biro Pengelolaan Perbatasan NegaraSetprov Kaltara. Apa saja pesannya untuk Bumi Benuanta-sebutan ProvinsiKaltara?

AYUPRAMESWARI, Humas Provinsi Kaltara

Kurang lebih 1 jam lamanya, Slamet Rahardjo memberikan materi kebudayaan dihadapanpeserta yang datang dari lembaga atau kerukunan adat Nunukan, Malinau, danBulungan, sejumlah camat perbatasan, pelaku pengelola kebudayaan, Kepala Bagian(Kabag) Pengelolaan Perbatasan dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata(Disbudpar) Malinau, Kabag Pengelolaan Perbatasan dan Kebudayaan Nunukan danperwakilan mahasiswa Universitas Kaltara (Unikal).

MenurutSlamet, berbagai permasalahan di perbatasan dapat diatasi oleh masyarakatKaltara sendiri tanpa bantuan masyarakat daerah lainnya. Dengan catatan,berbagai permasalahan dipecahkan melalui pendekatan sosial budaya. Salah satulangkah kongkretnya ialah mengutamakan musyawarah termasuk terus menjaga budayagotong royong.

Iameyakini warga Kaltara memiliki kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang cukupbaik, yang mengedepankan penerapan nilai-nilai sosial budaya. "WargaKaltara harus yakin akan potensi dirinya sendiri. Seperti yang dilakukan olehmasyarakat Banyuwangi (Jawa Timur), Jember (Jawa Timur) juga Bangka Belitung(Kepulauan Bangka Belitung)," sebutnya.

Kaltaraharus berbangga karena dengan adanya statemen politik Presiden Joko Widodo yangmenyatakan bahwa Kaltara adalah beranda terdepan negara Indonesia. Olehkarenanya Kaltara harus menunjukkan 'keperkasaannya' melalui doronganpemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat. Lanjutnya, wilayah-wilayahperbatasan di Kaltara masih sangat bergantung dengan negara sebelah, hal itulahyang menyebabkan terjadinya ketimpangan ekonomi, sosial dan budaya. Jika hal iniberlangsung terus menerus maka daerah perbatasan Kaltara akan kehilanganeksistensinya.

Akantetapi, di lain sisi ketergantungan kepada negara tetangga dipengaruhi karenakondisi rill saat ini, utamanya infrastruktur. Persoalan lain, kata Slamet dibidang politik hukum dan keamanan seperti perdagangan manusia, perdaganganilegal, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ilegal dan jalur peredaran narkoba akanberdampak pada disintegrasi bangsa. "Hal-hal seperti ini yang bisamengancam berkurangnya wilayah NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) diperbatasan khususnya," katanya.

Permasalahan-permasalahantersebut perlu solusi yang baik salah satunya dengan menyandingkan pembangunaninfarstruktur, hukum dan keamanan dengan kondisi sosial budaya masyarakat."Pembangunan aspek sosial budaya itu adalah bagian penting daripembangunan, jadi jangan sampai pembangunan dilakukan tanpa dibarengi dengannilai budaya. Budaya harus tetap dipertahankan agar tidak luntur karenapemabngunan," ujarnya.

Sebagai provinsi baru, Slamet juga mengharapkanagar anak-anak muda turut berkontribusi dalam pembangunan sosial dankebudayaan. Artinya anak muda harus berperan aktif melestarikan nilai-nilailuhur adat istiadat agar tak luntur ditelan zaman.