Gubernur Ajak Masyarakat Kaltara Kendalikan Sampah Plastik

id Himbauan,Kendalikan , sampah, plastik

PEDULI LINGKUNGAN : Gubernur Kaltara Dr H Irianto Lambrie bersama perwakilan penerima peringkat kinerja perusahaan IUP HHK-HA/HPH, HT/HTI dan Perkebunan Dalam Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Tahun 2017-2018, Rabu (4/7) malam. (humasprovkaltara)

Seluruh komponen masyarakat, termasuk pemerintah, legislatif dan pihak perusahaan yang beroperasi di wilayah Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) diharapkan untuk bekerja sama mengatasi permasalahan kerusakan lingkungan hidup, dan dampak yang telah ditimbulkan. Termasuk juga persoalan perubahan iklim dan pemanasan global.

Hal ini disampaikan Gubernur Kaltara Dr H Irianto Lambrie saat menghadiri acara malam ramah tamah peringatan Hari Lingkungan Hidup, serta penyerahan penghargaan di Bidang Lingkungan Hidup di Ruang Pertemuan Gedung Gabungan Dinas (Gadis) Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara, Rabu (4/7) malam.

Gubernur juga meminta setiap kepala daerah dan jajaran pemerintah di Kaltara untuk menseriusi penanganan sampah plastik. "Pemerintah Kota Balikpapan mulai besok (hari ini, Red.), menerapkan program 'tak ada lagi sampah plastik'. Saya harapkan Pemerintah Kota Tarakan bisa terapkan hal ini. Sampah plastik sangat berbahaya, karena tak bisa terurai, juga bisa menyebabkan kanker dan penyakit yang sulit diobati," papar Irianto.

Penegasan tersebut merupakan salah satu implementasi dari tema Hari Lingkungan Hidup se Dunia tahun ini, yakni 'Kendalikan Sampah Plastik'. "Saya meminta jajaran Pemprov untuk melakukan pengendalian, pengawasan, pembinaan dan dukungan kepada pemerintah kabupaten dan kota dalam upaya pengendalian sampah plastik," tutur Gubernur

Lebih lanjut Irianto mengatakan, masalah utama dunia saat ini, adalah kerusakan lingkungan hidup yang masih terus dihadapi. Persoalan itu, kata Gubernur, salah satu penyebabnya, adalah pertumbuhan penduduk yang tak terkendali. "Dalam keadaan situasi tertentu, hal itu menyebabkan lingkungan makin rusak, pencemaran makin tinggi," kata Irianto.

Efek samping dari rusaknya lingkungan, adalah munculnya beragam penyakit baru. "Itu sebabnya, PBB mengajak seluruh negara di dunia untuk melakukan upaya nyata dan menetapkan Hari Lingkungan Hidup se Dunia yang diperingati setiap 5 Juli. Kenapa ini perlu diperingati? Karena masalah lingkungan bisa menyebabkan kepunahan bumi dan manusia. Karena itu, perlu komitmen bersama untuk mengatasinya," papar Gubernur.

Kerusakan lingkungan juga melecut terjadinya perubahan iklim. "Kecelakaan transportasi laut, udara dan darat di Kaltara, salah satu penyebabnya adalah perubahan iklim. Untuk itu, setiap kepala daerah penting memahami lingkungan yang ada. Termasuk, mengikuti kursus AMDAL," ungkap Gubernur.

Tak terlepas dari itu, warga Kaltara tetap harus bersyukur dapat hidup di sebuah provinsi yang relatif lebih baik kualitas lingkungannya daripada daerah lainnya. "Lingkungan juga tak hanya dipahami dari cakupan lingkungan biologi, geologi, fisika, dan kimianya. Tapi, juga lingkungan sosial budaya. Masalah utamanya, adalah perubahan tata nilai sosial," urai Irianto.

Intinya, kata Gubernur, lingkungan terancam karena perilaku, kebijakan dan keserakahan manusia. "Allah SAW ciptakan bumi dan jagat raya dengan hukum keseimbangan. Bila diganggu maka yang terima sanksi adalah semua mahluk yang ada didalamnya. Ini juga sudah diingatkan dalam surah Ar Rum, dan bila kita baca teori jagat raya, kiamat ditentukan dari besarnya kerusakan itu. Dari itu, pemerintah dan pihak terkait jangan berdiam diri. Kalau berdiam diri, maka generasi depan akan ikut tenggelam dalam hal menyakitkan dan penderitaan yang panjang," beber Gubernur mengakhiri.

Pewarta :
Editor: Firsta Susan Ferdiany
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar