Kaltara, Tuan Rumah Pertemuan Tingkat Menteri BIMP-EAGA ke-21

id ,

PERSIAPAN : Asdep VII Menko Perekonomian Netty Muharni kala memimpin rapat persiapan Pertemuan Tingkat Menteri BIMP-EAGA ke-21 di Ruang Rapat Lantai 2 Kantor Gubernur Kaltara, Senin (6/11). (dok humas)

Tanjung Selor (Antara News Kaltara) - Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara),
dipercaya menjadi tuan rumah perhelatan internasional oleh Pemerintah
Indonesia. Adalah, 21th Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia-Philippines (BIMP)
East ASEAN Growth Area (EAGA) Ministerial Meeting atau Pertemuan Tingkat
Menteri BIMP-EAGA ke-21 yang rencananya digelar di Kota Tarakan pada 30
November hingga 3 Desember 2017.

Dalam pertemuan ini, akan hadir Menteri Koordinator (Menko) Bidang
Perekonomian sebagai delegasi Indonesia. Lalu, Datuk Seri Abdul Rahman Dahlan,
Menteri di Jabatan Perdana Menteri (Malaysia); Pehin Lim Jock Seng, Menteri
Luar Negeri (Brunei Darussalam); Datu Hj Abdul Khayr Dangcal Alonto, Sekretaris
Minda (Filipina); Ramesh Subramaniam, Direktur Jenderal (Dirjen) Asian
Development Bank (ADB); dan Le Luong Minh, Sekretaris Jenderal (Sekjen) ASEAN
Secretariat.

Selain itu, dijadwalkan hadir pula Gubernur dari setiap wilayah BIMP-EAGA,
pejabat senior dari BIMP-EAGA, Sekretariat Nasional dari BIMP-EAGA, BIMP-FC,
para pengusaha yang tergabung dalam BEBC, dan delegasi lainnya seperti
akademisi, kementerian atau lembaga serta pemerintah daerah.

"Fokus pembahasan dalam pertemuan internasional ini, salah satunya
adalah bagaimana komitmen 4 negara didalam BIMP-EAGA itu membangun wilayah
perbatasannya. Dengan kata lain, bagaimana daerah yang secara geografis jauh
dari ibukota negara, terbangun dengan layak dan merata dalam segala bidang
kehidupan. Dan, komitmen itu, tak hanya diwujudkan dalam sebuah kertas
perjanjian, tapi kerja nyata dari setiap negara," kata Asisten Deputi
(Asdep) VII Menko Perekonomian Netty Muharni, Senin (6/11).

Tak hanya di bidang pembangunan infrastruktur dan ekonomi, pemerataan di
wilayah perbatasan juga harus diwujudkan dalam hal pertahanan dan keamanan.
Seperti, pengawasan dan penindakan tegas terhadap upaya pemasukan barang ilegal
dari tiap negara, dan lainnya. "Di sisi lain, event ini juga peluang bagi
Kaltara untuk mempromosikan potensi investasinya. Dan, dari sisi ekonomi
kerakyatan, event ini, secara langsung akan meningkatkan geliat perekonomian
masyarakat di wilayah Kaltara, khususnya Kota Tarakan," urai Netty.

Dari segi kesiapan sendiri, diakui Netty, Kaltara sebagai provinsi baru
pastinya memiliki kekurangan dalam berbagai hal. "Kita akan berusaha
semaksimal mungkin untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada setiap
delegasi yang hadir nanti. Bekerjasama dengan pihak Pemprov (Pemerintah
Provinsi) Kaltara, Pemkot (Pemerintah Kota) Tarakan dan pihak terkait lainnya,
segala kekurangan yang ada akan coba diatasi," ungkap Netty. Pertemuan internasional ini, bakal digelar di dua tempat. Yakni,
Swiss-Belhotel Tarakan dan Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Kaltara.
Sementara untuk penginapan delegasi, selain Swiss-Belhotel juga akan digunakan
4 hotel lainnya di Tarakan. Jumlah delegasi yang bakal hadir di Tarakan nanti,
diperkirakan mencapai 200 orang lebih.
Editor: Firsta Susan Ferdiany
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar